Seputar Kaltim

    Duta Besar Australia Tinjau Program Inklusi Difabel di Balikpapan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    25 April 2026 pukul 07:33 WITA

    Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier saat melihat langsung hasil kerajinan yang dihasilkan dari teman-teman difabel di Kelurahan Telagasari, Balikpapan Kota. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, mengunjungi Kelurahan Telagasari, Balikpapan Kota, Jumat (24/4/2026), untuk meninjau langsung perkembangan program inklusi bagi penyandang disabilitas.

    Dalam kunjungannya, ia menyampaikan apresiasi kepada organisasi lokal yang selama ini berperan aktif mendukung masyarakat difabel, yakni Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB)dan Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI). 

    Ia menilai kolaborasi antara kedua organisasi tersebut dengan Pemerintah Australia telah memberikan dampak nyata di Balikpapan.

    “Saya mengucapkan terima kasih kepada SIGAB dan PPDI yang telah bekerja sama erat dengan Pemerintah Australia dalam mendukung masyarakat difabel di Balikpapan. Dampak programnya sangat nyata dan positif, dan kami bangga bisa bermitra dengan mereka,” ucap Rob.

    Menurutnya, salah satu hasil konkret dari program tersebut adalah peningkatan aksesibilitas fasilitas publik. Ia mencontohkan perbaikan di gedung kelurahan yang kini lebih ramah bagi penyandang disabilitas, sehingga memudahkan mereka mengakses layanan pemerintah.

    “Keberlanjutan program ini sangat mengesankan. Perubahan yang dilakukan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat difabel, khususnya dalam mengakses layanan publik,” tambahnya.

    Rob juga menjelaskan bahwa dukungan Pemerintah Australia tidak hanya berupa pendanaan, tetapi juga bantuan teknis untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil dalam mengembangkan program inklusi.

    Terkait tantangan pelaksanaan program, ia mengaku tidak menghadapi kendala berarti. Hal tersebut, menurutnya, tidak lepas dari peran SIGAP dan PDDI yang dinilai mampu menjembatani berbagai kebutuhan di lapangan.

    “Kami sangat bergantung pada mitra lokal seperti SIGAB dan PPDI. Mereka membantu mengatasi berbagai tantangan dan memastikan program berjalan dengan baik,” jelasnya.

    Ia berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mewujudkan kota yang inklusif bagi semua lapisan masyarakat.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Duta Besar Australia Tinjau Program Inklusi Difabel di Balikpapan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    25 April 2026 pukul 07:33 WITA

    Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier saat melihat langsung hasil kerajinan yang dihasilkan dari teman-teman difabel di Kelurahan Telagasari, Balikpapan Kota. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, mengunjungi Kelurahan Telagasari, Balikpapan Kota, Jumat (24/4/2026), untuk meninjau langsung perkembangan program inklusi bagi penyandang disabilitas.

    Dalam kunjungannya, ia menyampaikan apresiasi kepada organisasi lokal yang selama ini berperan aktif mendukung masyarakat difabel, yakni Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB)dan Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI). 

    Ia menilai kolaborasi antara kedua organisasi tersebut dengan Pemerintah Australia telah memberikan dampak nyata di Balikpapan.

    “Saya mengucapkan terima kasih kepada SIGAB dan PPDI yang telah bekerja sama erat dengan Pemerintah Australia dalam mendukung masyarakat difabel di Balikpapan. Dampak programnya sangat nyata dan positif, dan kami bangga bisa bermitra dengan mereka,” ucap Rob.

    Menurutnya, salah satu hasil konkret dari program tersebut adalah peningkatan aksesibilitas fasilitas publik. Ia mencontohkan perbaikan di gedung kelurahan yang kini lebih ramah bagi penyandang disabilitas, sehingga memudahkan mereka mengakses layanan pemerintah.

    “Keberlanjutan program ini sangat mengesankan. Perubahan yang dilakukan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat difabel, khususnya dalam mengakses layanan publik,” tambahnya.

    Rob juga menjelaskan bahwa dukungan Pemerintah Australia tidak hanya berupa pendanaan, tetapi juga bantuan teknis untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil dalam mengembangkan program inklusi.

    Terkait tantangan pelaksanaan program, ia mengaku tidak menghadapi kendala berarti. Hal tersebut, menurutnya, tidak lepas dari peran SIGAP dan PDDI yang dinilai mampu menjembatani berbagai kebutuhan di lapangan.

    “Kami sangat bergantung pada mitra lokal seperti SIGAB dan PPDI. Mereka membantu mengatasi berbagai tantangan dan memastikan program berjalan dengan baik,” jelasnya.

    Ia berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mewujudkan kota yang inklusif bagi semua lapisan masyarakat.

    (Sf/Rs)