Seputar Kaltim

    Dua Karhutla Terjadi Sehari di Sangatta Utara, Lahan Kering Mulai Mengkhawatirkan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    20 Agustus 2026 pukul 19:50 WITA

    Kebakaran melanda salah satu lahan di kawasan Sangatta Utara, Kutai Timur, (Foto: BPBD Kutim)

    Sangatta – Dua kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), dalam satu hari, Kamis (20/8/2026). Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar.

    Kebakaran pertama terjadi di belakang SMAN 2, Desa Singa Gembara. Laporan diterima sekitar pukul 13.30 Wita dengan luasan lahan terbakar diperkirakan mencapai satu hektare.

    Tim gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (PMK) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim langsung menuju lokasi.

    Sembilan personel dikerahkan, terdiri atas empat personel PMK dan lima personel BPBD. Masing-masing instansi juga menurunkan satu unit kendaraan.

    Setelah sekitar satu jam penanganan, api di lokasi pertama berhasil dikendalikan pada pukul 14.30 Wita.

    Belum selesai penanganan di wilayah tersebut, laporan kebakaran kembali muncul dari kawasan Kenyamukan. Petugas kemudian bergerak melakukan pemadaman di titik kedua.

    Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, mengatakan kondisi lahan yang mengering membuat potensi kebakaran semakin tinggi.

    “Sekarang tidak ada hujan, kemarau panjang, jadi semua lahan kering. Sedikit pemicu saja akan mudah terbakar,” ujar Naim. 

    Ia mengatakan, dari kondisi di lokasi, belum terlihat tanda-tanda yang mengarah pada penyebab alami. Ia menyebut kelalaian manusia menjadi salah satu kemungkinan.

    “Kalau dilihat dari lokasi, tidak ada tanda-tanda yang mengarah akibat faktor alam. Bisa jadi karena puntung rokok atau kelalaian manusia,” katanya.

    Untuk itu, masyarakat diminta berhati-hati saat melakukan aktivitas di lahan terbuka. Puntung rokok maupun kegiatan yang menggunakan api tanpa pengawasan dapat menjadi pemicu kebakaran ketika kondisi vegetasi kering.

    Naim juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap anak-anak. Ia mencontohkan kebakaran lahan yang sebelumnya terjadi di Sangatta Selatan dan diduga berkaitan dengan aktivitas membakar sarang tawon.

    “Seperti halnya beberapa waktu lalu di Sangatta Selatan, terjadi kebakaran lahan karena kelalaian anak-anak yang membakar sarang tawon dan apinya terjatuh,” jelasnya.

    Dua titik karhutla dalam sehari menjadi perhatian karena kondisi lahan saat ini relatif kering. BPBD meminta masyarakat segera melaporkan jika menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Dua Karhutla Terjadi Sehari di Sangatta Utara, Lahan Kering Mulai Mengkhawatirkan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    20 Agustus 2026 pukul 19:50 WITA

    Kebakaran melanda salah satu lahan di kawasan Sangatta Utara, Kutai Timur, (Foto: BPBD Kutim)

    Sangatta – Dua kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), dalam satu hari, Kamis (20/8/2026). Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar.

    Kebakaran pertama terjadi di belakang SMAN 2, Desa Singa Gembara. Laporan diterima sekitar pukul 13.30 Wita dengan luasan lahan terbakar diperkirakan mencapai satu hektare.

    Tim gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (PMK) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim langsung menuju lokasi.

    Sembilan personel dikerahkan, terdiri atas empat personel PMK dan lima personel BPBD. Masing-masing instansi juga menurunkan satu unit kendaraan.

    Setelah sekitar satu jam penanganan, api di lokasi pertama berhasil dikendalikan pada pukul 14.30 Wita.

    Belum selesai penanganan di wilayah tersebut, laporan kebakaran kembali muncul dari kawasan Kenyamukan. Petugas kemudian bergerak melakukan pemadaman di titik kedua.

    Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, mengatakan kondisi lahan yang mengering membuat potensi kebakaran semakin tinggi.

    “Sekarang tidak ada hujan, kemarau panjang, jadi semua lahan kering. Sedikit pemicu saja akan mudah terbakar,” ujar Naim. 

    Ia mengatakan, dari kondisi di lokasi, belum terlihat tanda-tanda yang mengarah pada penyebab alami. Ia menyebut kelalaian manusia menjadi salah satu kemungkinan.

    “Kalau dilihat dari lokasi, tidak ada tanda-tanda yang mengarah akibat faktor alam. Bisa jadi karena puntung rokok atau kelalaian manusia,” katanya.

    Untuk itu, masyarakat diminta berhati-hati saat melakukan aktivitas di lahan terbuka. Puntung rokok maupun kegiatan yang menggunakan api tanpa pengawasan dapat menjadi pemicu kebakaran ketika kondisi vegetasi kering.

    Naim juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap anak-anak. Ia mencontohkan kebakaran lahan yang sebelumnya terjadi di Sangatta Selatan dan diduga berkaitan dengan aktivitas membakar sarang tawon.

    “Seperti halnya beberapa waktu lalu di Sangatta Selatan, terjadi kebakaran lahan karena kelalaian anak-anak yang membakar sarang tawon dan apinya terjatuh,” jelasnya.

    Dua titik karhutla dalam sehari menjadi perhatian karena kondisi lahan saat ini relatif kering. BPBD meminta masyarakat segera melaporkan jika menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas.

    (Sf/Rs)