Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur, Dessy Wahyu Fitrisia.(foto:Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Banjir yang kerap melanda wilayah Kutai Timur, khususnya daerah persawahan di Sangatta Selatan dan Bengalon, terus menjadi kendala serius bagi para petani.
Banjir yang terjadi secara berulang, bahkan hingga empat kali dalam setengah tahun terakhir, membuat proses tanam dan panen terganggu. Banyak tanaman yang mengalami kegagalan dan kerusakan.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur, Dessy Wahyu Fitrisia, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi para petani yang harus berulang kali melakukan penyemaian akibat banjir.
"Kami juga sangat merasakan kesulitan para petani. Setiap kali semai, banjir selalu terulang. Kondisi ini sangat memprihatinkan, apalagi banjir tahun ini terasa cukup luar biasa," ujar Dessy.
Sebagai bentuk dukungan, DTPHP memberikan bantuan benih kepada petani agar mereka bisa terus menanam meskipun banjir sering terjadi.
"Kalau sudah banjir dan tanaman gagal, kami bantu dengan benih baru supaya petani bisa tanam lagi," tambahnya.
Untuk solusi jangka panjang, Dinas Pertanian tengah melakukan pemetaan daerah rawan banjir serta berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) guna merancang jaringan irigasi yang efektif.
Harapannya, sistem jaringan irigasi ini dapat mencegah banjir masuk ke area persawahan, misalnya dengan pemasangan pintu air yang bisa dikendalikan saat curah hujan tinggi.
"Ke depannya, kami akan memetakan jaringan irigasi, khususnya di Bengalon dan Sangatta Selatan. Kami telah membuat peta Sistem Informasi Daerah (SID) sebagai bagian dari kerja sama untuk penanggulangan banjir agar tidak terus-menerus terjadi," jelasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur, Dessy Wahyu Fitrisia.(foto:Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Banjir yang kerap melanda wilayah Kutai Timur, khususnya daerah persawahan di Sangatta Selatan dan Bengalon, terus menjadi kendala serius bagi para petani.
Banjir yang terjadi secara berulang, bahkan hingga empat kali dalam setengah tahun terakhir, membuat proses tanam dan panen terganggu. Banyak tanaman yang mengalami kegagalan dan kerusakan.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur, Dessy Wahyu Fitrisia, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi para petani yang harus berulang kali melakukan penyemaian akibat banjir.
"Kami juga sangat merasakan kesulitan para petani. Setiap kali semai, banjir selalu terulang. Kondisi ini sangat memprihatinkan, apalagi banjir tahun ini terasa cukup luar biasa," ujar Dessy.
Sebagai bentuk dukungan, DTPHP memberikan bantuan benih kepada petani agar mereka bisa terus menanam meskipun banjir sering terjadi.
"Kalau sudah banjir dan tanaman gagal, kami bantu dengan benih baru supaya petani bisa tanam lagi," tambahnya.
Untuk solusi jangka panjang, Dinas Pertanian tengah melakukan pemetaan daerah rawan banjir serta berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) guna merancang jaringan irigasi yang efektif.
Harapannya, sistem jaringan irigasi ini dapat mencegah banjir masuk ke area persawahan, misalnya dengan pemasangan pintu air yang bisa dikendalikan saat curah hujan tinggi.
"Ke depannya, kami akan memetakan jaringan irigasi, khususnya di Bengalon dan Sangatta Selatan. Kami telah membuat peta Sistem Informasi Daerah (SID) sebagai bagian dari kerja sama untuk penanggulangan banjir agar tidak terus-menerus terjadi," jelasnya.
(Sf/Rs)