Cari disini...
Seputar Kaltim
Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - DPRD Kutai Timur (Kutim) melakukan lobi ke sejumlah perusahaan untuk mendukung pembangunan asrama permanen bagi mahasiswa asal Kutim yang menempuh pendidikan di luar daerah melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Ketua DPRD Kutim, Jimmi menyampaikan pembangunan asrama mahasiswa merupakan harapan lama yang hingga kini belum terwujud. Menurutnya sejumlah kendala administratif menjadi faktor utama yang menghambat realisasi pembangunan tersebut.
“Kita memang sudah lama memiliki cita-cita untuk membangun asrama mahasiswa Kutim. Namun selama ini terbentur persoalan aset dan mekanisme penganggaran melalui APBD yang cukup rumit,” ujar Jimmi.
Untuk mencari jalan keluar, pihaknya kini melakukan komunikasi dan lobi dengan sejumlah pihak, termasuk perusahaan yang beroperasi di wilayah Kutim.
Salah satu perusahaan yang tengah dilobi adalah PT Kaltim Prima Coal (KPC). Perusahaan tersebut dinilai memiliki potensi untuk berkontribusi dalam pembangunan asrama mahasiswa melalui dana CSR.
“Kemarin kami mencoba melakukan lobi ke KPC agar pembangunan asrama bisa menggunakan dana CSR. Mudah-mudahan ini bisa terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama, karena sumber pendanaan yang paling realistis mungkin di situ,” jelasnya.
Ia berharap adanya dukungan dari berbagai pihak agar pembangunan asrama mahasiswa Kutim dapat segera direalisasikan, sehingga mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar daerah memiliki tempat tinggal yang lebih layak.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - DPRD Kutai Timur (Kutim) melakukan lobi ke sejumlah perusahaan untuk mendukung pembangunan asrama permanen bagi mahasiswa asal Kutim yang menempuh pendidikan di luar daerah melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Ketua DPRD Kutim, Jimmi menyampaikan pembangunan asrama mahasiswa merupakan harapan lama yang hingga kini belum terwujud. Menurutnya sejumlah kendala administratif menjadi faktor utama yang menghambat realisasi pembangunan tersebut.
“Kita memang sudah lama memiliki cita-cita untuk membangun asrama mahasiswa Kutim. Namun selama ini terbentur persoalan aset dan mekanisme penganggaran melalui APBD yang cukup rumit,” ujar Jimmi.
Untuk mencari jalan keluar, pihaknya kini melakukan komunikasi dan lobi dengan sejumlah pihak, termasuk perusahaan yang beroperasi di wilayah Kutim.
Salah satu perusahaan yang tengah dilobi adalah PT Kaltim Prima Coal (KPC). Perusahaan tersebut dinilai memiliki potensi untuk berkontribusi dalam pembangunan asrama mahasiswa melalui dana CSR.
“Kemarin kami mencoba melakukan lobi ke KPC agar pembangunan asrama bisa menggunakan dana CSR. Mudah-mudahan ini bisa terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama, karena sumber pendanaan yang paling realistis mungkin di situ,” jelasnya.
Ia berharap adanya dukungan dari berbagai pihak agar pembangunan asrama mahasiswa Kutim dapat segera direalisasikan, sehingga mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar daerah memiliki tempat tinggal yang lebih layak.
(Sf/Lo)