Cari disini...
Seputar Kaltim
Kegiatan Bimtek Relawan SAPA Kampung Ramah Perempuan dan Peduli Anak, di Kantor DPPKBP3A Berau, Sabtu (20/12/2025). (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Relawan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) Kampung Ramah Perempuan dan Peduli Anak, di Kantor DPPKBP3A Berau, Sabtu (20/12/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya DPPKBP3A Berau dalam mendorong terwujudnya kampung ramah perempuan dan peduli anak melalui penguatan peran relawan di tingkat kampung.
Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiyah melalui Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Mardia, mengatakan bimtek tersebut merupakan tindak lanjut dari peluncuran 25 kampung dan satu kelurahan yang sebelumnya telah dideklarasikan sebagai Kampung Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA/KRPPA).
"Pada saat launching, tidak semua kampung dapat mengikuti bimtek. Oleh karena itu pembinaan kami lanjutkan, baik dengan turun langsung ke kampung maupun mengundang perwakilan kampung ke tingkat kabupaten," ujar Mardia.
Pada pelaksanaan bimtek kali ini pun DPPKBP3A Berau mengundang perwakilan dari tiga kecamatan wilayah pesisir, yakni Kecamatan Biatan, Kecamatan Batu Putih, serta satu kelurahan dengan jumlah peserta sebanyak 38 orang.
Dirinya menekankan keberadaan relawan SAPA menjadi faktor penting dalam mewujudkan KRPPA. Ia pun menyampaikan peran relawan SAPA mencakup pencegahan dan penanganan kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, serta pencegahan praktik perkawinan anak.
"Relawan SAPA diharapkan menjadi penggerak di kampung, mulai dari upaya pencegahan hingga pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak," jelasnya.
Selain itu, bimtek ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mendukung pencapaian Kabupaten Layak Anak (KLA) serta memperluas implementasi kampung ramah perempuan dan peduli anak di Kabupaten Berau.
Menurutnya, keberhasilan program tersebut memerlukan kolaborasi lintas sektor di tingkat kampung.
"Kami sangat mengharapkan dukungan kepala kampung, kecamatan, tokoh masyarakat, hingga lembaga kampung untuk bersama-sama mewujudkan 10 indikator utama KRPPA," katanya.
Sepuluh indikator tersebut meliputi keberadaan organisasi perempuan dan anak, ketersediaan data pilah perempuan dan anak, kebijakan dan anggaran responsif gender, penurunan angka kekerasan dan perkawinan anak, keterlibatan perempuan dalam struktur pemerintahan kampung, serta partisipasi perempuan dalam penguatan ekonomi keluarga.
Ia juga mengungkapkan bahwa dari sekitar 100 kampung dan 10 kelurahan di Kabupaten Berau, baru 25 kampung yang telah memenuhi indikator dan dilaunching sebagai KRPPA, sementara kampung lainnya masih dalam tahap pembinaan.
"Kami tidak memaksakan. Kampung yang belum siap akan kami dampingi terlebih dahulu sampai indikatornya terpenuhi," tandasnya.
Mardia pun berharap melalui bimtek tersebut, peran relawan SAPA dapat semakin optimal dalam mendukung terwujudnya lingkungan kampung yang aman, inklusif dan sejahtera bagi perempuan dan anak, sekaligus menekan potensi terjadinya kekerasan di tingkat kampung.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kegiatan Bimtek Relawan SAPA Kampung Ramah Perempuan dan Peduli Anak, di Kantor DPPKBP3A Berau, Sabtu (20/12/2025). (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Relawan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) Kampung Ramah Perempuan dan Peduli Anak, di Kantor DPPKBP3A Berau, Sabtu (20/12/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya DPPKBP3A Berau dalam mendorong terwujudnya kampung ramah perempuan dan peduli anak melalui penguatan peran relawan di tingkat kampung.
Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiyah melalui Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Mardia, mengatakan bimtek tersebut merupakan tindak lanjut dari peluncuran 25 kampung dan satu kelurahan yang sebelumnya telah dideklarasikan sebagai Kampung Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA/KRPPA).
"Pada saat launching, tidak semua kampung dapat mengikuti bimtek. Oleh karena itu pembinaan kami lanjutkan, baik dengan turun langsung ke kampung maupun mengundang perwakilan kampung ke tingkat kabupaten," ujar Mardia.
Pada pelaksanaan bimtek kali ini pun DPPKBP3A Berau mengundang perwakilan dari tiga kecamatan wilayah pesisir, yakni Kecamatan Biatan, Kecamatan Batu Putih, serta satu kelurahan dengan jumlah peserta sebanyak 38 orang.
Dirinya menekankan keberadaan relawan SAPA menjadi faktor penting dalam mewujudkan KRPPA. Ia pun menyampaikan peran relawan SAPA mencakup pencegahan dan penanganan kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, serta pencegahan praktik perkawinan anak.
"Relawan SAPA diharapkan menjadi penggerak di kampung, mulai dari upaya pencegahan hingga pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak," jelasnya.
Selain itu, bimtek ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mendukung pencapaian Kabupaten Layak Anak (KLA) serta memperluas implementasi kampung ramah perempuan dan peduli anak di Kabupaten Berau.
Menurutnya, keberhasilan program tersebut memerlukan kolaborasi lintas sektor di tingkat kampung.
"Kami sangat mengharapkan dukungan kepala kampung, kecamatan, tokoh masyarakat, hingga lembaga kampung untuk bersama-sama mewujudkan 10 indikator utama KRPPA," katanya.
Sepuluh indikator tersebut meliputi keberadaan organisasi perempuan dan anak, ketersediaan data pilah perempuan dan anak, kebijakan dan anggaran responsif gender, penurunan angka kekerasan dan perkawinan anak, keterlibatan perempuan dalam struktur pemerintahan kampung, serta partisipasi perempuan dalam penguatan ekonomi keluarga.
Ia juga mengungkapkan bahwa dari sekitar 100 kampung dan 10 kelurahan di Kabupaten Berau, baru 25 kampung yang telah memenuhi indikator dan dilaunching sebagai KRPPA, sementara kampung lainnya masih dalam tahap pembinaan.
"Kami tidak memaksakan. Kampung yang belum siap akan kami dampingi terlebih dahulu sampai indikatornya terpenuhi," tandasnya.
Mardia pun berharap melalui bimtek tersebut, peran relawan SAPA dapat semakin optimal dalam mendukung terwujudnya lingkungan kampung yang aman, inklusif dan sejahtera bagi perempuan dan anak, sekaligus menekan potensi terjadinya kekerasan di tingkat kampung.
(Sf/Lo)