Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala DTPHP Berau, Junaidi. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Kabupaten Berau memasuki tahun 2026 dengan langkah optimis untuk meningkatkan produksi pangan. Salah satu program unggulan yang menjadi fokus utama adalah cetak sawah, dengan target pembukaan lahan baru mencapai 2.000 hektare, jauh melampaui capaian 2025 yang hanya 425 hektare.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Junaidi, menyebut bahwa lonjakan minat petani di kampung-kampung mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius dalam pengelolaan bantuan pertanian. Usulan yang masuk beragam, mulai dari pupuk, bibit tanaman, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga bibit ternak.
"Setiap Kelompok Tani yang mengajukan proposal kita proses. Tapi, derasnya pengajuan ini juga tidak secara langsung membuat seluruh bantuan bisa langsung dikucurkan," kata Junaidi.
Ia pun menekankan bahwa setiap proposal harus melalui verifikasi ketat dan disesuaikan dengan kemampuan anggaran.
"Nanti proposal yang lolos verifikasi kemudian diajukan ke bupati untuk mendapat persetujuan akhir," tambahnya.
Dirinya juga menegaskan, selain fokus pada produksi, pihaknya juga terus berupaya memperkuat tata kelola dan kelembagaan petani. Sehingga, saat ini hampir seluruh kampung di Berau kini memiliki kelompok tani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), memudahkan pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan.
"Kelompok tani itu hampir ada di setiap kampung dan tergabung dalam Gapoktan. Untuk mencegah tumpang tindih dan memastikan transparansi, seluruh bantuan pertanian wajib tercatat dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan)," terangnya.
Ia menjelaskan bahwa Sistem Simluhtan berperan penting untuk memverifikasi data penerima dan memantau distribusi bantuan di lapangan. Keberadaan 97 Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), termasuk PPL perkebunan, yang hampir merata di setiap kampung, juga mendukung pembinaan dan pendampingan petani.
"Tahun ini kita lanjutkan cetak sawah. Jika 2025 lalu kita berhasil membuka 425 hektare lahan baru. Tahun 2026 kita targetkan 2.000 hektare," ujarnya.
Junaidi pun mengatakan bahwa dengan kombinasi antara ekspansi lahan, penguatan sistem data, dan peningkatan minat petani, sektor pertanian Berau kini berada pada fase baru.
"Jadi fokusnya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan pertumbuhan sektor pertanian berjalan terarah dan berkelanjutan," tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala DTPHP Berau, Junaidi. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Kabupaten Berau memasuki tahun 2026 dengan langkah optimis untuk meningkatkan produksi pangan. Salah satu program unggulan yang menjadi fokus utama adalah cetak sawah, dengan target pembukaan lahan baru mencapai 2.000 hektare, jauh melampaui capaian 2025 yang hanya 425 hektare.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Junaidi, menyebut bahwa lonjakan minat petani di kampung-kampung mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius dalam pengelolaan bantuan pertanian. Usulan yang masuk beragam, mulai dari pupuk, bibit tanaman, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga bibit ternak.
"Setiap Kelompok Tani yang mengajukan proposal kita proses. Tapi, derasnya pengajuan ini juga tidak secara langsung membuat seluruh bantuan bisa langsung dikucurkan," kata Junaidi.
Ia pun menekankan bahwa setiap proposal harus melalui verifikasi ketat dan disesuaikan dengan kemampuan anggaran.
"Nanti proposal yang lolos verifikasi kemudian diajukan ke bupati untuk mendapat persetujuan akhir," tambahnya.
Dirinya juga menegaskan, selain fokus pada produksi, pihaknya juga terus berupaya memperkuat tata kelola dan kelembagaan petani. Sehingga, saat ini hampir seluruh kampung di Berau kini memiliki kelompok tani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), memudahkan pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan.
"Kelompok tani itu hampir ada di setiap kampung dan tergabung dalam Gapoktan. Untuk mencegah tumpang tindih dan memastikan transparansi, seluruh bantuan pertanian wajib tercatat dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan)," terangnya.
Ia menjelaskan bahwa Sistem Simluhtan berperan penting untuk memverifikasi data penerima dan memantau distribusi bantuan di lapangan. Keberadaan 97 Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), termasuk PPL perkebunan, yang hampir merata di setiap kampung, juga mendukung pembinaan dan pendampingan petani.
"Tahun ini kita lanjutkan cetak sawah. Jika 2025 lalu kita berhasil membuka 425 hektare lahan baru. Tahun 2026 kita targetkan 2.000 hektare," ujarnya.
Junaidi pun mengatakan bahwa dengan kombinasi antara ekspansi lahan, penguatan sistem data, dan peningkatan minat petani, sektor pertanian Berau kini berada pada fase baru.
"Jadi fokusnya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan pertumbuhan sektor pertanian berjalan terarah dan berkelanjutan," tandasnya.
(Sf/Rs)