Cari disini...
Seputar Kaltim
RPB pabrik pakan ternak di loleng yang sudah beroperasi. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (PPKUKM) terus mempercepat langkah hilirisasi berbasis ekonomi kerakyatan.
Salah satu wujud nyatanya adalah kehadiran Rumah Produksi Bersama (RPB) pabrik pakan ternak di Desa Loleng, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang kini sukses beroperasi dan menjadi pilot project bagi daerah lain.
Kepala Dinas PPKUKM Kaltim, Heni Purwaningsih, mengungkapkan bahwa sejak mulai dioperasikan, pabrik di Desa Loleng ini telah memproduksi sekitar 40 ton pakan ternak.
Pemasarannya dilakukan secara kolaboratif dengan menggandeng peternak rakyat dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
"Produk pakan ternak yang kita hasilkan ini menggunakan standar organik, sehingga agak berbeda dengan pakan pabrikan besar. Jika diberikan kepada ayam atau unggas, pakan ini akan menghasilkan telur probiotik," ujar Heni, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, inovasi pakan organik ini didorong untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat di Kaltim. Telur probiotik hasil dari pakan ini diklaim memiliki kandungan gizi yang jauh lebih tinggi dan tampilan serta kualitas yang berbeda dari pakan ternak pabrikan biasa.
Tidak hanya menyasar pakan unggas, RPB Desa Loleng juga tengah mempersiapkan ekspansi produksinya. Merespons keluhan nelayan setempat dan menindaklanjuti arahan Gubernur terkait tingginya kebutuhan pakan perikanan, Heni menjelaskan bahwa mesin yang terpasang saat ini pada dasarnya juga mampu memproduksi pakan ikan apung.
"Memang masih ada kekurangan beberapa alat penunjang. Nanti akan kita diskusikan dengan pihak koperasi, serta menggandeng mitra-mitra kita melalui program pembiayaan lain agar alat tersebut segera lengkap dan bisa dioperasionalkan secara teknis," tambahnya.
Terkait pemilihan Desa Loleng sebagai titik awal berdirinya RPB, Heni menyebut konsep ini mensyaratkan masyarakat atau kelompok koperasi setempat untuk menghibahkan lahannya sebagai lokasi pabrik.
Selain kesiapan lahan, posisi Desa Loleng dinilai sangat strategis karena dikelilingi oleh sentra bahan baku penyokong seperti sentra jagung, peternakan lokal, dan perikanan. Hal ini memangkas ongkos suplai bahan baku maupun pemasaran.
Ke depannya, Dinas PPKUKM Kaltim berharap RPB Desa Loleng ini menjadi laboratorium bersama yang dapat diduplikasi oleh Pemerintah Kabupaten/Kota lain beserta stakeholder terkait.
"Silakan ini diduplikasi, ini adalah laboratorium untuk membangun konsep hilirisasi berbasis ekonomi kerakyatan. Ini juga bisa menjadi masukan terkait bagaimana pengelolaan Dana Desa maupun dana CSR perusahaan dikelola secara optimal untuk membangun ekosistem ekonomi kerakyatan dari hulu ke hilir," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

RPB pabrik pakan ternak di loleng yang sudah beroperasi. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (PPKUKM) terus mempercepat langkah hilirisasi berbasis ekonomi kerakyatan.
Salah satu wujud nyatanya adalah kehadiran Rumah Produksi Bersama (RPB) pabrik pakan ternak di Desa Loleng, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang kini sukses beroperasi dan menjadi pilot project bagi daerah lain.
Kepala Dinas PPKUKM Kaltim, Heni Purwaningsih, mengungkapkan bahwa sejak mulai dioperasikan, pabrik di Desa Loleng ini telah memproduksi sekitar 40 ton pakan ternak.
Pemasarannya dilakukan secara kolaboratif dengan menggandeng peternak rakyat dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
"Produk pakan ternak yang kita hasilkan ini menggunakan standar organik, sehingga agak berbeda dengan pakan pabrikan besar. Jika diberikan kepada ayam atau unggas, pakan ini akan menghasilkan telur probiotik," ujar Heni, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, inovasi pakan organik ini didorong untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat di Kaltim. Telur probiotik hasil dari pakan ini diklaim memiliki kandungan gizi yang jauh lebih tinggi dan tampilan serta kualitas yang berbeda dari pakan ternak pabrikan biasa.
Tidak hanya menyasar pakan unggas, RPB Desa Loleng juga tengah mempersiapkan ekspansi produksinya. Merespons keluhan nelayan setempat dan menindaklanjuti arahan Gubernur terkait tingginya kebutuhan pakan perikanan, Heni menjelaskan bahwa mesin yang terpasang saat ini pada dasarnya juga mampu memproduksi pakan ikan apung.
"Memang masih ada kekurangan beberapa alat penunjang. Nanti akan kita diskusikan dengan pihak koperasi, serta menggandeng mitra-mitra kita melalui program pembiayaan lain agar alat tersebut segera lengkap dan bisa dioperasionalkan secara teknis," tambahnya.
Terkait pemilihan Desa Loleng sebagai titik awal berdirinya RPB, Heni menyebut konsep ini mensyaratkan masyarakat atau kelompok koperasi setempat untuk menghibahkan lahannya sebagai lokasi pabrik.
Selain kesiapan lahan, posisi Desa Loleng dinilai sangat strategis karena dikelilingi oleh sentra bahan baku penyokong seperti sentra jagung, peternakan lokal, dan perikanan. Hal ini memangkas ongkos suplai bahan baku maupun pemasaran.
Ke depannya, Dinas PPKUKM Kaltim berharap RPB Desa Loleng ini menjadi laboratorium bersama yang dapat diduplikasi oleh Pemerintah Kabupaten/Kota lain beserta stakeholder terkait.
"Silakan ini diduplikasi, ini adalah laboratorium untuk membangun konsep hilirisasi berbasis ekonomi kerakyatan. Ini juga bisa menjadi masukan terkait bagaimana pengelolaan Dana Desa maupun dana CSR perusahaan dikelola secara optimal untuk membangun ekosistem ekonomi kerakyatan dari hulu ke hilir," tutupnya.
(Sf/Rs)