Cari disini...
Seputar Kaltim
Tongkang batu bara yang melintasi Sungai Mahakam, sebagai penanda masifnya ekspor Kaltim. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menembus angka Rp17.600 pada pertengahan Mei menjadi perhatian nasional.
Kendati memicu kekhawatiran inflasi di tingkat pusat, fenomena ini justru dinilai membawa dampak positif tak terduga bagi wilayah Kalimantan Timur (Kaltim).
Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif, menjabarkan bahwa penguatan mata uang asing ini menjadi angin segar bagi komoditas unggulan daerah.
Pasalnya, struktur fondasi ekonomi Bumi Etam sejauh ini masih bertumpu kuat pada pasar hulu global.
Menurut data makro, total nilai ekspor Kaltim berhasil mencatatkan angka 21 miliar USD.
Dari akumulasi masif tersebut, hampir 70 persen komponen utamanya bersumber penuh dari sektor pertambangan batubara.
"Mayoritas ekspor Kaltim itu menggunakan transaksi dolar AS. Nilai penguatan mata uang ini otomatis menaikkan omzet pendapatan mentah para eksportir lokal kita," terang Syarif saat dihubungi redaksi SeputarFakta, Minggu (17/5/2026).
Syarif menambahkan bahwa lonjakan laba bersih korporasi eksportir batubara, migas, serta CPO ini secara linear akan berimbas positif ke kas daerah.
Pihaknya memproyeksikan adanya tren kenaikan pada setoran royalti dan bagi hasil pajak daerah dalam kuartal ini.
Dampak finansial hulu tersebut diyakini menjadi pemicu utama mengapa pertumbuhan ekonomi di wilayah-wilayah sentral tambang Kaltim masih bergerak lincah dan berputar stabil di tengah guncangan makro domestik.
"Berkat kinerja ekspor ini, daerah seperti Samarinda, Balikpapan, hingga Kukar terbukti relatif mampu mengamankan laju pertumbuhan ekonomi daerah di angka kisaran 4,5 hingga 5,5 persen," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Tongkang batu bara yang melintasi Sungai Mahakam, sebagai penanda masifnya ekspor Kaltim. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menembus angka Rp17.600 pada pertengahan Mei menjadi perhatian nasional.
Kendati memicu kekhawatiran inflasi di tingkat pusat, fenomena ini justru dinilai membawa dampak positif tak terduga bagi wilayah Kalimantan Timur (Kaltim).
Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif, menjabarkan bahwa penguatan mata uang asing ini menjadi angin segar bagi komoditas unggulan daerah.
Pasalnya, struktur fondasi ekonomi Bumi Etam sejauh ini masih bertumpu kuat pada pasar hulu global.
Menurut data makro, total nilai ekspor Kaltim berhasil mencatatkan angka 21 miliar USD.
Dari akumulasi masif tersebut, hampir 70 persen komponen utamanya bersumber penuh dari sektor pertambangan batubara.
"Mayoritas ekspor Kaltim itu menggunakan transaksi dolar AS. Nilai penguatan mata uang ini otomatis menaikkan omzet pendapatan mentah para eksportir lokal kita," terang Syarif saat dihubungi redaksi SeputarFakta, Minggu (17/5/2026).
Syarif menambahkan bahwa lonjakan laba bersih korporasi eksportir batubara, migas, serta CPO ini secara linear akan berimbas positif ke kas daerah.
Pihaknya memproyeksikan adanya tren kenaikan pada setoran royalti dan bagi hasil pajak daerah dalam kuartal ini.
Dampak finansial hulu tersebut diyakini menjadi pemicu utama mengapa pertumbuhan ekonomi di wilayah-wilayah sentral tambang Kaltim masih bergerak lincah dan berputar stabil di tengah guncangan makro domestik.
"Berkat kinerja ekspor ini, daerah seperti Samarinda, Balikpapan, hingga Kukar terbukti relatif mampu mengamankan laju pertumbuhan ekonomi daerah di angka kisaran 4,5 hingga 5,5 persen," pungkasnya.
(Sf/Rs)