Cari disini...
Seputar Kaltim
Gedung Istana Garuda yang menjadi ikon IKN. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp17.600 pertengahan Mei ini mulai menebar alarm bagi sektor pembangunan dalam negeri.
Proyek strategis nasional, khususnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), kini dibayangi pembengkakan anggaran.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (UINSI), Ahmad Syarif, mengingatkan bahwa lonjakan kurs valuta asing berbanding lurus dengan peningkatan beban impor di sektor konstruksi hulu.
"Proyek IKN saat ini sangat membutuhkan pasokan alat berat, adopsi teknologi terbaru, dan komponen material tertentu dari luar negeri. Ketika dolar menguat, otomatis biaya impor komoditas tersebut melonjak," jelas Syarif kepada SeputarFakta, Minggu (17/5/2026).
Menurut Syarif, lonjakan harga bahan konstruksi berbasis impor ini berpotensi besar menurunkan tingkat efisiensi pembangunan IKN dalam jangka panjang jika tidak segera dicarikan solusi substitusi lokal.
Selain proyek infrastruktur makro, ancaman serius akibat penguatan kurs mata uang asing ini juga menyasar sektor hilir logistik masyarakat. Kaltim dinilai rentan karena jalur rantai pasok pangannya masih sangat bergantung pada daerah luar pulau.
"Distribusi logistik barang di Kaltim masih didominasi moda transportasi laut. Kenaikan harga BBM non-subsidi saat ini semakin melipatgandakan tekanan ongkos angkut komoditas," tambahnya.
Imbasnya, harga barang kebutuhan pangan pokok, termasuk pasokan beras impor asal Thailand ikut terkerek naik di pasar-pasar tradisional.
Akibat tekanan ganda tersebut, daya beli masyarakat menengah ke bawah merosot tajam, memaksa warga beradaptasi dalam kondisi survival mode demi mencukupi kebutuhan harian.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Gedung Istana Garuda yang menjadi ikon IKN. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp17.600 pertengahan Mei ini mulai menebar alarm bagi sektor pembangunan dalam negeri.
Proyek strategis nasional, khususnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), kini dibayangi pembengkakan anggaran.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (UINSI), Ahmad Syarif, mengingatkan bahwa lonjakan kurs valuta asing berbanding lurus dengan peningkatan beban impor di sektor konstruksi hulu.
"Proyek IKN saat ini sangat membutuhkan pasokan alat berat, adopsi teknologi terbaru, dan komponen material tertentu dari luar negeri. Ketika dolar menguat, otomatis biaya impor komoditas tersebut melonjak," jelas Syarif kepada SeputarFakta, Minggu (17/5/2026).
Menurut Syarif, lonjakan harga bahan konstruksi berbasis impor ini berpotensi besar menurunkan tingkat efisiensi pembangunan IKN dalam jangka panjang jika tidak segera dicarikan solusi substitusi lokal.
Selain proyek infrastruktur makro, ancaman serius akibat penguatan kurs mata uang asing ini juga menyasar sektor hilir logistik masyarakat. Kaltim dinilai rentan karena jalur rantai pasok pangannya masih sangat bergantung pada daerah luar pulau.
"Distribusi logistik barang di Kaltim masih didominasi moda transportasi laut. Kenaikan harga BBM non-subsidi saat ini semakin melipatgandakan tekanan ongkos angkut komoditas," tambahnya.
Imbasnya, harga barang kebutuhan pangan pokok, termasuk pasokan beras impor asal Thailand ikut terkerek naik di pasar-pasar tradisional.
Akibat tekanan ganda tersebut, daya beli masyarakat menengah ke bawah merosot tajam, memaksa warga beradaptasi dalam kondisi survival mode demi mencukupi kebutuhan harian.
(Sf/Rs)