Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi bayi dan balita. (Foto: Freepik)
Bontang - Dokter Spesialis Anak RS PKT, Mohammad Thoufik Hidayat mengungkap stunting pada bayi dan balita umumnya bukan disebabkan oleh kondisi saat lahir, melainkan karena kekurangan gizi setelah bayi memasuki masa pertumbuhan.
Ia mangatakan, sebenarnya banyak bayi dan balita yang mengalami stunting lahir dengan panjang dan berat badan normal.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, penyebabnya adalah kekurangan gizi atau makanan. Cara kita mengetahuinya adalah dengan mencari tahu bagaimana pemberian makan dari orang tua,” ucap Thoufik.
Ia menjelaskan stunting terjadi ketika asupan makan anak tidak memenuhi kebutuhan kalori harian yang disesuaikan dengan tinggi badan dan usianya. Ketidaksesuaian ini sering terjadi akibat anak malas atau mogok makan. Pola makan tidak teratur atau tidak sesuai takaran.
Kemudian anak lebih banyak diberikan susu atau ASI tanpa cukup makanan padat saat usianya sudah seharusnya makan. Serta pemberian susu formula dengan takaran salah yang dapat menyebabkan kembung atau diare dan mengganggu penyerapan gizi.
Ia menekankan kesalahan takaran susu dapat berdampak buruk, karena terlalu encer menyebabkan bayi kembung, sementara terlalu kental dapat memicu diare.
“Harus mengikuti panduan yang ada, misalnya penggunaan air 155 ml dengan susu 3,5 sendok takar,” lanjutnya.
Thoufik menjelaskan kunci utama mengatasi stunting adalah menyesuaikan asupan kalori anak berdasarkan tinggi badannya. Dari perhitungan itu akan ditentukan berat badan ideal anak yang harus dicapai.
Untuk anak usia satu tahun, petugas posyandu atau puskesmas umumnya memproyeksikan kebutuhan kalori dengan komposisi, 70 persen dari makanan padat dan 30 persen dari ASI atau susu formula. Namun setiap anak memiliki preferensi berbeda.
“Kadang ada yang mau susu saja atau ASI saja. Kita ikuti dulu, misalnya 50 banding 50,” kata dia.
Pemilihan susu formula juga menjadi bagian dari intervensi. Untuk anak stunting, susu formula dengan kadar protein minimal 10 persen dianjurkan, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing balita.
Guna memastikan anak tidak menuju risiko stunting, Thoufik menekankan pentingnya memantau Kenaikan Berat Badan Minimal (KBM) setiap bulan. Untuk bayi lahir normal, standar KBM meliputi, bulan 1 minimal 800 gram, bulan 2 minimal 900 gram, bulan 3 minimal 800 gram, bulan 6–7 minimal 400 gram, bulan 8–11 minimal 300 gram, usia 1–5 tahun minimal 200 gram per bulan.
“Kalau bayi lahir normal dan kenaikan berat badannya sesuai standar dia tidak akan pernah stunting,” tegasnya.
Thoufik menekankan pencegahan stunting harus dimulai dari rumah. Orang tua perlu telaten memberi makan anak dan tidak hanya mengandalkan penimbangan dari posyandu dan penimbangan mandiri di rumah sangat dianjurkan.
Ia juga mengimbau agar orang tua perlu menyajikan makanan dengan cita rasa bervariasi agar anak semangat makan, serta tetap memberikan ASI sesuai kemampuan ibu.
Ia menekankan setiap bayi dan balita wajib ditimbang minimal sebulan sekali dan tidak hanya mengandalkan posyandu, tapi mencari alternatif lain. “Kalau ada kenaikan berat badan yang terganggu, intervensi bisa langsung dilakukan,” tandasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi bayi dan balita. (Foto: Freepik)
Bontang - Dokter Spesialis Anak RS PKT, Mohammad Thoufik Hidayat mengungkap stunting pada bayi dan balita umumnya bukan disebabkan oleh kondisi saat lahir, melainkan karena kekurangan gizi setelah bayi memasuki masa pertumbuhan.
Ia mangatakan, sebenarnya banyak bayi dan balita yang mengalami stunting lahir dengan panjang dan berat badan normal.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, penyebabnya adalah kekurangan gizi atau makanan. Cara kita mengetahuinya adalah dengan mencari tahu bagaimana pemberian makan dari orang tua,” ucap Thoufik.
Ia menjelaskan stunting terjadi ketika asupan makan anak tidak memenuhi kebutuhan kalori harian yang disesuaikan dengan tinggi badan dan usianya. Ketidaksesuaian ini sering terjadi akibat anak malas atau mogok makan. Pola makan tidak teratur atau tidak sesuai takaran.
Kemudian anak lebih banyak diberikan susu atau ASI tanpa cukup makanan padat saat usianya sudah seharusnya makan. Serta pemberian susu formula dengan takaran salah yang dapat menyebabkan kembung atau diare dan mengganggu penyerapan gizi.
Ia menekankan kesalahan takaran susu dapat berdampak buruk, karena terlalu encer menyebabkan bayi kembung, sementara terlalu kental dapat memicu diare.
“Harus mengikuti panduan yang ada, misalnya penggunaan air 155 ml dengan susu 3,5 sendok takar,” lanjutnya.
Thoufik menjelaskan kunci utama mengatasi stunting adalah menyesuaikan asupan kalori anak berdasarkan tinggi badannya. Dari perhitungan itu akan ditentukan berat badan ideal anak yang harus dicapai.
Untuk anak usia satu tahun, petugas posyandu atau puskesmas umumnya memproyeksikan kebutuhan kalori dengan komposisi, 70 persen dari makanan padat dan 30 persen dari ASI atau susu formula. Namun setiap anak memiliki preferensi berbeda.
“Kadang ada yang mau susu saja atau ASI saja. Kita ikuti dulu, misalnya 50 banding 50,” kata dia.
Pemilihan susu formula juga menjadi bagian dari intervensi. Untuk anak stunting, susu formula dengan kadar protein minimal 10 persen dianjurkan, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing balita.
Guna memastikan anak tidak menuju risiko stunting, Thoufik menekankan pentingnya memantau Kenaikan Berat Badan Minimal (KBM) setiap bulan. Untuk bayi lahir normal, standar KBM meliputi, bulan 1 minimal 800 gram, bulan 2 minimal 900 gram, bulan 3 minimal 800 gram, bulan 6–7 minimal 400 gram, bulan 8–11 minimal 300 gram, usia 1–5 tahun minimal 200 gram per bulan.
“Kalau bayi lahir normal dan kenaikan berat badannya sesuai standar dia tidak akan pernah stunting,” tegasnya.
Thoufik menekankan pencegahan stunting harus dimulai dari rumah. Orang tua perlu telaten memberi makan anak dan tidak hanya mengandalkan penimbangan dari posyandu dan penimbangan mandiri di rumah sangat dianjurkan.
Ia juga mengimbau agar orang tua perlu menyajikan makanan dengan cita rasa bervariasi agar anak semangat makan, serta tetap memberikan ASI sesuai kemampuan ibu.
Ia menekankan setiap bayi dan balita wajib ditimbang minimal sebulan sekali dan tidak hanya mengandalkan posyandu, tapi mencari alternatif lain. “Kalau ada kenaikan berat badan yang terganggu, intervensi bisa langsung dilakukan,” tandasnya.
(Sf/Lo)