Cari disini...
Seputar Kaltim
Samarinda – Isu kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) subsidi ukuran 3 Kilogram (Kg) belakangan ini menjadi sumber keresahan warga. Bahkan, sempat beredar informasi menyebutkan bahwa pengecer LPG dilarang menjual tabung yang biasa disebut gas melon itu berdampak signifikan pada ketersediaan di pasar.
Di beberapa titik pangkalan, antrean warga terlihat berharap bisa membawa pulang tabung gas dengan harga yang masih dalam batas wajar. Tak hanya di Samarinda, fenomena ini juga terjadi di daerah lain dan memantik keresahan publik.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi II DPRD Samarinda, Kamis (6/2/2025), pihak terkait dikumpulkan untuk mencari solusi. Sales Area Manager Retail Kaltimut PT Pertamina Patra Niaga, Henry Eko, memastikan distribusi gas melon tetap sesuai kuota yang ditetapkan.
Gas bersubsidi itu kata dia, disalurkan ke 23 agen di Samarinda, yang kemudian meneruskannya ke pangkalan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun untuk lonjakan harga di warung kelontongan, ia menyebut di luar kendali Pertamina. “Kami tidak tahu mereka (pengecer) di mana saja, tidak ada pemetaannya,” ujar Eko usai pertemuan.
Ia mengakui bahwa pertumbuhan penduduk ikut memengaruhi kebutuhan LPG. Meski distribusi sudah dihitung setiap tahun, permintaan terus bertambah. Pemerintah Kota Samarinda sebenarnya telah menerapkan sistem Kartu Tepat Sasaran untuk sekitar 18 ribu warga miskin. Tetapi kebutuhan gas bersubsidi ternyata melampaui kuota yang ada.
Menurutnya, banyak pelaku usaha kecil yang juga bergantung pada gas melon, sementara pengecer ikut memperumit situasi dengan membeli dalam jumlah besar di pangkalan. Menjelang Ramadan, lonjakan permintaan sudah diantisipasi. Pertamina menjamin pasokan aman dan meminta masyarakat tak panik. Pihaknya akan membentuk satuan tugas (satgas) untuk memastikan distribusi LPG selama Ramadan dan Lebaran tetap terjaga.
Soal kemungkinan pengecer diizinkan menjual gas bersubsidi, Eko menyebut belum ada kejelasan. “Pertamina hanya operator. Kami hanya menyalurkan sesuai kuota yang diberikan,” tegasnya.
(Sf/Mr)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Samarinda – Isu kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) subsidi ukuran 3 Kilogram (Kg) belakangan ini menjadi sumber keresahan warga. Bahkan, sempat beredar informasi menyebutkan bahwa pengecer LPG dilarang menjual tabung yang biasa disebut gas melon itu berdampak signifikan pada ketersediaan di pasar.
Di beberapa titik pangkalan, antrean warga terlihat berharap bisa membawa pulang tabung gas dengan harga yang masih dalam batas wajar. Tak hanya di Samarinda, fenomena ini juga terjadi di daerah lain dan memantik keresahan publik.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi II DPRD Samarinda, Kamis (6/2/2025), pihak terkait dikumpulkan untuk mencari solusi. Sales Area Manager Retail Kaltimut PT Pertamina Patra Niaga, Henry Eko, memastikan distribusi gas melon tetap sesuai kuota yang ditetapkan.
Gas bersubsidi itu kata dia, disalurkan ke 23 agen di Samarinda, yang kemudian meneruskannya ke pangkalan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun untuk lonjakan harga di warung kelontongan, ia menyebut di luar kendali Pertamina. “Kami tidak tahu mereka (pengecer) di mana saja, tidak ada pemetaannya,” ujar Eko usai pertemuan.
Ia mengakui bahwa pertumbuhan penduduk ikut memengaruhi kebutuhan LPG. Meski distribusi sudah dihitung setiap tahun, permintaan terus bertambah. Pemerintah Kota Samarinda sebenarnya telah menerapkan sistem Kartu Tepat Sasaran untuk sekitar 18 ribu warga miskin. Tetapi kebutuhan gas bersubsidi ternyata melampaui kuota yang ada.
Menurutnya, banyak pelaku usaha kecil yang juga bergantung pada gas melon, sementara pengecer ikut memperumit situasi dengan membeli dalam jumlah besar di pangkalan. Menjelang Ramadan, lonjakan permintaan sudah diantisipasi. Pertamina menjamin pasokan aman dan meminta masyarakat tak panik. Pihaknya akan membentuk satuan tugas (satgas) untuk memastikan distribusi LPG selama Ramadan dan Lebaran tetap terjaga.
Soal kemungkinan pengecer diizinkan menjual gas bersubsidi, Eko menyebut belum ada kejelasan. “Pertamina hanya operator. Kami hanya menyalurkan sesuai kuota yang diberikan,” tegasnya.
(Sf/Mr)