Seputar Kaltim

    Disporapar Sebut Pengembangan Wisata Samarinda Butuh Ekstra, Sungai Mahakam Perlu Dipoles

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    29 Agustus 2026 pukul 22:21 WITA

    Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda, Andy Ariefin. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Pengembangan pariwisata Kota Samarinda menghadapi tantangan berbeda dibanding daerah yang memiliki kekayaan wisata alam seperti Bali dan Yogyakarta. 

    Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda, Andy Ariefin, menyebut Samarinda lebih banyak bertumpu pada pengembangan wisata buatan yang membutuhkan pengelolaan, pembangunan infrastruktur, serta dukungan anggaran tidak sedikit.

    Menurut Andy, Samarinda sebenarnya memiliki sejumlah potensi wisata yang dapat dikembangkan. Namun, potensi tersebut tidak serta-merta dapat menjadi destinasi wisata tanpa adanya intervensi dan pembangunan tambahan.

    Ia mencontohkan Sungai Mahakam yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata. 

    Namun, untuk menjadikannya destinasi yang menarik, pemerintah perlu melakukan berbagai penataan dan pembangunan pendukung.

    "Contoh Mahakam. Mahakam untuk memoles menjadi tujuan wisata itu perlu ekstra. Pak Wali harus membangun Teras," ujar Andy, Kamis (27/8/2026).

    Menurutnya, penataan kawasan sepanjang tepian Sungai Mahakam membutuhkan sumber daya dan biaya yang besar. 

    Terlebih jika konsep wisata dikembangkan melalui aktivitas susur sungai yang membutuhkan sarana transportasi berupa kapal.

    "Sepanjang sungai sepanjang 6 km itu harus dipoles. Itu kan memerlukan ekstra dan biaya yang tidak kecil. Terus kalau kita mau menyusur sungai kita perlu kapal dan itu juga tidak kecil modalnya," ungkapnya.

    Andy mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Samarinda dalam mengembangkan sektor pariwisata. 

    Tantangannya bukan karena Samarinda tidak memiliki potensi, melainkan bagaimana mengubah potensi yang ada menjadi destinasi yang mampu menarik wisatawan.

    "Samarinda ini tipikalnya tidak seperti tipikal Bali, untuk konteks pariwisata, tidak seperti tipikal Jogja yang mereka dimanjakan oleh alam," jelasnya.

    Ia menilai daerah yang memiliki kekayaan alam sebagai daya tarik utama relatif memiliki keuntungan dalam pengembangan destinasi. 

    Sementara Samarinda perlu melakukan lebih banyak upaya untuk membentuk dan memperkuat daya tarik wisatanya.

    Andy menyebut wisata buatan menjadi salah satu pilihan yang dapat dikembangkan karena karakteristik Samarinda tidak sepenuhnya ditopang destinasi alam. 

    Potensi yang sudah ada perlu dipoles melalui pembangunan fasilitas, penataan kawasan dan penyediaan sarana pendukung.

    "Kalau wisata alam ya kita tahu bersama, seperti saya contohkan beberapa daerah yang dimanjakan oleh alamnya. Di Jogja itu tidak usah terlalu banyak ekstra tenaga, dipoles sedikit sudah jadi tempat wisata, orang pada berdatangan," katanya.

    Meski demikian, Andy menegaskan Samarinda tetap memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Hanya saja, pengembangannya membutuhkan usaha dan sumber daya lebih besar dibanding daerah yang secara alami sudah memiliki daya tarik wisata kuat.

    "Di sini, itu yang menjadi kendala. Kita tidak punya secara alami yang itu. Ya kita punya potensi, ada potensi ada, bukan tidak punya. Cuma potensi itu perlu ekstra untuk mengembangkan," tuturnya.

    Terkait pembaruan regulasi pariwisata, Andy mengatakan penyusunan aturan baru diperlukan untuk menyesuaikan perkembangan wilayah dan potensi pariwisata Samarinda. 

    Pembaruan tersebut bukan semata berkaitan dengan anggaran, tetapi terutama mengenai penentuan kawasan prioritas dan wilayah perencanaan pariwisata.

    Menurutnya, perkembangan kota membuat pembagian kawasan dalam regulasi sebelumnya perlu disesuaikan dengan kondisi terkini.

    "Bagaimana Kota Samarinda ini mengembangkan pariwisata. Jadi daerah-daerah mana yang prioritas, daerah mana yang termaksud dalam Perda ini," katanya.

    Ia menambahkan, penyesuaian aturan diperlukan agar kawasan prioritas pariwisata dan wilayah perencanaan dapat mengikuti perkembangan Kota Samarinda.

    "Sudah berkembang, ini perlu disesuaikan. Substansinya itu aja," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Disporapar Sebut Pengembangan Wisata Samarinda Butuh Ekstra, Sungai Mahakam Perlu Dipoles

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    29 Agustus 2026 pukul 22:21 WITA

    Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda, Andy Ariefin. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Pengembangan pariwisata Kota Samarinda menghadapi tantangan berbeda dibanding daerah yang memiliki kekayaan wisata alam seperti Bali dan Yogyakarta. 

    Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda, Andy Ariefin, menyebut Samarinda lebih banyak bertumpu pada pengembangan wisata buatan yang membutuhkan pengelolaan, pembangunan infrastruktur, serta dukungan anggaran tidak sedikit.

    Menurut Andy, Samarinda sebenarnya memiliki sejumlah potensi wisata yang dapat dikembangkan. Namun, potensi tersebut tidak serta-merta dapat menjadi destinasi wisata tanpa adanya intervensi dan pembangunan tambahan.

    Ia mencontohkan Sungai Mahakam yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata. 

    Namun, untuk menjadikannya destinasi yang menarik, pemerintah perlu melakukan berbagai penataan dan pembangunan pendukung.

    "Contoh Mahakam. Mahakam untuk memoles menjadi tujuan wisata itu perlu ekstra. Pak Wali harus membangun Teras," ujar Andy, Kamis (27/8/2026).

    Menurutnya, penataan kawasan sepanjang tepian Sungai Mahakam membutuhkan sumber daya dan biaya yang besar. 

    Terlebih jika konsep wisata dikembangkan melalui aktivitas susur sungai yang membutuhkan sarana transportasi berupa kapal.

    "Sepanjang sungai sepanjang 6 km itu harus dipoles. Itu kan memerlukan ekstra dan biaya yang tidak kecil. Terus kalau kita mau menyusur sungai kita perlu kapal dan itu juga tidak kecil modalnya," ungkapnya.

    Andy mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Samarinda dalam mengembangkan sektor pariwisata. 

    Tantangannya bukan karena Samarinda tidak memiliki potensi, melainkan bagaimana mengubah potensi yang ada menjadi destinasi yang mampu menarik wisatawan.

    "Samarinda ini tipikalnya tidak seperti tipikal Bali, untuk konteks pariwisata, tidak seperti tipikal Jogja yang mereka dimanjakan oleh alam," jelasnya.

    Ia menilai daerah yang memiliki kekayaan alam sebagai daya tarik utama relatif memiliki keuntungan dalam pengembangan destinasi. 

    Sementara Samarinda perlu melakukan lebih banyak upaya untuk membentuk dan memperkuat daya tarik wisatanya.

    Andy menyebut wisata buatan menjadi salah satu pilihan yang dapat dikembangkan karena karakteristik Samarinda tidak sepenuhnya ditopang destinasi alam. 

    Potensi yang sudah ada perlu dipoles melalui pembangunan fasilitas, penataan kawasan dan penyediaan sarana pendukung.

    "Kalau wisata alam ya kita tahu bersama, seperti saya contohkan beberapa daerah yang dimanjakan oleh alamnya. Di Jogja itu tidak usah terlalu banyak ekstra tenaga, dipoles sedikit sudah jadi tempat wisata, orang pada berdatangan," katanya.

    Meski demikian, Andy menegaskan Samarinda tetap memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Hanya saja, pengembangannya membutuhkan usaha dan sumber daya lebih besar dibanding daerah yang secara alami sudah memiliki daya tarik wisata kuat.

    "Di sini, itu yang menjadi kendala. Kita tidak punya secara alami yang itu. Ya kita punya potensi, ada potensi ada, bukan tidak punya. Cuma potensi itu perlu ekstra untuk mengembangkan," tuturnya.

    Terkait pembaruan regulasi pariwisata, Andy mengatakan penyusunan aturan baru diperlukan untuk menyesuaikan perkembangan wilayah dan potensi pariwisata Samarinda. 

    Pembaruan tersebut bukan semata berkaitan dengan anggaran, tetapi terutama mengenai penentuan kawasan prioritas dan wilayah perencanaan pariwisata.

    Menurutnya, perkembangan kota membuat pembagian kawasan dalam regulasi sebelumnya perlu disesuaikan dengan kondisi terkini.

    "Bagaimana Kota Samarinda ini mengembangkan pariwisata. Jadi daerah-daerah mana yang prioritas, daerah mana yang termaksud dalam Perda ini," katanya.

    Ia menambahkan, penyesuaian aturan diperlukan agar kawasan prioritas pariwisata dan wilayah perencanaan dapat mengikuti perkembangan Kota Samarinda.

    "Sudah berkembang, ini perlu disesuaikan. Substansinya itu aja," pungkasnya.

    (Sf/Lo)