Seputar Kaltim

    Disperindag Kutim Sebut Stok Beras Aman hingga Idulfitri, Premium dan Medium Turun Harga

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    28 Februari 2026 pukul 22:32 WITA

    Ilustrasi beras (Foto: Freepik)

    Sangatta – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan stok beras aman hingga Idulfitri. Harga beras premium dan medium dilaporkan mengalami penurunan dalam sepekan terakhir.

    Fungsional Ahli Madya Disperindag Kutim, Benita, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan langsung ke gudang distributor serta toko ritel dan memastikan ketersediaan beras mencukupi.

    “Stok banyak, sampai Lebaran pun aman. Kami sudah cek ke gudang, ada tiga distributor dan stoknya aman,” ujar Benita.

    Ia menjelaskan, harga beras saat ini sudah mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya.

    “Untuk beras premium saat ini harganya Rp15.400 per kilogram, turun dari sebelumnya Rp17.000 per kilogram. Sedangkan beras medium hari ini di harga Rp14.000 per kilogram, yang sebelumnya berkisar antara Rp15.700 sampai Rp16.000 per kilogram,” jelasnya.

    Di tingkat distributor atau agen, harga beras premium per hari ini berada di angka Rp15.200 per kilogram.

    “Selisihnya hanya Rp200 per kilogram. Jadi keuntungan pedagang tidak banyak,” tambahnya.

    Terkait temuan sebelumnya mengenai harga yang sempat berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), Benita menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan distributor. Ia menjelaskan kenaikan harga saat itu dipengaruhi faktor musim panen di daerah pemasok.

    “Waktu itu di Sulawesi belum masa panen, sehingga harga naik. Sekarang sudah masuk musim panen, jadi harga mulai turun,” katanya.

    Menurutnya, Kutim bukan daerah penghasil beras, melainkan hanya sebagai daerah konsumen. Karena itu, pasokan beras didatangkan dari luar daerah seperti Sulawesi dan Jawa, sehingga harga di Kutim mengikuti kondisi produksi dan musim panen di daerah tersebut.

    “Kalau di daerah produsen harga naik, otomatis di sini ikut naik. Begitu juga sebaliknya,” terangnya.

    Ia menambahkan, naik turunnya harga beras mengikuti masa tanam dan panen. Saat masa tanam dan stok di daerah produsen berkurang, harga biasanya naik. Sebaliknya, saat panen raya, harga cenderung stabil atau turun.

    Disperindag Kutim bersama Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, PTSP, serta Polres Kutim terus melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok di pasaran.

    “Kami berharap harga tetap stabil dan masyarakat tidak perlu khawatir soal ketersediaan beras,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Disperindag Kutim Sebut Stok Beras Aman hingga Idulfitri, Premium dan Medium Turun Harga

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    28 Februari 2026 pukul 22:32 WITA

    Ilustrasi beras (Foto: Freepik)

    Sangatta – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan stok beras aman hingga Idulfitri. Harga beras premium dan medium dilaporkan mengalami penurunan dalam sepekan terakhir.

    Fungsional Ahli Madya Disperindag Kutim, Benita, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan langsung ke gudang distributor serta toko ritel dan memastikan ketersediaan beras mencukupi.

    “Stok banyak, sampai Lebaran pun aman. Kami sudah cek ke gudang, ada tiga distributor dan stoknya aman,” ujar Benita.

    Ia menjelaskan, harga beras saat ini sudah mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya.

    “Untuk beras premium saat ini harganya Rp15.400 per kilogram, turun dari sebelumnya Rp17.000 per kilogram. Sedangkan beras medium hari ini di harga Rp14.000 per kilogram, yang sebelumnya berkisar antara Rp15.700 sampai Rp16.000 per kilogram,” jelasnya.

    Di tingkat distributor atau agen, harga beras premium per hari ini berada di angka Rp15.200 per kilogram.

    “Selisihnya hanya Rp200 per kilogram. Jadi keuntungan pedagang tidak banyak,” tambahnya.

    Terkait temuan sebelumnya mengenai harga yang sempat berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), Benita menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan distributor. Ia menjelaskan kenaikan harga saat itu dipengaruhi faktor musim panen di daerah pemasok.

    “Waktu itu di Sulawesi belum masa panen, sehingga harga naik. Sekarang sudah masuk musim panen, jadi harga mulai turun,” katanya.

    Menurutnya, Kutim bukan daerah penghasil beras, melainkan hanya sebagai daerah konsumen. Karena itu, pasokan beras didatangkan dari luar daerah seperti Sulawesi dan Jawa, sehingga harga di Kutim mengikuti kondisi produksi dan musim panen di daerah tersebut.

    “Kalau di daerah produsen harga naik, otomatis di sini ikut naik. Begitu juga sebaliknya,” terangnya.

    Ia menambahkan, naik turunnya harga beras mengikuti masa tanam dan panen. Saat masa tanam dan stok di daerah produsen berkurang, harga biasanya naik. Sebaliknya, saat panen raya, harga cenderung stabil atau turun.

    Disperindag Kutim bersama Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, PTSP, serta Polres Kutim terus melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok di pasaran.

    “Kami berharap harga tetap stabil dan masyarakat tidak perlu khawatir soal ketersediaan beras,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)