Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Kalimantan Timur, Fahmi Hilmawan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tengah gencar melakukan pemeriksaan dan vaksinasi hewan ternak, khususnya sapi, di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Upaya ini dilakukan menyusul laporan kematian sejumlah sapi yang diduga terjangkit penyakit Jembrana.
Kepala Disnakkeswan Kaltim, Fahmi Himawan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait kasus kematian sapi akibat penyakit Jembrana di Kutim. Penyakit ini, kata dia, merupakan salah satu jenis penyakit zoonosis yang sangat spesifik menyerang sapi Bali.
"Selain Jembrana, penyakit zoonosis lain yang perlu diwaspadai adalah rabies dan brucellosis," ujar Fahmi saat ditemui di Samarinda, Senin (19/8/2024).
Menanggapi laporan tersebut, Disnakkeswan Kaltim telah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Kutim untuk segera melakukan tindakan penanganan. "Kami telah menginstruksikan tim kesehatan hewan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap sapi-sapi yang dicurigai terinfeksi Jembrana," jelasnya.
Fahmi menambahkan, pihaknya telah secara rutin melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak, termasuk vaksin Jembrana. "Setiap tahun, kami mendistribusikan berbagai jenis vaksin, seperti rabies, brucellosis, dan Jembrana, ke seluruh kabupaten/kota di Kaltim," ungkapnya.
Namun, kendati telah dilakukan upaya pencegahan, penyakit Jembrana masih menjadi ancaman bagi populasi sapi Bali di Kaltim. "Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami, mengingat sapi Bali memiliki kekebalan tubuh yang relatif rendah terhadap penyakit ini," kata Fahmi.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Fahmi menyarankan agar peternak di Kaltim melakukan diversifikasi jenis sapi yang diternakkan. "Tidak hanya bergantung pada sapi Bali, peternak bisa mencoba jenis sapi lain yang lebih tahan penyakit," ujarnya.
Menurutnya, diversifikasi jenis sapi sangat penting, terlebih lagi dengan adanya proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang akan meningkatkan permintaan daging sapi di masa mendatang. "Peternak harus jeli melihat peluang pasar dan memilih jenis sapi yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan permintaan pasar," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Kalimantan Timur, Fahmi Hilmawan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tengah gencar melakukan pemeriksaan dan vaksinasi hewan ternak, khususnya sapi, di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Upaya ini dilakukan menyusul laporan kematian sejumlah sapi yang diduga terjangkit penyakit Jembrana.
Kepala Disnakkeswan Kaltim, Fahmi Himawan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait kasus kematian sapi akibat penyakit Jembrana di Kutim. Penyakit ini, kata dia, merupakan salah satu jenis penyakit zoonosis yang sangat spesifik menyerang sapi Bali.
"Selain Jembrana, penyakit zoonosis lain yang perlu diwaspadai adalah rabies dan brucellosis," ujar Fahmi saat ditemui di Samarinda, Senin (19/8/2024).
Menanggapi laporan tersebut, Disnakkeswan Kaltim telah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Kutim untuk segera melakukan tindakan penanganan. "Kami telah menginstruksikan tim kesehatan hewan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap sapi-sapi yang dicurigai terinfeksi Jembrana," jelasnya.
Fahmi menambahkan, pihaknya telah secara rutin melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak, termasuk vaksin Jembrana. "Setiap tahun, kami mendistribusikan berbagai jenis vaksin, seperti rabies, brucellosis, dan Jembrana, ke seluruh kabupaten/kota di Kaltim," ungkapnya.
Namun, kendati telah dilakukan upaya pencegahan, penyakit Jembrana masih menjadi ancaman bagi populasi sapi Bali di Kaltim. "Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami, mengingat sapi Bali memiliki kekebalan tubuh yang relatif rendah terhadap penyakit ini," kata Fahmi.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Fahmi menyarankan agar peternak di Kaltim melakukan diversifikasi jenis sapi yang diternakkan. "Tidak hanya bergantung pada sapi Bali, peternak bisa mencoba jenis sapi lain yang lebih tahan penyakit," ujarnya.
Menurutnya, diversifikasi jenis sapi sangat penting, terlebih lagi dengan adanya proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang akan meningkatkan permintaan daging sapi di masa mendatang. "Peternak harus jeli melihat peluang pasar dan memilih jenis sapi yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan permintaan pasar," pungkasnya.
(Sf/Rs)