Cari disini...
Seputar Kaltim
Sapi yang terkena penyakit Brucellosis. (Foto:Pinterest)
Tenggarong - Dinas Peternakan (Disnak) Kutai Kartanegara (Kukar) menyediakan lima pusat kesehatan hewan (Puskeswan) untuk mengantisipasi penyakit Brucellosis pada hewan tenak, terutama sapi.
"Peternakan sapi di Kukar mengalami banyak kerugian akibat penyakit itu. Untuk para peternak, kami sudah dirikan lima Puskeswan agar mereka bisa memeriksakan hewannya. Ada di Kecamatan Samboja, Tenggarong Seberang, Muara Badak, Kota Bangun, dan Loa Kulu," kata Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Disnak Kukar, Aji Gazali Rahman Rabu (3/7/2024).
Sepanjang periode 2019-2021 lalu, pihaknya harus membakar puluhan sapi yang mengalami kematian akibat terkena penyakit tersebut. Penyakit Brucellosis pada sapi disebabkan oleh bakteri genus Brucella sp.
Berbagai varietas hewan dapat terinfeksi penyakit ini, seperti sapi, kambing, domba dan lainnya. Selain pada hewan ternak, penyakit Brucellosis dapat menular kepada manusia jika mengonsumsi jeroannya. Tapi untuk bagian lain bisa dikonsumsi, harus melalui proses dan tata cara pengolahan yang tepat.
“Pada tahun-tahun lalu banyak sapi yang dibakar,” sebut Gazali. Kata dia, penyakit tersebut secara umumnya tidak menunjukkan gejala penyakit yang tampak jelas. Tapi bisa diperiksakan ke Puskeswan jika pada induk hewan ternak mengalami keguguran.
Terutama pada usia kebuntingan di atas lima bulan dan saat keguguran cairan janin berwarna keruh. Pada pejantan terlihat adanya kebengkakan pada persendian.
Ia menyebut sapi yang terkena penyakit tersebut tidak hanya sapi ternak saja, tapi sebagian merupakan sapi potong berasal dari luar Kalimantan.
Banyak peternak sapi yang belum memahami pengetahuan lebih terutama untuk sapi potong. “Banyak sapi potong yang ketika datang langsung diternak bebaskan, itu tidak boleh,” sebutnya.
Melalui Puskeswan, pihaknya selalu mengkoordinir para peternak sapi dalam pengecekan sejak dini agar menghindari penyakit tersebut terjadi kembali secara besar-besaran.
Tak hanya itu, pihaknya selalu menjelaskan kepada peternak terkait berbagai penyakit pada sapi beserta ciri-cirinya.
Ia berharap para peternak hewan untuk selalu mengontrol kesehatan ternaknya atau menemukan tanda-tanda penyakit Brucellosis serta penyakit lainnya pada hewan ternak.
"Untuk para perernak ini bisa langsung menghubungi pihak UPT Puskeswan terdekat sehingga penyakit itu dapat langsung ditangani secepatnya," pungkasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Sapi yang terkena penyakit Brucellosis. (Foto:Pinterest)
Tenggarong - Dinas Peternakan (Disnak) Kutai Kartanegara (Kukar) menyediakan lima pusat kesehatan hewan (Puskeswan) untuk mengantisipasi penyakit Brucellosis pada hewan tenak, terutama sapi.
"Peternakan sapi di Kukar mengalami banyak kerugian akibat penyakit itu. Untuk para peternak, kami sudah dirikan lima Puskeswan agar mereka bisa memeriksakan hewannya. Ada di Kecamatan Samboja, Tenggarong Seberang, Muara Badak, Kota Bangun, dan Loa Kulu," kata Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Disnak Kukar, Aji Gazali Rahman Rabu (3/7/2024).
Sepanjang periode 2019-2021 lalu, pihaknya harus membakar puluhan sapi yang mengalami kematian akibat terkena penyakit tersebut. Penyakit Brucellosis pada sapi disebabkan oleh bakteri genus Brucella sp.
Berbagai varietas hewan dapat terinfeksi penyakit ini, seperti sapi, kambing, domba dan lainnya. Selain pada hewan ternak, penyakit Brucellosis dapat menular kepada manusia jika mengonsumsi jeroannya. Tapi untuk bagian lain bisa dikonsumsi, harus melalui proses dan tata cara pengolahan yang tepat.
“Pada tahun-tahun lalu banyak sapi yang dibakar,” sebut Gazali. Kata dia, penyakit tersebut secara umumnya tidak menunjukkan gejala penyakit yang tampak jelas. Tapi bisa diperiksakan ke Puskeswan jika pada induk hewan ternak mengalami keguguran.
Terutama pada usia kebuntingan di atas lima bulan dan saat keguguran cairan janin berwarna keruh. Pada pejantan terlihat adanya kebengkakan pada persendian.
Ia menyebut sapi yang terkena penyakit tersebut tidak hanya sapi ternak saja, tapi sebagian merupakan sapi potong berasal dari luar Kalimantan.
Banyak peternak sapi yang belum memahami pengetahuan lebih terutama untuk sapi potong. “Banyak sapi potong yang ketika datang langsung diternak bebaskan, itu tidak boleh,” sebutnya.
Melalui Puskeswan, pihaknya selalu mengkoordinir para peternak sapi dalam pengecekan sejak dini agar menghindari penyakit tersebut terjadi kembali secara besar-besaran.
Tak hanya itu, pihaknya selalu menjelaskan kepada peternak terkait berbagai penyakit pada sapi beserta ciri-cirinya.
Ia berharap para peternak hewan untuk selalu mengontrol kesehatan ternaknya atau menemukan tanda-tanda penyakit Brucellosis serta penyakit lainnya pada hewan ternak.
"Untuk para perernak ini bisa langsung menghubungi pihak UPT Puskeswan terdekat sehingga penyakit itu dapat langsung ditangani secepatnya," pungkasnya.
(Sf/By)