Seputar Kaltim

    Dishub Balikpapan Evaluasi Penggunaan Alat Bantu Penyeberangan, Terutama Fungsinya

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Alat bantu penyeberangan (pelican crossing) yang telah dipasang di kawasan Balikpapan Permai. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan akan segera mengevaluasi efektivitas penggunaan alat bantu penyeberangan (pelican crossing) yang telah dipasang di beberapa titik strategis di kota Balikpapan.

    Kepala Dishub Balikpapan, Adward Skenda Putra mengatakan, pihaknya akan meninjau kembali penerapan sistem ini, mengingat beberapa kendala yang muncul terkait perilaku masyarakat dan kinerja alat tersebut.

    “Sejak diperkenalkan pada 2024 lalu, pelican crossing dengan tombol penyeberangan otomatis dan sensor telah dipasang di empat titik yakni depan Balai Kota, depan Mako Polresta Balikpapan, depan Gedung Parkir Klandasan, dan di kawasan Balikpapan Permai,” ucap Edo sapaan akrabnya kepada media, Kamis (9/1/2025).

    Edo mengakui adanya masalah terkait penggunaan alat tersebut. Salah satunya adalah perilaku segelintir warga yang dengan sengaja menekan tombol penyeberangan lalu meninggalkan tempat, menyebabkan lampu lalu lintas menyala merah tanpa ada yang menyeberang.

    Selain itu, ia juga mencatat bahwa sensor otomatis yang dipasang di alat bantu penyeberangan terkadang mendeteksi orang yang lewat atau bahkan gerakan angin kencang, menyebabkan alat tersebut aktif tanpa ada yang menekan tombol.

    "Ini memang kadang terjadi, dan sensor itu sebenarnya berguna bagi mereka yang lupa menekan tombol. Namun, ada kalanya sensor salah deteksi," akunya.

    Menanggapi hal ini, dirinya menegaskan, bahwa evaluasi akan dilakukan untuk menentukan apakah sensor otomatis akan dipertahankan atau digantikan dengan sistem manual.

    “Kami harus melihat secara menyeluruh, apakah sensor atau tombol manual lebih efektif dalam meningkatkan kenyamanan dan keselamatan masyarakat," tambahnya.

    Selain permasalahan terkait alat bantu penyeberangan, ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran pengendara untuk mematuhi lampu lalu lintas saat ada pejalan kaki yang menyeberang jalan.

    “Kami sering menemukan pengendara yang tidak berhenti saat lampu sudah merah, dan ini membahayakan keselamatan pejalan kaki," terangnya.

    Ke depan, pemerintah Kota Balikpapan juga berencana untuk menambah jumlah alat bantu penyeberangan di sejumlah lokasi, khususnya di sekitar Zona Selamat Sekolah. 

    Namun penambahan tersebut kemungkinan besar baru akan terealisasi pada anggaran murni tahun 2025, karena keterbatasan anggaran saat ini.

    Sementara itu, Dishub Balikpapan fokus pada peningkatan sistem pengawasan dengan menambah jumlah kamera pemantau (CCTV), serta pemasangan lampu peringatan untuk memperbaiki keselamatan lalu lintas di kawasan yang sudah terpasang alat bantu penyeberangan.

    “Evaluasi ini menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa teknologi yang diterapkan dapat benar-benar mengurangi potensi kecelakaan dan meningkatkan keselamatan bagi masyarakat Balikpapan,” tuturnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Dishub Balikpapan Evaluasi Penggunaan Alat Bantu Penyeberangan, Terutama Fungsinya

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Alat bantu penyeberangan (pelican crossing) yang telah dipasang di kawasan Balikpapan Permai. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan akan segera mengevaluasi efektivitas penggunaan alat bantu penyeberangan (pelican crossing) yang telah dipasang di beberapa titik strategis di kota Balikpapan.

    Kepala Dishub Balikpapan, Adward Skenda Putra mengatakan, pihaknya akan meninjau kembali penerapan sistem ini, mengingat beberapa kendala yang muncul terkait perilaku masyarakat dan kinerja alat tersebut.

    “Sejak diperkenalkan pada 2024 lalu, pelican crossing dengan tombol penyeberangan otomatis dan sensor telah dipasang di empat titik yakni depan Balai Kota, depan Mako Polresta Balikpapan, depan Gedung Parkir Klandasan, dan di kawasan Balikpapan Permai,” ucap Edo sapaan akrabnya kepada media, Kamis (9/1/2025).

    Edo mengakui adanya masalah terkait penggunaan alat tersebut. Salah satunya adalah perilaku segelintir warga yang dengan sengaja menekan tombol penyeberangan lalu meninggalkan tempat, menyebabkan lampu lalu lintas menyala merah tanpa ada yang menyeberang.

    Selain itu, ia juga mencatat bahwa sensor otomatis yang dipasang di alat bantu penyeberangan terkadang mendeteksi orang yang lewat atau bahkan gerakan angin kencang, menyebabkan alat tersebut aktif tanpa ada yang menekan tombol.

    "Ini memang kadang terjadi, dan sensor itu sebenarnya berguna bagi mereka yang lupa menekan tombol. Namun, ada kalanya sensor salah deteksi," akunya.

    Menanggapi hal ini, dirinya menegaskan, bahwa evaluasi akan dilakukan untuk menentukan apakah sensor otomatis akan dipertahankan atau digantikan dengan sistem manual.

    “Kami harus melihat secara menyeluruh, apakah sensor atau tombol manual lebih efektif dalam meningkatkan kenyamanan dan keselamatan masyarakat," tambahnya.

    Selain permasalahan terkait alat bantu penyeberangan, ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran pengendara untuk mematuhi lampu lalu lintas saat ada pejalan kaki yang menyeberang jalan.

    “Kami sering menemukan pengendara yang tidak berhenti saat lampu sudah merah, dan ini membahayakan keselamatan pejalan kaki," terangnya.

    Ke depan, pemerintah Kota Balikpapan juga berencana untuk menambah jumlah alat bantu penyeberangan di sejumlah lokasi, khususnya di sekitar Zona Selamat Sekolah. 

    Namun penambahan tersebut kemungkinan besar baru akan terealisasi pada anggaran murni tahun 2025, karena keterbatasan anggaran saat ini.

    Sementara itu, Dishub Balikpapan fokus pada peningkatan sistem pengawasan dengan menambah jumlah kamera pemantau (CCTV), serta pemasangan lampu peringatan untuk memperbaiki keselamatan lalu lintas di kawasan yang sudah terpasang alat bantu penyeberangan.

    “Evaluasi ini menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa teknologi yang diterapkan dapat benar-benar mengurangi potensi kecelakaan dan meningkatkan keselamatan bagi masyarakat Balikpapan,” tuturnya.

    (Sf/Rs)