Cari disini...
Seputar Kaltim
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten PPU, Durajat. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menemukan ratusan anak yang masuk data Anak Tidak Sekolah (ATS) ternyata masih mengikuti pendidikan di pesantren, namun belum tercatat dalam sistem pendataan pendidikan nasional.
Sekretaris Disdikpora PPU, Durajat, mengatakan persoalan tersebut terjadi karena sebagian pesantren salafiyah belum terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) maupun Education Management Information System (EMIS).
Akibatnya, anak yang sebenarnya masih belajar terbaca sebagai tidak sekolah dalam basis data.
"Anak-anak itu sebenarnya sekolah, mereka ngaji di pesantren. Tapi karena tidak terdata di dapodik dan EMIS akhirnya masuk kategori anak tidak sekolah," kata Durajat, belum lama ini.
Ia menyebut salah satu temuan berada di Pondok Pesantren Jannatul Firdaus dengan jumlah santri lebih dari 300 orang yang sebelumnya belum masuk sistem pendataan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdikpora memfasilitasi kerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) agar para santri dapat tercatat dalam Dapodik.
Dengan pola itu, santri tetap menjalani pendidikan pesantren sekaligus memperoleh pengakuan pendidikan formal melalui jalur kesetaraan.
"Kita kerja samakan dengan PKBM supaya mereka terdata. Jadi nanti lulus tetap punya pengakuan pendidikan," ujarnya.
Disdikpora juga mengundang Kementerian Agama (Kemenag) masuk dalam tim penanganan ATS agar proses pendataan pesantren dapat diperkuat.
Menurut Durajat, langkah itu penting agar anak yang belajar di bawah naungan pesantren tidak lagi masuk kategori ATS hanya karena persoalan administrasi.
Hingga Juni 2026, dari total 2.298 anak dalam data ATS di PPU, sebanyak 1.594 anak telah kembali masuk sistem pendidikan. Artinya masih terdapat 704 anak tidak sekolah.
Disdikpora menargetkan jumlah ATS di PPU dapat ditekan hingga tersisa di bawah 200 anak pada akhir tahun.
"Putus sekolah pasti tetap ada, tapi targetnya angkanya makin kecil. Mudah-mudahan tahun ini ATS bisa ditekan hingga sekitar 200 anak, apalagi tahun depan sudah ada Sekolah Rakyat," tutupnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten PPU, Durajat. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menemukan ratusan anak yang masuk data Anak Tidak Sekolah (ATS) ternyata masih mengikuti pendidikan di pesantren, namun belum tercatat dalam sistem pendataan pendidikan nasional.
Sekretaris Disdikpora PPU, Durajat, mengatakan persoalan tersebut terjadi karena sebagian pesantren salafiyah belum terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) maupun Education Management Information System (EMIS).
Akibatnya, anak yang sebenarnya masih belajar terbaca sebagai tidak sekolah dalam basis data.
"Anak-anak itu sebenarnya sekolah, mereka ngaji di pesantren. Tapi karena tidak terdata di dapodik dan EMIS akhirnya masuk kategori anak tidak sekolah," kata Durajat, belum lama ini.
Ia menyebut salah satu temuan berada di Pondok Pesantren Jannatul Firdaus dengan jumlah santri lebih dari 300 orang yang sebelumnya belum masuk sistem pendataan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdikpora memfasilitasi kerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) agar para santri dapat tercatat dalam Dapodik.
Dengan pola itu, santri tetap menjalani pendidikan pesantren sekaligus memperoleh pengakuan pendidikan formal melalui jalur kesetaraan.
"Kita kerja samakan dengan PKBM supaya mereka terdata. Jadi nanti lulus tetap punya pengakuan pendidikan," ujarnya.
Disdikpora juga mengundang Kementerian Agama (Kemenag) masuk dalam tim penanganan ATS agar proses pendataan pesantren dapat diperkuat.
Menurut Durajat, langkah itu penting agar anak yang belajar di bawah naungan pesantren tidak lagi masuk kategori ATS hanya karena persoalan administrasi.
Hingga Juni 2026, dari total 2.298 anak dalam data ATS di PPU, sebanyak 1.594 anak telah kembali masuk sistem pendidikan. Artinya masih terdapat 704 anak tidak sekolah.
Disdikpora menargetkan jumlah ATS di PPU dapat ditekan hingga tersisa di bawah 200 anak pada akhir tahun.
"Putus sekolah pasti tetap ada, tapi targetnya angkanya makin kecil. Mudah-mudahan tahun ini ATS bisa ditekan hingga sekitar 200 anak, apalagi tahun depan sudah ada Sekolah Rakyat," tutupnya.
(Sf/Lo)