Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Seksi (Kasie) Sejarah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, M Agus Syarifuddin. (Foto:M.anshori/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Kepala Seksi (Kasie) Sejarah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, M Agus Syarifuddin mengatakan bahwa peran dan tugas bagian seksi sejarah dalam upaya pelestarian budaya dan sejarah lokal diharapkan dapat membawa ke arah yang lebih baik.
Ini juga diatur di Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan berbagai perda terkait adat istiadat.
“Kami saat ini fokus dengan pembinaan dan pelestarian budaya daerah, termasuk dalam penyelenggaraan upacara adat tahunan,” jelas Agus, Selasa (9/7/2024).
Seksi Sejarah sedang mempersiapkan berbagai even budaya yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Salah satunya adalah upacara adat Erau Kutai.
“Kami selalu berkoordinasi dengan pihak Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura dan berbagai OPD untuk memastikan kelancaran acara,” ucapnya.
Dirinya menyebut dalam upaya pelestarian sejarah ini, masyarakat juga memiliki peran penting. Satu contoh nyata adalah melalui program aplikasi yang mengumpulkan asal usul budaya lokal.
“Kita memiliki 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang perlu diimplementasikan di daerah. Seperti seni tari yang telah menjadi bagian dari warisan budaya setelah melalui proses kajian dan penetapan yang panjang.
Pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja tetapi juga masyarakat. Hal ini penting agar upaya perlindungan dan pemanfaatan cagar budaya dapat berjalan dengan baik.
“Kami mendorong masyarakat untuk membentuk kelompok pelestarian budaya di desa dalam melestarikan cagar budaya setempat,” sebut Agus.
Dengan adanya berbagai program dan regulasi yang mendukung, diharapkan upaya pelestarian budaya dapat terus berlanjut.
“Kami juga harus siap menghadapi perubahan dengan tetap menjaga budaya lokal," pungkasnya.
Dirinya mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berperan serta dalam menjaga dan merawat budaya lokal demi masa depan yang lebih berbudaya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Seksi (Kasie) Sejarah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, M Agus Syarifuddin. (Foto:M.anshori/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Kepala Seksi (Kasie) Sejarah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, M Agus Syarifuddin mengatakan bahwa peran dan tugas bagian seksi sejarah dalam upaya pelestarian budaya dan sejarah lokal diharapkan dapat membawa ke arah yang lebih baik.
Ini juga diatur di Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan berbagai perda terkait adat istiadat.
“Kami saat ini fokus dengan pembinaan dan pelestarian budaya daerah, termasuk dalam penyelenggaraan upacara adat tahunan,” jelas Agus, Selasa (9/7/2024).
Seksi Sejarah sedang mempersiapkan berbagai even budaya yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Salah satunya adalah upacara adat Erau Kutai.
“Kami selalu berkoordinasi dengan pihak Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura dan berbagai OPD untuk memastikan kelancaran acara,” ucapnya.
Dirinya menyebut dalam upaya pelestarian sejarah ini, masyarakat juga memiliki peran penting. Satu contoh nyata adalah melalui program aplikasi yang mengumpulkan asal usul budaya lokal.
“Kita memiliki 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang perlu diimplementasikan di daerah. Seperti seni tari yang telah menjadi bagian dari warisan budaya setelah melalui proses kajian dan penetapan yang panjang.
Pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja tetapi juga masyarakat. Hal ini penting agar upaya perlindungan dan pemanfaatan cagar budaya dapat berjalan dengan baik.
“Kami mendorong masyarakat untuk membentuk kelompok pelestarian budaya di desa dalam melestarikan cagar budaya setempat,” sebut Agus.
Dengan adanya berbagai program dan regulasi yang mendukung, diharapkan upaya pelestarian budaya dapat terus berlanjut.
“Kami juga harus siap menghadapi perubahan dengan tetap menjaga budaya lokal," pungkasnya.
Dirinya mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berperan serta dalam menjaga dan merawat budaya lokal demi masa depan yang lebih berbudaya.
(Sf/By)