Seputar Kaltim

    Disdikbud Kaltim Evaluasi Nilai Matematika TKA Anjlok, Dampak Gaya Belajar Digital

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    03 Desember 2025 pukul 19:53 WITA

    Sekretaris Disdikbud Provinsi Kaltim, Rahmat Ramadhan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kaltim merespons serius fenomena anjloknya nilai mata pelajaran Matematika dalam Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang terjadi secara merata di hampir seluruh wilayah Indonesia. 

    Disdikbud memastikan akan segera melakukan evaluasi menyeluruh untuk membenahi kemampuan numerasi dasar siswa yang dinilai mengalami penurunan signifikan.

    Sekretaris Disdikbud Provinsi Kaltim, Rahmat Ramadhan, menyampaikan bahwa penurunan nilai Matematika ini bukanlah masalah regional Kaltim semata, melainkan tren nasional yang memerlukan perhatian serius.

    "Fenomena ini perlu dicermati serius, mengingat Matematika merupakan salah satu fondasi penting dalam pendidikan dasar maupun lanjutan," ujar Rahmat, Rabu (3/12/2025).

    Meskipun kritik muncul mengenai anjloknya kemampuan dasar di tengah penggunaan TKA—yang menggantikan Ujian Nasional (UN)—Rahmat menilai TKA sudah tepat karena sifatnya yang tidak wajib untuk kelulusan. Ia menegaskan TKA hanya menjadi syarat masuk jenjang atau jurusan tertentu.

    "Hanya saja ini menjadi syarat masuk jenjang atau jurusan tertentu sesuai standar nilai yang ditetapkan masing-masing sekolah atau program studi," katanya.

    Rahmat mencontohkan, seorang siswa tetap dinyatakan lulus sekolah meski nilai TKA-nya rendah (misalnya 400), asalkan tidak bermaksud melanjutkan ke jurusan yang mensyaratkan nilai tinggi (misalnya 500).

    Namun, Disdikbud mengakui adanya kritik dari berbagai pihak terkait menurunnya kemampuan siswa. Pihaknya kini berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menyamakan langkah evaluasi, termasuk memikirkan perbaikan metode pembelajaran.

    Rahmat menyebutkan faktor penurunan kemampuan Matematika disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari psikologi hingga gaya hidup.

    "Ketakutan siswa terhadap Matematika, kurangnya kebiasaan membaca, hingga perubahan gaya belajar di era digital menjadi bagian dari tantangan yang harus dibenahi," jelasnya.

    Ia juga menyinggung bahwa kondisi geografis Kaltim yang memiliki sejumlah wilayah pinggiran turut menjadi tantangan pemerataan kualitas pembelajaran.

    Mengenai dugaan anjloknya kemampuan ini terkait dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi COVID-19, Rahmat tidak memberikan kesimpulan langsung. 

    Namun, ia mengindikasikan adanya pengaruh dari pola belajar yang berubah selama pandemi dan kebiasaan penggunaan gawai (gadget) yang berlebihan di kalangan pelajar.

    "Pentingnya peran orang tua dalam mengatur kebiasaan anak di rumah, termasuk manajemen waktu tidur, waktu belajar, bermain, hingga penggunaan gadget harus lebih diperhatikan," tegasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Disdikbud Kaltim Evaluasi Nilai Matematika TKA Anjlok, Dampak Gaya Belajar Digital

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    03 Desember 2025 pukul 19:53 WITA

    Sekretaris Disdikbud Provinsi Kaltim, Rahmat Ramadhan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kaltim merespons serius fenomena anjloknya nilai mata pelajaran Matematika dalam Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang terjadi secara merata di hampir seluruh wilayah Indonesia. 

    Disdikbud memastikan akan segera melakukan evaluasi menyeluruh untuk membenahi kemampuan numerasi dasar siswa yang dinilai mengalami penurunan signifikan.

    Sekretaris Disdikbud Provinsi Kaltim, Rahmat Ramadhan, menyampaikan bahwa penurunan nilai Matematika ini bukanlah masalah regional Kaltim semata, melainkan tren nasional yang memerlukan perhatian serius.

    "Fenomena ini perlu dicermati serius, mengingat Matematika merupakan salah satu fondasi penting dalam pendidikan dasar maupun lanjutan," ujar Rahmat, Rabu (3/12/2025).

    Meskipun kritik muncul mengenai anjloknya kemampuan dasar di tengah penggunaan TKA—yang menggantikan Ujian Nasional (UN)—Rahmat menilai TKA sudah tepat karena sifatnya yang tidak wajib untuk kelulusan. Ia menegaskan TKA hanya menjadi syarat masuk jenjang atau jurusan tertentu.

    "Hanya saja ini menjadi syarat masuk jenjang atau jurusan tertentu sesuai standar nilai yang ditetapkan masing-masing sekolah atau program studi," katanya.

    Rahmat mencontohkan, seorang siswa tetap dinyatakan lulus sekolah meski nilai TKA-nya rendah (misalnya 400), asalkan tidak bermaksud melanjutkan ke jurusan yang mensyaratkan nilai tinggi (misalnya 500).

    Namun, Disdikbud mengakui adanya kritik dari berbagai pihak terkait menurunnya kemampuan siswa. Pihaknya kini berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menyamakan langkah evaluasi, termasuk memikirkan perbaikan metode pembelajaran.

    Rahmat menyebutkan faktor penurunan kemampuan Matematika disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari psikologi hingga gaya hidup.

    "Ketakutan siswa terhadap Matematika, kurangnya kebiasaan membaca, hingga perubahan gaya belajar di era digital menjadi bagian dari tantangan yang harus dibenahi," jelasnya.

    Ia juga menyinggung bahwa kondisi geografis Kaltim yang memiliki sejumlah wilayah pinggiran turut menjadi tantangan pemerataan kualitas pembelajaran.

    Mengenai dugaan anjloknya kemampuan ini terkait dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi COVID-19, Rahmat tidak memberikan kesimpulan langsung. 

    Namun, ia mengindikasikan adanya pengaruh dari pola belajar yang berubah selama pandemi dan kebiasaan penggunaan gawai (gadget) yang berlebihan di kalangan pelajar.

    "Pentingnya peran orang tua dalam mengatur kebiasaan anak di rumah, termasuk manajemen waktu tidur, waktu belajar, bermain, hingga penggunaan gadget harus lebih diperhatikan," tegasnya.

    (Sf/Rs)