Seputar Kaltim

    Disdik Lakukan Uji Publik, 60 SMP di Berau Bakal Terapkan Mulok Bahasa Banua

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    23 April 2026 pukul 21:45 WITA

    Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau terus mematangkan penerapan muatan lokal (mulok) Bahasa Banua melalui tahapan uji publik kurikulum. Untuk awal program ini akan diterapkan di sekitar 60 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Berau.

    Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah, menjelaskan bahwa uji publik menjadi tahap penting sebelum kurikulum mulok tersebut resmi diberlakukan di satuan pendidikan.

    "Jadi kalau uji publik ini sudah selesai, maka nanti bisa diteruskan untuk menjadi mulok," ujar Mardiatul Idalisah.

    Ia menyebutkan bahwa penerapan awal akan difokuskan pada jenjang SMP, sebelum nantinya diperluas ke tingkat Sekolah Dasar (SD) di seluruh wilayah Kabupaten Berau.

    "Yang pertama ini akan diterapkan di tingkat SMP dan pasti nanti akan menyasar ke tingkat sekolah dasar," katanya.

    Dirinya pun mengatakan pada tahap awal penerapan mulok tersebut akan diberlakukan di seluruh SMP yang ada di 13 kecamatan di Kabupaten Berau. 

    "Kurang lebih kalau SMP kita itu 60 sekolah termasuk dengan swasta di 13 kecamatan," tambahnya.

    Sementara itu, ia mengungkapkan bahwa mulai tahun 2027, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib. Sehingga kondisi tersebut membuat mulok yang saat ini masih menggunakan Bahasa Inggris di tingkat SD akan digantikan oleh Bahasa Banua.

    "Nah tahun 2027 nanti Bahasa Inggris itu sudah menjadi pelajaran reguler, jadi muatan lokalnya kita harus ganti," tuturnya.

    Dirinya menegaskan bahwa untuk mulok sendiri harus mencakup empat elemen utama, yaitu bahasa, budaya sejarah, kuliner, dan seni. Hal ini pun diharapkan dapat memperkuat pelestarian budaya daerah sekaligus membentuk identitas siswa.

    Terakhir, Mardiatul pun menyampaikan terkait tenaga pengajar, Disdik akan mengoptimalkan guru yang memiliki kemampuan Bahasa Banua serta memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan.

    "Paling tidak itu kan di satu sekolah itu satu dulu tenaga pengajar. Pengajarnya ini sebenarnya bisa guru seni, bisa guru bahasa Indonesia dan guru-guru lain yang kekurangan jam mengajar," tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Disdik Lakukan Uji Publik, 60 SMP di Berau Bakal Terapkan Mulok Bahasa Banua

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    23 April 2026 pukul 21:45 WITA

    Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau terus mematangkan penerapan muatan lokal (mulok) Bahasa Banua melalui tahapan uji publik kurikulum. Untuk awal program ini akan diterapkan di sekitar 60 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Berau.

    Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah, menjelaskan bahwa uji publik menjadi tahap penting sebelum kurikulum mulok tersebut resmi diberlakukan di satuan pendidikan.

    "Jadi kalau uji publik ini sudah selesai, maka nanti bisa diteruskan untuk menjadi mulok," ujar Mardiatul Idalisah.

    Ia menyebutkan bahwa penerapan awal akan difokuskan pada jenjang SMP, sebelum nantinya diperluas ke tingkat Sekolah Dasar (SD) di seluruh wilayah Kabupaten Berau.

    "Yang pertama ini akan diterapkan di tingkat SMP dan pasti nanti akan menyasar ke tingkat sekolah dasar," katanya.

    Dirinya pun mengatakan pada tahap awal penerapan mulok tersebut akan diberlakukan di seluruh SMP yang ada di 13 kecamatan di Kabupaten Berau. 

    "Kurang lebih kalau SMP kita itu 60 sekolah termasuk dengan swasta di 13 kecamatan," tambahnya.

    Sementara itu, ia mengungkapkan bahwa mulai tahun 2027, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib. Sehingga kondisi tersebut membuat mulok yang saat ini masih menggunakan Bahasa Inggris di tingkat SD akan digantikan oleh Bahasa Banua.

    "Nah tahun 2027 nanti Bahasa Inggris itu sudah menjadi pelajaran reguler, jadi muatan lokalnya kita harus ganti," tuturnya.

    Dirinya menegaskan bahwa untuk mulok sendiri harus mencakup empat elemen utama, yaitu bahasa, budaya sejarah, kuliner, dan seni. Hal ini pun diharapkan dapat memperkuat pelestarian budaya daerah sekaligus membentuk identitas siswa.

    Terakhir, Mardiatul pun menyampaikan terkait tenaga pengajar, Disdik akan mengoptimalkan guru yang memiliki kemampuan Bahasa Banua serta memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan.

    "Paling tidak itu kan di satu sekolah itu satu dulu tenaga pengajar. Pengajarnya ini sebenarnya bisa guru seni, bisa guru bahasa Indonesia dan guru-guru lain yang kekurangan jam mengajar," tutupnya.

    (Sf/Rs)