Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisha. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb- Untuk menekan angka jumlah Anak Putus Sekolah (APS), saat ini Disdik Berau sedang gencar melaksanakan Program Belajar Paket. Langkah dalam mengatasi permasalahan Anak Tidak Sekolah (ATS) tersebut, dilakukan Disdik Berau dengan melibatkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisha, mengatakan, APS di Berau telah turun dari 3.000 pada tahun 2023 dan sekarang menjadi 2.000 anak di tahun 2024. Meski demikian, upaya ini harus terus dilanjutkan pada tahun 2025 melalui peluncuran program Zero ATS, yang bertujuan menekan angka tersebut menjadi nol.
"Kami berharap anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah dapat segera melapor kepada kami, sehingga kami bisa mengarahkan mereka untuk mengikuti program pendidikan PKBM," ungkap Mardiatul Idalisha.
Selain itu, sebagian besar ATS timbul akibat berbagai faktor, seperti pindah domisili, sehingga banyak juga berasal dari anak-anak pendatang yang belum terdaftar di sekolah setempat atau kendala lain yang dapat menghambat anak melanjutkan pendidikannya.
"Nah kalau dia berada disini itu yang akan kita dorong supaya kita kerja sama dengan PKBM, sehingga mereka tetap bersekolah dengan jalur PKBM tersebut," ujarnya
Sementara itu, ia juga menyampaikan PKBM menyediakan program pendidikan non-formal berupa Paket A (setara SD) dan Paket B (setara SMP), sehingga anak yang putus sekolah tetap dapat melanjutkan pendidikan mereka melalui PKBM.
"Karena kewenangan daerah hanya untuk tingkat SD dan SMP, kami fasilitasi anak-anak ini melalui Paket A dan B," terangnya.
Dirinya juga mengatakan untuk memantau angka tesebut dengan memanfaatkan sistem Dapodik (Data Pokok Pendidikan) yang terintegrasi dengan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) untuk memantau dan memperbarui data terkait ATS. Dengan sistem ini, Disdik dapat mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan pendidikan secara lebih efektif.
"Pemantauan dilakukan setiap tahun, dengan data yang dapat diperbarui saat Dapodik dibuka oleh operator sekolah," pungkasnya.
Mardiatul berharap agar lebih banyak anak mendapatkan akses pendidikan yang layak dan angka putus sekolah dapat terus ditekan. Sehingga ia juga berharap masyarakat dapat memperoleh keuntungan dari hal tersebut dan dapat lebih sejahtera.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisha. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb- Untuk menekan angka jumlah Anak Putus Sekolah (APS), saat ini Disdik Berau sedang gencar melaksanakan Program Belajar Paket. Langkah dalam mengatasi permasalahan Anak Tidak Sekolah (ATS) tersebut, dilakukan Disdik Berau dengan melibatkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisha, mengatakan, APS di Berau telah turun dari 3.000 pada tahun 2023 dan sekarang menjadi 2.000 anak di tahun 2024. Meski demikian, upaya ini harus terus dilanjutkan pada tahun 2025 melalui peluncuran program Zero ATS, yang bertujuan menekan angka tersebut menjadi nol.
"Kami berharap anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah dapat segera melapor kepada kami, sehingga kami bisa mengarahkan mereka untuk mengikuti program pendidikan PKBM," ungkap Mardiatul Idalisha.
Selain itu, sebagian besar ATS timbul akibat berbagai faktor, seperti pindah domisili, sehingga banyak juga berasal dari anak-anak pendatang yang belum terdaftar di sekolah setempat atau kendala lain yang dapat menghambat anak melanjutkan pendidikannya.
"Nah kalau dia berada disini itu yang akan kita dorong supaya kita kerja sama dengan PKBM, sehingga mereka tetap bersekolah dengan jalur PKBM tersebut," ujarnya
Sementara itu, ia juga menyampaikan PKBM menyediakan program pendidikan non-formal berupa Paket A (setara SD) dan Paket B (setara SMP), sehingga anak yang putus sekolah tetap dapat melanjutkan pendidikan mereka melalui PKBM.
"Karena kewenangan daerah hanya untuk tingkat SD dan SMP, kami fasilitasi anak-anak ini melalui Paket A dan B," terangnya.
Dirinya juga mengatakan untuk memantau angka tesebut dengan memanfaatkan sistem Dapodik (Data Pokok Pendidikan) yang terintegrasi dengan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) untuk memantau dan memperbarui data terkait ATS. Dengan sistem ini, Disdik dapat mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan pendidikan secara lebih efektif.
"Pemantauan dilakukan setiap tahun, dengan data yang dapat diperbarui saat Dapodik dibuka oleh operator sekolah," pungkasnya.
Mardiatul berharap agar lebih banyak anak mendapatkan akses pendidikan yang layak dan angka putus sekolah dapat terus ditekan. Sehingga ia juga berharap masyarakat dapat memperoleh keuntungan dari hal tersebut dan dapat lebih sejahtera.
(Sf/Rs)