Cari disini...
Seputar Kaltim
Petugas saat memadamkan Karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah di Kukar (Dok: Disdamkar Matan Kukar)
Tenggarong - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) memetakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah melanda 14 kecamatan sejak awal musim kemarau pada April 2026.
Belasan kecamatan yang terdampak Karhutla yakni Muara Badak, Sanga-Sanga, Muara Jawa, Samboja, Marang Kayu, Loa Janan, Loa Kulu, Tenggarong Seberang, Samboja Barat, Tenggarong, Muara Kaman, Muara Muntai, Kenohan dan Kota Bangun.
Sebaran kejadian tersebut menandakan karhutla masih menjadi salah satu potensi bencana yang perlu diwaspadai selama musim kemarau.
“Muara Badak, Samboja, Muara Jawa dan Sanga-Sanga masuk empat kecamatan yang memiliki intensitas tinggi, sementara kecamatan lainnya masuk kategori sedang dan rendah,” ujar Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, Jumat (14/8/2026).
Ia menyampaikan musim kemarau yang saat ini tengah melanda Kukar diprediksi akan berakhir pada Oktober 2026 mendatang, tapi kondisi tersebut masih dapat berubah apabila terjadi anomali cuaca.
“Musim kemarau diprediksi akan berakhir pada Oktober. Tapi kalau masih ada anomali-anomali itu, maka musim kemarau akan mereda sampai akhir Desember 2026,” jelasnya.
Sandi mengungkapkan ada beberapa faktor penyebab yang dapat memicu terjadinya Karhutla, mulai dari cuaca yang panas, keberadaan pecahan kaca yang dapat memantulkan panas matahari hingga aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat.
“Faktornya macam-macam, mulai dari cuaca panas, pecahan beling kaca yang memantulkan panas matahari, kemudian ada juga pembakaran lahan oleh warga,” terangnya.
Sebagai langkah antisipasi terjadinya karhutla, BPBD Kukar terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan pemantauan terhadap titik hotspot serta memperkuat upaya pencegahan di wilayah yang memiliki potensi kebakaran.
Petugas saat memadamkan Karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah di Kukar (Dok: Disdamkar Matan Kukar)
Tidak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar tidak melakukan pembakaran lahan, khususnya pada lahan yang kering dan mudah terbakar.
“Kita saling bahu-membahu dengan berbagai pihak dalam upaya pencegahan serta penanganan terhadap Karhutla di musim kemarau ini,” tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Petugas saat memadamkan Karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah di Kukar (Dok: Disdamkar Matan Kukar)
Tenggarong - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) memetakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah melanda 14 kecamatan sejak awal musim kemarau pada April 2026.
Belasan kecamatan yang terdampak Karhutla yakni Muara Badak, Sanga-Sanga, Muara Jawa, Samboja, Marang Kayu, Loa Janan, Loa Kulu, Tenggarong Seberang, Samboja Barat, Tenggarong, Muara Kaman, Muara Muntai, Kenohan dan Kota Bangun.
Sebaran kejadian tersebut menandakan karhutla masih menjadi salah satu potensi bencana yang perlu diwaspadai selama musim kemarau.
“Muara Badak, Samboja, Muara Jawa dan Sanga-Sanga masuk empat kecamatan yang memiliki intensitas tinggi, sementara kecamatan lainnya masuk kategori sedang dan rendah,” ujar Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, Jumat (14/8/2026).
Ia menyampaikan musim kemarau yang saat ini tengah melanda Kukar diprediksi akan berakhir pada Oktober 2026 mendatang, tapi kondisi tersebut masih dapat berubah apabila terjadi anomali cuaca.
“Musim kemarau diprediksi akan berakhir pada Oktober. Tapi kalau masih ada anomali-anomali itu, maka musim kemarau akan mereda sampai akhir Desember 2026,” jelasnya.
Sandi mengungkapkan ada beberapa faktor penyebab yang dapat memicu terjadinya Karhutla, mulai dari cuaca yang panas, keberadaan pecahan kaca yang dapat memantulkan panas matahari hingga aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat.
“Faktornya macam-macam, mulai dari cuaca panas, pecahan beling kaca yang memantulkan panas matahari, kemudian ada juga pembakaran lahan oleh warga,” terangnya.
Sebagai langkah antisipasi terjadinya karhutla, BPBD Kukar terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan pemantauan terhadap titik hotspot serta memperkuat upaya pencegahan di wilayah yang memiliki potensi kebakaran.
Petugas saat memadamkan Karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah di Kukar (Dok: Disdamkar Matan Kukar)
Tidak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar tidak melakukan pembakaran lahan, khususnya pada lahan yang kering dan mudah terbakar.
“Kita saling bahu-membahu dengan berbagai pihak dalam upaya pencegahan serta penanganan terhadap Karhutla di musim kemarau ini,” tandasnya.
(Sf/Rs)