Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi penularan penyakit malaria yang dilakukan nyamuk anopheles betina.(Freepik)
Penajam – Kasus malaria di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami penurunan drastis dari 1.331 kasus hingga menjadi 579 perkara atau menurun sekitar 60 persen dalam setahun terakhir.
“Berdasarkan data kita, angka malaria di PPU turun drastis. Semulanya ada 1.331 kasus pada 2023 lalu, kini hanya tersisa 579 perkara saja,” ucap Kepala Seksi (Kasi) Entomologi Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, Harijo Ponco Waluyo, Rabu (5/2/2025).
Meski angka malaria turun drastis, tapi PPU masuk dalam zona kuning karena pada awal tahun ini ada puluhan kasus malaria yang ditemukan Dinkes di wilayah perbatasan, seperti daerah perbatasan antara Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Barat (Kubar) dan Paser.
Pasifnya penyebaran wabah malaria ini dikarenakan kondisi lingkungan yang kurang mendukung, sehingga nyamuk Anopheles yang merupakan sumber penyakit malaria sangat leluasa dalam berkembang biak.
“Rata-rata yang terjangkit itu adalah orang-orang yang sering beraktivitas di hutan tropis, terutama pekerja Ibu Kota Nusantara (IKN) yang berdampingan langsung dengan habitat nyamuk anopheles,” ungkap Ponco.
Untuk mempercepat penurunan kasus dan memutus rantai penyebaran malaria, Dinkes PPU pun melakukan berbagai upaya strategis, seperti menggelar pelatihan terhadap 50 kader kesehatan untuk memantau langsung wilayah terpencil.
Dinkes juga akan mendistribusi 64.500 kelambu sebagai langkah antisipasi dari jangkitan parasit Plasmodium yang dibawa nyamuk Anopheles betina.
“Ini semua kita lakukan agar PPU pada 2028 masuk zona hijau dan terbebas dari kasus malaria. Karena sebelumnya, wilayah kita sempat masuk zona merah dengan Annual Parasit Incidence (API) di atas lima per 1.000 penduduk,” tandasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi penularan penyakit malaria yang dilakukan nyamuk anopheles betina.(Freepik)
Penajam – Kasus malaria di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami penurunan drastis dari 1.331 kasus hingga menjadi 579 perkara atau menurun sekitar 60 persen dalam setahun terakhir.
“Berdasarkan data kita, angka malaria di PPU turun drastis. Semulanya ada 1.331 kasus pada 2023 lalu, kini hanya tersisa 579 perkara saja,” ucap Kepala Seksi (Kasi) Entomologi Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, Harijo Ponco Waluyo, Rabu (5/2/2025).
Meski angka malaria turun drastis, tapi PPU masuk dalam zona kuning karena pada awal tahun ini ada puluhan kasus malaria yang ditemukan Dinkes di wilayah perbatasan, seperti daerah perbatasan antara Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Barat (Kubar) dan Paser.
Pasifnya penyebaran wabah malaria ini dikarenakan kondisi lingkungan yang kurang mendukung, sehingga nyamuk Anopheles yang merupakan sumber penyakit malaria sangat leluasa dalam berkembang biak.
“Rata-rata yang terjangkit itu adalah orang-orang yang sering beraktivitas di hutan tropis, terutama pekerja Ibu Kota Nusantara (IKN) yang berdampingan langsung dengan habitat nyamuk anopheles,” ungkap Ponco.
Untuk mempercepat penurunan kasus dan memutus rantai penyebaran malaria, Dinkes PPU pun melakukan berbagai upaya strategis, seperti menggelar pelatihan terhadap 50 kader kesehatan untuk memantau langsung wilayah terpencil.
Dinkes juga akan mendistribusi 64.500 kelambu sebagai langkah antisipasi dari jangkitan parasit Plasmodium yang dibawa nyamuk Anopheles betina.
“Ini semua kita lakukan agar PPU pada 2028 masuk zona hijau dan terbebas dari kasus malaria. Karena sebelumnya, wilayah kita sempat masuk zona merah dengan Annual Parasit Incidence (API) di atas lima per 1.000 penduduk,” tandasnya.
(Sf/By)