Seputar Kaltim

    Dinkes PPU Temukan 22 Kasus HIV Baru, Mayoritas Usia 20-40 Tahun

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    07 September 2026 pukul 17:59 WITA

    Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes PPU, Sri Wiyani. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat 110 kasus HIV hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 73 orang masih hidup dan 64 di antaranya menjalani pengobatan.

    Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes PPU, Sri Wiyani, mengatakan dua kasus baru ditemukan pada Agustus. Sepanjang 2026, jumlah kasus baru mencapai 22 orang.

    "Pada Agustus ada tambahan dua kasus. Jadi sepanjang 2026 sudah ada 22 kasus baru, dengan total 110 kasus. Dari jumlah itu, 73 orang masih hidup, 64 masih menjalani pengobatan dan satu orang dirujuk ke luar daerah," kata Yani, belum lama ini Senin (7/9/2026).

    Kasus HIV ditemukan pada laki-laki maupun perempuan. Rentang usia 20-40 tahun menjadi kelompok yang paling banyak ditemukan.

    Layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV tersedia di 11 puskesmas dan dua rumah sakit daerah, yakni RSUD Sepaku serta RSUD Ratu Aji Putri Botung. Sementara rumah sakit swasta Mayapada dan Hermina IKN telah dapat melakukan skrining HIV.

    Yani mengatakan pemeriksaan tidak hanya menyasar kelompok dengan risiko penularan tinggi. Ada delapan populasi kunci yang menjadi sasaran, yakni lelaki seks dengan lelaki (LSL), ibu hamil, pasien TBC, orang dengan infeksi menular seksual, warga binaan pemasyarakatan, pengguna jarum suntik, waria atau transgender, serta pekerja seks perempuan.

    "Di luar populasi kunci itu, pemeriksaan juga menyasar populasi umum, termasuk pasangan dan anak dari orang dengan HIV," ujarnya.

    HIV menyerang sistem kekebalan tubuh. Pada tahap awal, orang yang terinfeksi bisa tidak menunjukkan gejala sehingga pemeriksaan menjadi penting untuk mengetahui status HIV.

    "Stadium HIV ada satu sampai empat. Pada stadium awal biasanya belum ada gejala yang khas. Ketika sudah muncul infeksi oportunistik, penyakit yang sebenarnya ringan bisa menjadi lebih berat pada penderita HIV," jelasnya.

    Yani mencontohkan diare. Pada orang tanpa HIV, keluhan tersebut umumnya tidak berlangsung lama. Namun pada penderita HIV dengan kondisi sel-sel sistem kekebalan tubuh yang sudah menurun, diare dapat berlangsung hingga berbulan-bulan.

    Pengobatan HIV dilakukan dengan obat antiretroviral (ARV) yang harus diminum rutin satu kali sehari. Pengobatan tidak menghilangkan virus dari tubuh, tetapi menekan jumlah virus hingga berada pada tingkat yang sangat rendah.

    "ARV diminum satu kali sehari dan harus rutin. Setelah enam bulan pengobatan, dilakukan pemeriksaan viral load untuk melihat apakah jumlah virus dalam darah sudah tersupresi atau masih berpotensi menularkan," kata Yani.

    Jika viral load sudah tersupresi, risiko penularan HIV dapat ditekan. Meski demikian, pasien tetap harus menjalani pengobatan dan pemeriksaan secara berkala.

    Yani mendorong pasien untuk tidak menghentikan pengobatan dan melakukan pemeriksaan sedikitnya setiap enam bulan agar kondisi kesehatan dan jumlah virus tetap terpantau.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Dinkes PPU Temukan 22 Kasus HIV Baru, Mayoritas Usia 20-40 Tahun

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    07 September 2026 pukul 17:59 WITA

    Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes PPU, Sri Wiyani. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat 110 kasus HIV hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 73 orang masih hidup dan 64 di antaranya menjalani pengobatan.

    Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes PPU, Sri Wiyani, mengatakan dua kasus baru ditemukan pada Agustus. Sepanjang 2026, jumlah kasus baru mencapai 22 orang.

    "Pada Agustus ada tambahan dua kasus. Jadi sepanjang 2026 sudah ada 22 kasus baru, dengan total 110 kasus. Dari jumlah itu, 73 orang masih hidup, 64 masih menjalani pengobatan dan satu orang dirujuk ke luar daerah," kata Yani, belum lama ini Senin (7/9/2026).

    Kasus HIV ditemukan pada laki-laki maupun perempuan. Rentang usia 20-40 tahun menjadi kelompok yang paling banyak ditemukan.

    Layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV tersedia di 11 puskesmas dan dua rumah sakit daerah, yakni RSUD Sepaku serta RSUD Ratu Aji Putri Botung. Sementara rumah sakit swasta Mayapada dan Hermina IKN telah dapat melakukan skrining HIV.

    Yani mengatakan pemeriksaan tidak hanya menyasar kelompok dengan risiko penularan tinggi. Ada delapan populasi kunci yang menjadi sasaran, yakni lelaki seks dengan lelaki (LSL), ibu hamil, pasien TBC, orang dengan infeksi menular seksual, warga binaan pemasyarakatan, pengguna jarum suntik, waria atau transgender, serta pekerja seks perempuan.

    "Di luar populasi kunci itu, pemeriksaan juga menyasar populasi umum, termasuk pasangan dan anak dari orang dengan HIV," ujarnya.

    HIV menyerang sistem kekebalan tubuh. Pada tahap awal, orang yang terinfeksi bisa tidak menunjukkan gejala sehingga pemeriksaan menjadi penting untuk mengetahui status HIV.

    "Stadium HIV ada satu sampai empat. Pada stadium awal biasanya belum ada gejala yang khas. Ketika sudah muncul infeksi oportunistik, penyakit yang sebenarnya ringan bisa menjadi lebih berat pada penderita HIV," jelasnya.

    Yani mencontohkan diare. Pada orang tanpa HIV, keluhan tersebut umumnya tidak berlangsung lama. Namun pada penderita HIV dengan kondisi sel-sel sistem kekebalan tubuh yang sudah menurun, diare dapat berlangsung hingga berbulan-bulan.

    Pengobatan HIV dilakukan dengan obat antiretroviral (ARV) yang harus diminum rutin satu kali sehari. Pengobatan tidak menghilangkan virus dari tubuh, tetapi menekan jumlah virus hingga berada pada tingkat yang sangat rendah.

    "ARV diminum satu kali sehari dan harus rutin. Setelah enam bulan pengobatan, dilakukan pemeriksaan viral load untuk melihat apakah jumlah virus dalam darah sudah tersupresi atau masih berpotensi menularkan," kata Yani.

    Jika viral load sudah tersupresi, risiko penularan HIV dapat ditekan. Meski demikian, pasien tetap harus menjalani pengobatan dan pemeriksaan secara berkala.

    Yani mendorong pasien untuk tidak menghentikan pengobatan dan melakukan pemeriksaan sedikitnya setiap enam bulan agar kondisi kesehatan dan jumlah virus tetap terpantau.

    (Sf/Rs)