Seputar Kaltim

    Dinkes Kutim Tambah Alat Pemeriksaan TBC, Targetkan Penemuan 2.107 Kasus pada 2026

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    27 Juli 2026 pukul 12:53 WITA

    Ilustrasi pemeriksaan tuberkulosis (TBC), (Foto: Ilustrasi AI)

    Sangatta - Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menambah dua unit Tes Cepat Molekuler (TCM) dan dua portable X-ray pada tahun ini untuk memperkuat deteksi tuberkulosis (TBC). Penguatan fasilitas tersebut menjadi bagian dari target menemukan 2.107 kasus TBC di Kutim sepanjang 2026.

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan berdasarkan WHO Global Tuberculosis Report, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dengan beban TBC tertinggi setelah India. Diperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TBC setiap tahun dengan sekitar 125 ribu kematian.

    "Artinya, rata-rata lebih dari 340 masyarakat Indonesia meninggal setiap hari akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan apabila ditemukan serta diobati secara tepat," ujar dr Yuwana saat Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Kabupaten Kutim, beberapa waktu lalu. 

    Menurutnya, Kalimantan Timur termasuk dalam 18 provinsi penyumbang kasus TBC terbesar di Indonesia. Sementara di tingkat provinsi, Kutim berada di urutan keempat bersama Kota Balikpapan dengan jumlah kasus TBC terbanyak di antara 10 kabupaten/kota.

    "Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian TBC di daerah kita harus terus diperkuat melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Angka-angka tersebut hendaknya tidak hanya menjadi statistik. Di balik setiap kasus terdapat seseorang yang membutuhkan pelayanan kesehatan, dukungan keluarga, dan kepedulian masyarakat," katanya.

    Untuk mempercepat penanganan, Dinkes Kutim menargetkan 9.884 terduga TBC dan penemuan 2.107 kasus TBC sepanjang 2026.

    Target tersebut akan dicapai melalui penemuan kasus secara aktif (active case finding), investigasi kontak keluarga pasien, penguatan layanan di 21 puskesmas dan 10 rumah sakit, peningkatan akses pemeriksaan laboratorium, pemberian terapi pencegahan bagi kelompok berisiko, serta memastikan ketersediaan obat anti-TBC dan penguatan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

    Untuk mendukung upaya tersebut, Dinkes Kutim juga menambah sarana pemeriksaan TBC. Saat ini Kutim telah memiliki lima unit Tes Cepat Molekuler (TCM) dan pada tahun ini akan menambah dua unit lagi melalui APBD.

    Selain itu, dua unit portable X-ray akan ditempatkan di RSUD Kudungga Sangatta dan RSUD Sangkulirang untuk mendukung deteksi dini TBC. Dinkes Kutim juga akan menerima hibah 17 unit alat MPOCT dari Kementerian Kesehatan yang memungkinkan pemeriksaan bakteri TBC menggunakan metode usap (swab), sehingga tidak lagi bergantung pada pemeriksaan dahak seperti sebelumnya.

    Yuwana menegaskan, keberhasilan eliminasi TBC tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Karena itu, pihaknya mengajak seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) mengambil peran sesuai tugas dan kewenangannya.

    Bappeda didorong mengintegrasikan program eliminasi TBC ke dalam perencanaan pembangunan daerah beserta dukungan pembiayaannya. Dinas Pendidikan diharapkan memperkuat edukasi perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah, sedangkan Dinas Sosial memberikan dukungan kepada pasien TBC dari keluarga kurang mampu agar dapat menjalani pengobatan hingga tuntas.

    Sementara itu, pemerintah desa diharapkan mengoptimalkan peran kader kesehatan, posyandu, dan lembaga kemasyarakatan desa dalam kegiatan edukasi, investigasi kontak, serta pendampingan pasien. Dinas Tenaga Kerja bersama dunia usaha juga didorong menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pencegahan TBC melalui edukasi, skrining kelompok berisiko, serta pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

    Dinkes Kutim turut mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, media massa, dan perguruan tinggi menjadi mitra pemerintah dalam menyampaikan informasi yang benar mengenai TBC, menghilangkan stigma terhadap penderita, serta meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa penyakit tersebut dapat dicegah dan disembuhkan.

    Melalui forum koordinasi lintas sektor tersebut, Dinkes Kutim berharap lahir rencana aksi yang terukur, penguatan pemantauan dan evaluasi secara berkala, serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pencegahan, penemuan kasus, dan pendampingan pasien.

    Yuwana optimistis target eliminasi TBC pada 2030 dapat tercapai. Menurutnya, Kutim memiliki modal yang kuat, yakni komitmen pemerintah daerah, tenaga kesehatan yang berdedikasi, jaringan layanan kesehatan yang terus berkembang, serta dukungan 282 kader kesehatan binaan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) yang tersebar di 139 desa dan 20 kelurahan di 18 kecamatan.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Dinkes Kutim Tambah Alat Pemeriksaan TBC, Targetkan Penemuan 2.107 Kasus pada 2026

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    27 Juli 2026 pukul 12:53 WITA

    Ilustrasi pemeriksaan tuberkulosis (TBC), (Foto: Ilustrasi AI)

    Sangatta - Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menambah dua unit Tes Cepat Molekuler (TCM) dan dua portable X-ray pada tahun ini untuk memperkuat deteksi tuberkulosis (TBC). Penguatan fasilitas tersebut menjadi bagian dari target menemukan 2.107 kasus TBC di Kutim sepanjang 2026.

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan berdasarkan WHO Global Tuberculosis Report, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dengan beban TBC tertinggi setelah India. Diperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TBC setiap tahun dengan sekitar 125 ribu kematian.

    "Artinya, rata-rata lebih dari 340 masyarakat Indonesia meninggal setiap hari akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan apabila ditemukan serta diobati secara tepat," ujar dr Yuwana saat Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Kabupaten Kutim, beberapa waktu lalu. 

    Menurutnya, Kalimantan Timur termasuk dalam 18 provinsi penyumbang kasus TBC terbesar di Indonesia. Sementara di tingkat provinsi, Kutim berada di urutan keempat bersama Kota Balikpapan dengan jumlah kasus TBC terbanyak di antara 10 kabupaten/kota.

    "Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian TBC di daerah kita harus terus diperkuat melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Angka-angka tersebut hendaknya tidak hanya menjadi statistik. Di balik setiap kasus terdapat seseorang yang membutuhkan pelayanan kesehatan, dukungan keluarga, dan kepedulian masyarakat," katanya.

    Untuk mempercepat penanganan, Dinkes Kutim menargetkan 9.884 terduga TBC dan penemuan 2.107 kasus TBC sepanjang 2026.

    Target tersebut akan dicapai melalui penemuan kasus secara aktif (active case finding), investigasi kontak keluarga pasien, penguatan layanan di 21 puskesmas dan 10 rumah sakit, peningkatan akses pemeriksaan laboratorium, pemberian terapi pencegahan bagi kelompok berisiko, serta memastikan ketersediaan obat anti-TBC dan penguatan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

    Untuk mendukung upaya tersebut, Dinkes Kutim juga menambah sarana pemeriksaan TBC. Saat ini Kutim telah memiliki lima unit Tes Cepat Molekuler (TCM) dan pada tahun ini akan menambah dua unit lagi melalui APBD.

    Selain itu, dua unit portable X-ray akan ditempatkan di RSUD Kudungga Sangatta dan RSUD Sangkulirang untuk mendukung deteksi dini TBC. Dinkes Kutim juga akan menerima hibah 17 unit alat MPOCT dari Kementerian Kesehatan yang memungkinkan pemeriksaan bakteri TBC menggunakan metode usap (swab), sehingga tidak lagi bergantung pada pemeriksaan dahak seperti sebelumnya.

    Yuwana menegaskan, keberhasilan eliminasi TBC tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Karena itu, pihaknya mengajak seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) mengambil peran sesuai tugas dan kewenangannya.

    Bappeda didorong mengintegrasikan program eliminasi TBC ke dalam perencanaan pembangunan daerah beserta dukungan pembiayaannya. Dinas Pendidikan diharapkan memperkuat edukasi perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah, sedangkan Dinas Sosial memberikan dukungan kepada pasien TBC dari keluarga kurang mampu agar dapat menjalani pengobatan hingga tuntas.

    Sementara itu, pemerintah desa diharapkan mengoptimalkan peran kader kesehatan, posyandu, dan lembaga kemasyarakatan desa dalam kegiatan edukasi, investigasi kontak, serta pendampingan pasien. Dinas Tenaga Kerja bersama dunia usaha juga didorong menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pencegahan TBC melalui edukasi, skrining kelompok berisiko, serta pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

    Dinkes Kutim turut mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, media massa, dan perguruan tinggi menjadi mitra pemerintah dalam menyampaikan informasi yang benar mengenai TBC, menghilangkan stigma terhadap penderita, serta meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa penyakit tersebut dapat dicegah dan disembuhkan.

    Melalui forum koordinasi lintas sektor tersebut, Dinkes Kutim berharap lahir rencana aksi yang terukur, penguatan pemantauan dan evaluasi secara berkala, serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pencegahan, penemuan kasus, dan pendampingan pasien.

    Yuwana optimistis target eliminasi TBC pada 2030 dapat tercapai. Menurutnya, Kutim memiliki modal yang kuat, yakni komitmen pemerintah daerah, tenaga kesehatan yang berdedikasi, jaringan layanan kesehatan yang terus berkembang, serta dukungan 282 kader kesehatan binaan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) yang tersebar di 139 desa dan 20 kelurahan di 18 kecamatan.

    (Sf/Rs)