Seputar Kaltim

    Dinkes Kaltim Sebut Angka Kematian Ibu dan Bayi Sudah Mulai Terkendali

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    03 Juni 2024 pukul 16:00 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin saat rapat evaluasi kematian bayi neonatal. (Foto:Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, mengungkapkan bahwa angka kematian ibu dan bayi, baik neonatal maupun bayi balita, telah mulai terkendali. 

    Hal ini menjadi sorotan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia, dengan indikator yang termasuk dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah).

    Dalam upaya mengukur kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan menggunakan dua indikator utama dalam RPJMD, yaitu angka DB dan stunting. Kematian ibu dan bayi juga masuk dalam indikator itu. Meskipun angka kematian ibu dan bayi sudah berada di bawah target, Dinkes tetap berkomitmen untuk mendekati nol kasus kematian.

    "Standar angka kematian bayi hingga tahun 2030 adalah 70 per 100 ribu kelahiran hidup. Saat ini, angka kematian masih berada pada 183 per 100 ribu kelahiran," ujar Jaya Mualimin saat rapat LP LS dalam rangka kematian neonatal di Samarinda, Senin (4/6/2024). "Meskipun kita sudah berada di bawah target, kami ingin mencapai nol kasus kematian," lanjutnya.

    Dalam perhitungannya, Jaya Mualimin menjelaskan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 64 ribu kelahiran di wilayah tersebut. Dengan mengambil angka kematian 83 per tahun, maka perbandingan antara kematian dan kelahiran adalah 6:7. Artinya, setiap 10 ribu kelahiran, terdapat 7 orang yang meninggal. Meskipun sudah berada di bawah target, Dinkes tetap berupaya untuk mengurangi angka kematian secara signifikan.

    "Kami ingin mencapai prestasi di bidang kesehatan, khususnya dalam mengurangi kematian ibu dan bayi baru lahir, karena ini menjadi standar kesehatan di suatu wilayah," tambah Jaya. 

    Dengan kerjasama yang kuat, diharapkan angka kematian ibu dan bayi dapat terus menurun hingga mencapai standar kesehatan yang diinginkan. "Keterlibatan seluruh segmen masyarakat dan pemangku kebijakan di provinsi Kaltim menjadi prioritas dalam mencapai tujuan ini," harapnya.

    Dinkes berkomitmen untuk terus memantau dan mengimplementasikan program-program yang mendukung upaya pencegahan dan penanganan kesehatan ibu dan bayi di wilayah tersebut. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Dinkes Kaltim Sebut Angka Kematian Ibu dan Bayi Sudah Mulai Terkendali

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    03 Juni 2024 pukul 16:00 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin saat rapat evaluasi kematian bayi neonatal. (Foto:Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, mengungkapkan bahwa angka kematian ibu dan bayi, baik neonatal maupun bayi balita, telah mulai terkendali. 

    Hal ini menjadi sorotan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia, dengan indikator yang termasuk dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah).

    Dalam upaya mengukur kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan menggunakan dua indikator utama dalam RPJMD, yaitu angka DB dan stunting. Kematian ibu dan bayi juga masuk dalam indikator itu. Meskipun angka kematian ibu dan bayi sudah berada di bawah target, Dinkes tetap berkomitmen untuk mendekati nol kasus kematian.

    "Standar angka kematian bayi hingga tahun 2030 adalah 70 per 100 ribu kelahiran hidup. Saat ini, angka kematian masih berada pada 183 per 100 ribu kelahiran," ujar Jaya Mualimin saat rapat LP LS dalam rangka kematian neonatal di Samarinda, Senin (4/6/2024). "Meskipun kita sudah berada di bawah target, kami ingin mencapai nol kasus kematian," lanjutnya.

    Dalam perhitungannya, Jaya Mualimin menjelaskan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 64 ribu kelahiran di wilayah tersebut. Dengan mengambil angka kematian 83 per tahun, maka perbandingan antara kematian dan kelahiran adalah 6:7. Artinya, setiap 10 ribu kelahiran, terdapat 7 orang yang meninggal. Meskipun sudah berada di bawah target, Dinkes tetap berupaya untuk mengurangi angka kematian secara signifikan.

    "Kami ingin mencapai prestasi di bidang kesehatan, khususnya dalam mengurangi kematian ibu dan bayi baru lahir, karena ini menjadi standar kesehatan di suatu wilayah," tambah Jaya. 

    Dengan kerjasama yang kuat, diharapkan angka kematian ibu dan bayi dapat terus menurun hingga mencapai standar kesehatan yang diinginkan. "Keterlibatan seluruh segmen masyarakat dan pemangku kebijakan di provinsi Kaltim menjadi prioritas dalam mencapai tujuan ini," harapnya.

    Dinkes berkomitmen untuk terus memantau dan mengimplementasikan program-program yang mendukung upaya pencegahan dan penanganan kesehatan ibu dan bayi di wilayah tersebut. (Adv)

    (Sf/Rs)