Seputar Kaltim

    Dinkes Kaltim Kesulitan Ukur Dampak Program Makanan Bergizi untuk Siswa, Data Lapangan Belum Masuk

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    24 September 2025 pukul 14:57 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur belum memiliki data yang jelas dalam perkembangan tumbuh siswa.

    Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mengakui belum mendapatkan laporan lengkap terkait dampak program tersebut di tingkat sekolah, khususnya mengenai penimbangan berat dan tinggi badan siswa.

    Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, saat diwawancarai, mengungkapkan bahwa pengukuran dampak program di sekolah masih menunggu konfirmasi dari jajaran di tingkat kota. Menurutnya, penimbangan siswa seharusnya dilakukan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

    "Untuk anak-anak sekolah, memang targetnya adalah anak-anak dari TK sampai SMA yang mengikuti program MBG. Namun, terkait penimbangan di UKS, saya masih menunggu konfirmasi dari teman-teman di Dinas Kesehatan Kota. Biasanya penimbangan dilakukan di UKS di sekolah, tetapi bisa juga di tempat lain. Saya masih mengupayakan kejelasan hal ini," terang Jaya.

    Jaya menjelaskan, Dinkes memiliki data yang cukup jelas terkait program gizi untuk kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. 

    Penimbangan untuk kelompok ini rutin dilakukan di Posyandu yang tersebar di 5.000 titik di Kaltim. 

    Data tersebut diinput melalui aplikasi Sistem Informasi Gizi (SKG) oleh petugas gizi Puskesmas.

    "Dinas Kesehatan memiliki data yang menunjukkan berapa anak yang berat badannya naik, berapa yang tidak naik, serta jumlah yang mengalami gizi buruk. Namun itu untuk ibu hamil, balita, dan ibu menyusui, datanya sudah jelas. Sedangkan untuk anak sekolah, saya masih menunggu informasi dari tim gizi mengenai pelaksanaan penimbangan secara khusus," jelasnya.

    Ironisnya, saat tim di lapangan mencoba mengonfirmasi ke Puskesmas, para petugas mengaku tidak memiliki data dan tidak ada tim khusus yang ditugaskan untuk melakukan penimbangan di sekolah. 

    Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan Kepala Dinkes yang menyebutkan data akan diberikan dan akan memanggil pihak terkait.

    Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas dan pengawasan program MBG. Jaya Mualimin berjanji akan segera memanggil semua pihak terkait untuk memastikan pemantauan program di sekolah berjalan dengan baik. 

    Namun, tanpa adanya data yang akurat dari lapangan, sulit untuk mengukur seberapa besar dampak positif yang dihasilkan program Makanan Bergizi ini bagi siswa-siswa di Kaltim.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Dinkes Kaltim Kesulitan Ukur Dampak Program Makanan Bergizi untuk Siswa, Data Lapangan Belum Masuk

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    24 September 2025 pukul 14:57 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur belum memiliki data yang jelas dalam perkembangan tumbuh siswa.

    Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mengakui belum mendapatkan laporan lengkap terkait dampak program tersebut di tingkat sekolah, khususnya mengenai penimbangan berat dan tinggi badan siswa.

    Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, saat diwawancarai, mengungkapkan bahwa pengukuran dampak program di sekolah masih menunggu konfirmasi dari jajaran di tingkat kota. Menurutnya, penimbangan siswa seharusnya dilakukan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

    "Untuk anak-anak sekolah, memang targetnya adalah anak-anak dari TK sampai SMA yang mengikuti program MBG. Namun, terkait penimbangan di UKS, saya masih menunggu konfirmasi dari teman-teman di Dinas Kesehatan Kota. Biasanya penimbangan dilakukan di UKS di sekolah, tetapi bisa juga di tempat lain. Saya masih mengupayakan kejelasan hal ini," terang Jaya.

    Jaya menjelaskan, Dinkes memiliki data yang cukup jelas terkait program gizi untuk kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. 

    Penimbangan untuk kelompok ini rutin dilakukan di Posyandu yang tersebar di 5.000 titik di Kaltim. 

    Data tersebut diinput melalui aplikasi Sistem Informasi Gizi (SKG) oleh petugas gizi Puskesmas.

    "Dinas Kesehatan memiliki data yang menunjukkan berapa anak yang berat badannya naik, berapa yang tidak naik, serta jumlah yang mengalami gizi buruk. Namun itu untuk ibu hamil, balita, dan ibu menyusui, datanya sudah jelas. Sedangkan untuk anak sekolah, saya masih menunggu informasi dari tim gizi mengenai pelaksanaan penimbangan secara khusus," jelasnya.

    Ironisnya, saat tim di lapangan mencoba mengonfirmasi ke Puskesmas, para petugas mengaku tidak memiliki data dan tidak ada tim khusus yang ditugaskan untuk melakukan penimbangan di sekolah. 

    Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan Kepala Dinkes yang menyebutkan data akan diberikan dan akan memanggil pihak terkait.

    Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas dan pengawasan program MBG. Jaya Mualimin berjanji akan segera memanggil semua pihak terkait untuk memastikan pemantauan program di sekolah berjalan dengan baik. 

    Namun, tanpa adanya data yang akurat dari lapangan, sulit untuk mengukur seberapa besar dampak positif yang dihasilkan program Makanan Bergizi ini bagi siswa-siswa di Kaltim.

    (Sf/Rs)