Dinkes Bontang Soroti Tren Jajanan Manis Viral, Ancaman Serius Obesitas dan Diabetes Generasi Muda

    Seputarfakta.com - Nuraini -

    Seputar Kaltim

    03 Desember 2025 08:21 WIB

    Ilustrasi. (Foto: Pinterest)

    Bontang - Tren makanan dan minuman manis dengan berbagai rasa yang semakin marak dan tengah viral di berbagai media sosial menjadi sorotan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang.

    Sebab di tengah pola makan masyarakat, khususnya kalangan anak muda dan pelajar yang gemar mencoba berbagai jajanan manis, memiliki efek samping kesehatan, terutama obesitas dan diabetes melitus.

    Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Dinkes Bontang, Andriana Ratna Ningrum mengatakan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan tepung yang sedang viral, ditambah kemudahan akses transportasi dan gaya hidup minim gerak, membuat masyarakat lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. 

    “Kita banyak lihat jajanan dengan berbagai toping, kelihatannya memang sangat menggugah selera makan, tapi di sisi lain memiliki risiko serius bagi kesehatan, apalagi jarang aktivitas fisik ” Ujar Andri.

    Data Dinkes menunjukkan angka pengidap diabetes melitus di Bontang masih tinggi. Pada 2024 tercatat 4.145 orang, sedangkan pada November 2025 sudah mencapai 3.846 orang. Angka ini menjadi perhatian serius Dinkes Bontang untuk melakukan berbagai upaya mitigasi. 

    Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bontang, Nur Asmah menekankan pentingnya edukasi sejak dini mengenai pola makan sehat dan aktivitas fisik rutin untuk menekan angka tersebut.

    Kurangnya olahraga dan aktivitas fisik memperparah risiko, karena tubuh tidak cukup membakar gula dan lemak dari makanan manis yang dikonsumsi. 

    “Di tingkat provinsi, data 2018 mencatat 12 persen masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) mengidap diabetes melitus. Fakta ini menunjukkan kasus diabetes bukan hanya masalah individu, tapi isu kesehatan masyarakat yang perlu perhatian bersama,” ucap Asmah.

    Oleh karena itu, Dinkes Bontang mengimbau masyarakat, terutama generasi muda untuk lebih bijak memilih makanan, membatasi konsumsi gula berlebih, serta rutin berolahraga agar risiko diabetes dapat ditekan sejak dini.

    “Kita terus berupaya melakukan edukasi sedini mungkin, salah satunya melakukan seminar kesehatan bagi pelajar untuk menekan angka tersebut,” tandasnya.

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Dinkes Bontang Soroti Tren Jajanan Manis Viral, Ancaman Serius Obesitas dan Diabetes Generasi Muda

    Seputarfakta.com - Nuraini -

    Seputar Kaltim

    03 Desember 2025 08:21 WIB

    Ilustrasi. (Foto: Pinterest)

    Bontang - Tren makanan dan minuman manis dengan berbagai rasa yang semakin marak dan tengah viral di berbagai media sosial menjadi sorotan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang.

    Sebab di tengah pola makan masyarakat, khususnya kalangan anak muda dan pelajar yang gemar mencoba berbagai jajanan manis, memiliki efek samping kesehatan, terutama obesitas dan diabetes melitus.

    Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Dinkes Bontang, Andriana Ratna Ningrum mengatakan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan tepung yang sedang viral, ditambah kemudahan akses transportasi dan gaya hidup minim gerak, membuat masyarakat lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. 

    “Kita banyak lihat jajanan dengan berbagai toping, kelihatannya memang sangat menggugah selera makan, tapi di sisi lain memiliki risiko serius bagi kesehatan, apalagi jarang aktivitas fisik ” Ujar Andri.

    Data Dinkes menunjukkan angka pengidap diabetes melitus di Bontang masih tinggi. Pada 2024 tercatat 4.145 orang, sedangkan pada November 2025 sudah mencapai 3.846 orang. Angka ini menjadi perhatian serius Dinkes Bontang untuk melakukan berbagai upaya mitigasi. 

    Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bontang, Nur Asmah menekankan pentingnya edukasi sejak dini mengenai pola makan sehat dan aktivitas fisik rutin untuk menekan angka tersebut.

    Kurangnya olahraga dan aktivitas fisik memperparah risiko, karena tubuh tidak cukup membakar gula dan lemak dari makanan manis yang dikonsumsi. 

    “Di tingkat provinsi, data 2018 mencatat 12 persen masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) mengidap diabetes melitus. Fakta ini menunjukkan kasus diabetes bukan hanya masalah individu, tapi isu kesehatan masyarakat yang perlu perhatian bersama,” ucap Asmah.

    Oleh karena itu, Dinkes Bontang mengimbau masyarakat, terutama generasi muda untuk lebih bijak memilih makanan, membatasi konsumsi gula berlebih, serta rutin berolahraga agar risiko diabetes dapat ditekan sejak dini.

    “Kita terus berupaya melakukan edukasi sedini mungkin, salah satunya melakukan seminar kesehatan bagi pelajar untuk menekan angka tersebut,” tandasnya.

    (Sf/Lo)