Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Muhammad Faisal. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Keindahan dan nilai historis peninggalan purbakala di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang membentang di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dan Berau kini bersiap melangkah ke panggung dunia.
Dinas Pariwisata terus mematangkan pengajuan status Geopark Sangkulirang-Mangkalihat agar diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia.
Kepala Dinas Pariwisata, Muhammad Faisal, mengungkapkan proses verifikasi lapangan telah dilakukan dan tinggal menunggu hasil untuk penetapan secara nasional sebelum melangkah ke level internasional.
"Kemarin sudah dilakukan verifikasi lapangan, kita dampingi baik di sekitar Berau maupun Kutim. Tim Geopark dan Ibu Sekda juga sudah presentasi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa keluar hasilnya, sehingga ditetapkan secara nasional, setelah itu langkah kita akan membawa ke UNESCO," ujar Muhammad Faisal ditemui di Samarinda, Kamis (23/7/2026).
Fakta mengejutkan sekaligus membanggakan dari kawasan ini adalah temuan jejak-jejak peradaban purba yang umurnya diperkirakan jauh lebih tua dibandingkan peninggalan serupa di daerah lain.
Hasil pengukuran mutakhir menemukan lukisan telapak tangan dan berbagai artefak bersejarah yang berusia sekitar 40.000 hingga 50.000 tahun.
"Umurnya lebih tua dari yang ada di Maros (Sulawesi) maupun yang di Jawa, bahkan ini termasuk yang paling tua di dunia. Jadi, ini bukan sekadar warisan Indonesia, melainkan sudah menjadi warisan dunia," jelasnya.
Meski memiliki potensi wisata yang sangat besar, kawasan prasejarah ini tidak akan dibuka bebas layaknya objek wisata umum selama 24 jam penuh.
Pemerintah menerapkan sistem jeda atau recovery untuk menjaga kelestarian karst dan temuan purbakala dari kerusakan akibat aktivitas manusia.
"Tidak bisa serta-merta menjadi sebuah objek wisata bebas. Sama seperti keluhan pengunjung ketika wisata anggrek di Kersik Luway ditutup sementara. Geopark memang butuh masa recovery, jadi ditutup sementara, lalu nanti dibuka lagi. Kita harus menjaga ini karena kesadaran wisatawan kita tentang pelestarian masih kurang," terangnya.
Penerapan manajemen publik dan edukasi konservasi menjadi perhatian utama Dinas Pariwisata saat ini. Tidak hanya untuk kawasan Karst, pendekatan ini juga diterapkan di seluruh destinasi unggulan lain, seperti wisata hiu paus, pesut dan keindahan bawah laut Maratua.
Menurut Faisal, edukasi wajib dilakukan, termasuk kewajiban memiliki sertifikasi bagi wisatawan yang hendak melakukan penyelaman (diving) agar keindahan terumbu karang tidak hancur akibat ketidaktahuan.
Dengan langkah preventif dan manajemen yang terbuka, ekosistem pariwisata Kaltim diharapkan tidak hanya mendatangkan keuntungan ekonomi, tetapi juga terjaga kelestariannya untuk generasi mendatang.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Muhammad Faisal. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Keindahan dan nilai historis peninggalan purbakala di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang membentang di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dan Berau kini bersiap melangkah ke panggung dunia.
Dinas Pariwisata terus mematangkan pengajuan status Geopark Sangkulirang-Mangkalihat agar diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia.
Kepala Dinas Pariwisata, Muhammad Faisal, mengungkapkan proses verifikasi lapangan telah dilakukan dan tinggal menunggu hasil untuk penetapan secara nasional sebelum melangkah ke level internasional.
"Kemarin sudah dilakukan verifikasi lapangan, kita dampingi baik di sekitar Berau maupun Kutim. Tim Geopark dan Ibu Sekda juga sudah presentasi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa keluar hasilnya, sehingga ditetapkan secara nasional, setelah itu langkah kita akan membawa ke UNESCO," ujar Muhammad Faisal ditemui di Samarinda, Kamis (23/7/2026).
Fakta mengejutkan sekaligus membanggakan dari kawasan ini adalah temuan jejak-jejak peradaban purba yang umurnya diperkirakan jauh lebih tua dibandingkan peninggalan serupa di daerah lain.
Hasil pengukuran mutakhir menemukan lukisan telapak tangan dan berbagai artefak bersejarah yang berusia sekitar 40.000 hingga 50.000 tahun.
"Umurnya lebih tua dari yang ada di Maros (Sulawesi) maupun yang di Jawa, bahkan ini termasuk yang paling tua di dunia. Jadi, ini bukan sekadar warisan Indonesia, melainkan sudah menjadi warisan dunia," jelasnya.
Meski memiliki potensi wisata yang sangat besar, kawasan prasejarah ini tidak akan dibuka bebas layaknya objek wisata umum selama 24 jam penuh.
Pemerintah menerapkan sistem jeda atau recovery untuk menjaga kelestarian karst dan temuan purbakala dari kerusakan akibat aktivitas manusia.
"Tidak bisa serta-merta menjadi sebuah objek wisata bebas. Sama seperti keluhan pengunjung ketika wisata anggrek di Kersik Luway ditutup sementara. Geopark memang butuh masa recovery, jadi ditutup sementara, lalu nanti dibuka lagi. Kita harus menjaga ini karena kesadaran wisatawan kita tentang pelestarian masih kurang," terangnya.
Penerapan manajemen publik dan edukasi konservasi menjadi perhatian utama Dinas Pariwisata saat ini. Tidak hanya untuk kawasan Karst, pendekatan ini juga diterapkan di seluruh destinasi unggulan lain, seperti wisata hiu paus, pesut dan keindahan bawah laut Maratua.
Menurut Faisal, edukasi wajib dilakukan, termasuk kewajiban memiliki sertifikasi bagi wisatawan yang hendak melakukan penyelaman (diving) agar keindahan terumbu karang tidak hancur akibat ketidaktahuan.
Dengan langkah preventif dan manajemen yang terbuka, ekosistem pariwisata Kaltim diharapkan tidak hanya mendatangkan keuntungan ekonomi, tetapi juga terjaga kelestariannya untuk generasi mendatang.
(Sf/Lo)