Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Data administrasi kependudukan yang belum diperbarui menjadi salah satu penyebab ribuan anak di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tercatat sebagai anak tidak sekolah (ATS), meski faktanya sudah bersekolah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, mengatakan persoalan tersebut diketahui setelah pihaknya melakukan verifikasi data ATS secara langsung ke lapangan sejak 2025.
Data yang diverifikasi menggunakan nama dan alamat anak atau by name by address. Dalam pengecekan tersebut, Disdikbud melibatkan PKK, Dasa Wisma, RT hingga operator desa.
Hasilnya, dari data ATS yang sebelumnya mencapai lebih dari 13.000 anak, ditemukan lebih dari 3.000 anak yang ternyata masih bersekolah.
“Ditemukan lebih 3.000 anak yang secara faktual anak itu sekolah, tapi dicantumkan sebagai anak yang tidak sekolah,” ujar Mulyono.
Ia menjelaskan, salah satu penyebabnya karena kartu keluarga (KK) tidak diperbarui. Anak yang sebelumnya masih berstatus belum sekolah tetap tercatat dengan keterangan tersebut karena tidak ada perubahan data dalam keluarga.
“Dulunya dia belum sekolah di KK, tapi karena KK-nya tidak pernah ter-update, sampai umur dia sekolah, KK-nya masih ditulis anak tidak sekolah atau belum sekolah,” katanya.
Selain menemukan lebih dari 3.000 anak yang ternyata masih bersekolah, Disdikbud juga menemukan sekitar 4.000 data yang tidak berhasil ditemukan ketika dilakukan pengecekan di lapangan.
Mulyono mengatakan persoalan data tersebut masih dikoordinasikan dengan Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan.
Ia mengatakan persoalan data tersebut masih dikoordinasikan dengan Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan. “Ini yang masih dibicarakan dengan Pusdatin,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Data administrasi kependudukan yang belum diperbarui menjadi salah satu penyebab ribuan anak di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tercatat sebagai anak tidak sekolah (ATS), meski faktanya sudah bersekolah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, mengatakan persoalan tersebut diketahui setelah pihaknya melakukan verifikasi data ATS secara langsung ke lapangan sejak 2025.
Data yang diverifikasi menggunakan nama dan alamat anak atau by name by address. Dalam pengecekan tersebut, Disdikbud melibatkan PKK, Dasa Wisma, RT hingga operator desa.
Hasilnya, dari data ATS yang sebelumnya mencapai lebih dari 13.000 anak, ditemukan lebih dari 3.000 anak yang ternyata masih bersekolah.
“Ditemukan lebih 3.000 anak yang secara faktual anak itu sekolah, tapi dicantumkan sebagai anak yang tidak sekolah,” ujar Mulyono.
Ia menjelaskan, salah satu penyebabnya karena kartu keluarga (KK) tidak diperbarui. Anak yang sebelumnya masih berstatus belum sekolah tetap tercatat dengan keterangan tersebut karena tidak ada perubahan data dalam keluarga.
“Dulunya dia belum sekolah di KK, tapi karena KK-nya tidak pernah ter-update, sampai umur dia sekolah, KK-nya masih ditulis anak tidak sekolah atau belum sekolah,” katanya.
Selain menemukan lebih dari 3.000 anak yang ternyata masih bersekolah, Disdikbud juga menemukan sekitar 4.000 data yang tidak berhasil ditemukan ketika dilakukan pengecekan di lapangan.
Mulyono mengatakan persoalan data tersebut masih dikoordinasikan dengan Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan.
Ia mengatakan persoalan data tersebut masih dikoordinasikan dengan Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan. “Ini yang masih dibicarakan dengan Pusdatin,” pungkasnya.
(Sf/Lo)