Seputar Kaltim

    Dikepung Perusahaan Besar, Bontang Belum Miliki Laboraturium Lingkungan Hidup Memadai

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Buniyamin
    04 April 2025 pukul 22:00 WITA

    Rapat dengar pendapat DPRD Bontang terkait kematian ikan di perairan Bontang hingga Kutai Kartanegara. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)

    Bontang - Kota Bontang sebagai daerah industri belum memiliki laboraturium lingkungan hidup yang memadai.

    Padahal banyak perusahaan raksasa beroperasi di kota ini. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Heru Triatmojo mengatakan laboratorium yang kini dimiliki Bontang masih jauh dari kata layak, karena belum memiliki akreditasi yang diakui oleh negara. 

    Sejatinya, labobaraturium yang sesuai standar sangat diperlukan di Bontang, salah satunya untuk mengecek pengelolaan limbah setiap perusahaan. “Ini memang sedikit miris mengingat kita kota industri,” ujarnya. 

    Hal tersebut bisa menimbulkan dampak negatif. Jika terjadi masalah lingkungan akibat permasalahan pengelolaan limbah yang bermasalah, maka pihaknya harus melakukan uji sampling di Kota Samarinda.

    Seperti kasus dugaan pencemaran air laut di kawasan PT Energy Unggul Persada (EUP) yang menyebabkan kematian ikan di perairan Bontang hingga Kutai Kartanegara (Kukar). 

    “Uji sampling yang kita lakukan di Bontang sifatnya hanya internal karena hanya empat indikator, untuk lebih lengkap kita harus ke Samarinda,” sebutnya.

    (Sf/By)

    Seputar Kaltim

    Dikepung Perusahaan Besar, Bontang Belum Miliki Laboraturium Lingkungan Hidup Memadai

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Buniyamin
    04 April 2025 pukul 22:00 WITA

    Rapat dengar pendapat DPRD Bontang terkait kematian ikan di perairan Bontang hingga Kutai Kartanegara. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)

    Bontang - Kota Bontang sebagai daerah industri belum memiliki laboraturium lingkungan hidup yang memadai.

    Padahal banyak perusahaan raksasa beroperasi di kota ini. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Heru Triatmojo mengatakan laboratorium yang kini dimiliki Bontang masih jauh dari kata layak, karena belum memiliki akreditasi yang diakui oleh negara. 

    Sejatinya, labobaraturium yang sesuai standar sangat diperlukan di Bontang, salah satunya untuk mengecek pengelolaan limbah setiap perusahaan. “Ini memang sedikit miris mengingat kita kota industri,” ujarnya. 

    Hal tersebut bisa menimbulkan dampak negatif. Jika terjadi masalah lingkungan akibat permasalahan pengelolaan limbah yang bermasalah, maka pihaknya harus melakukan uji sampling di Kota Samarinda.

    Seperti kasus dugaan pencemaran air laut di kawasan PT Energy Unggul Persada (EUP) yang menyebabkan kematian ikan di perairan Bontang hingga Kutai Kartanegara (Kukar). 

    “Uji sampling yang kita lakukan di Bontang sifatnya hanya internal karena hanya empat indikator, untuk lebih lengkap kita harus ke Samarinda,” sebutnya.

    (Sf/By)