Seputar Kaltim

    Di Kaltim, Angka Stunting Tertinggi ada di Kota Bontang

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    20 Februari 2024 pukul 17:13 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi tantangan besar dalam menurunkan angka stunting. Berdasarkan data terbaru, prevalensi stunting di Kaltim sekitar 17,46 persen, masuk dalam kategori sedang.

    Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Jaya Mualimin, Selasa, 20 Februari 2024. Menurutnya, stunting merupakan masalah serius yang berpengaruh pada kesehatan dan perkembangan anak-anak.

    Jaya mengatakan bahwa pihaknya melakukan upaya koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait untuk mengatasi masalah stunting di Kaltim. Salah satu daerah yang menjadi fokus utama adalah Bontang, yang memiliki angka stunting tertinggi di Kaltim, yaitu 23,26 persen.

    "Kami sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting di Bontang, mulai dari sosialisasi, edukasi, hingga intervensi gizi. Kami juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap gizi seimbang sejak hamil hingga balita," ujar Jaya.

    Jaya menjelaskan bahwa masa 1.000 hari pertama kehidupan anak, yaitu dari dalam kandungan sampai usia dua tahun, adalah masa yang sangat penting untuk mencegah stunting. Pada masa ini, anak-anak membutuhkan asupan gizi yang cukup dan seimbang untuk mendukung pertumbuhan otak dan tubuhnya.

    "Oleh karena itu, kami memberikan makanan tambahan, tablet tambah darah, vitamin A, dan pengobatan diare kepada ibu hamil, bayi, dan balita. Kami juga mendorong ibu hamil untuk melahirkan di fasilitas kesehatan yang berkualitas," tuturnya.

    Jaya berharap dengan langkah-langkah ini, angka stunting di Kaltim, khususnya di Bontang, bisa terus menurun dan kesehatan anak-anak bisa terjaga. Ia juga mengapresiasi peran pos pelayanan terpadu (Posyandu) dalam mendeteksi dan menangani masalah gizi pada anak-anak.

    "Kami mengimbau masyarakat untuk rutin membawa anak-anak ke Posyandu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan gizi. Stunting bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga soal masa depan bangsa. Mari kita bersama-sama menjaga gizi anak-anak kita agar mereka tumbuh sehat, cerdas, dan berkualitas," pungkasnya.

    Selain Bontang, daerah lain di Kaltim yang masih memiliki angka stunting tinggi adalah Berau (20,16 persen) dan Samarinda (19,92 persen). Sementara itu, daerah dengan angka stunting terendah adalah Balikpapan (13,36 persen) dan Penajam Paser Utara (14,10 persen).

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Di Kaltim, Angka Stunting Tertinggi ada di Kota Bontang

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    20 Februari 2024 pukul 17:13 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi tantangan besar dalam menurunkan angka stunting. Berdasarkan data terbaru, prevalensi stunting di Kaltim sekitar 17,46 persen, masuk dalam kategori sedang.

    Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Jaya Mualimin, Selasa, 20 Februari 2024. Menurutnya, stunting merupakan masalah serius yang berpengaruh pada kesehatan dan perkembangan anak-anak.

    Jaya mengatakan bahwa pihaknya melakukan upaya koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait untuk mengatasi masalah stunting di Kaltim. Salah satu daerah yang menjadi fokus utama adalah Bontang, yang memiliki angka stunting tertinggi di Kaltim, yaitu 23,26 persen.

    "Kami sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting di Bontang, mulai dari sosialisasi, edukasi, hingga intervensi gizi. Kami juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap gizi seimbang sejak hamil hingga balita," ujar Jaya.

    Jaya menjelaskan bahwa masa 1.000 hari pertama kehidupan anak, yaitu dari dalam kandungan sampai usia dua tahun, adalah masa yang sangat penting untuk mencegah stunting. Pada masa ini, anak-anak membutuhkan asupan gizi yang cukup dan seimbang untuk mendukung pertumbuhan otak dan tubuhnya.

    "Oleh karena itu, kami memberikan makanan tambahan, tablet tambah darah, vitamin A, dan pengobatan diare kepada ibu hamil, bayi, dan balita. Kami juga mendorong ibu hamil untuk melahirkan di fasilitas kesehatan yang berkualitas," tuturnya.

    Jaya berharap dengan langkah-langkah ini, angka stunting di Kaltim, khususnya di Bontang, bisa terus menurun dan kesehatan anak-anak bisa terjaga. Ia juga mengapresiasi peran pos pelayanan terpadu (Posyandu) dalam mendeteksi dan menangani masalah gizi pada anak-anak.

    "Kami mengimbau masyarakat untuk rutin membawa anak-anak ke Posyandu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan gizi. Stunting bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga soal masa depan bangsa. Mari kita bersama-sama menjaga gizi anak-anak kita agar mereka tumbuh sehat, cerdas, dan berkualitas," pungkasnya.

    Selain Bontang, daerah lain di Kaltim yang masih memiliki angka stunting tinggi adalah Berau (20,16 persen) dan Samarinda (19,92 persen). Sementara itu, daerah dengan angka stunting terendah adalah Balikpapan (13,36 persen) dan Penajam Paser Utara (14,10 persen).

    (Sf/Rs)