Cari disini...
Seputar Kaltim
Agus Srimanah bersama ibunya, Siti Masruhah, duduk di teras rumahnya di Kelurahan Waru. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Tangan Agus Srimanah (42) tampak gemetar ketika menunjukkan layar ponselnya. Suaranya ikut bergetar saat menceritakan perubahan data kesejahteraan keluarganya.
Desil 4 yang sebelumnya tercatat dalam datanya kini berubah menjadi desil 7.
Perubahan itu, kata Agus, tidak sejalan dengan kondisi hidup keluarganya yang masih serba terbatas. Ia tinggal di rumah sederhana yang dibangun pemerintah.
Penghasilan suaminya sebagai buruh lepas juga tak menentu. Ketika pekerjaan sedang tidak ada, tak ada pula pemasukan yang bisa diandalkan. Ditambah kondisi sang suami yang kerap sakit-sakitan, membuat Agus semakin bergantung pada bantuan untuk menopang kebutuhan sehari-hari.
Di rumah itu, air sumur yang digunakan sehari-hari pun terlihat keruh. Subsidi listrik menjadi salah satu keringanan yang disyukuri Agus di tengah kondisi ekonomi keluarganya.
Agus tinggal bersama keluarganya di RT 03 Kelurahan Waru, Kecamatan Waru. Saat ditemui, ia didampingi ibunya, Siti Masruhah (71), yang kebetulan berada di rumah. Bukan hanya Agus, data kesejahteraan Siti juga berubah. Desilnya bergeser dari 1 menjadi 5.
Perubahan itu pertama kali diketahui Agus setelah anaknya mengecek data pada awal Agustus. Ia kemudian mendatangi kelurahan untuk mempertanyakan perubahan tersebut.
"Saya bingung. Kehidupan kita begini-begini saja, bukan orang serba ada. Tapi desil berubah dari 4 menjadi 7," kata Agus kepada Seputarfakta.com, Rabu (5/8/2026).
Agus mengaku belum pernah didata langsung dalam sensus yang disebut berkaitan dengan pembaruan data tersebut. Pihak kelurahan, kata dia, juga tidak mengetahui secara pasti penyebab perubahan datanya.
Kondisi Siti membuat perubahan itu semakin sulit dipahami Agus. Di usia 71 tahun, ibunya tinggal seorang diri tanpa pekerjaan maupun penghasilan tetap.
Rumah Siti berada di RT 28. Bangunan kayu itu tampak sederhana dengan penerangan terbatas. Pohon mangga lebat tumbuh di bagian depan rumah.
Seorang tetangga menuturkan, Siti kerap datang ke rumah Agus karena takut sendirian saat malam. Dalam kesehariannya, Siti terkadang pergi melihat sawah atau mencari bahan makanan yang bisa diolah, seperti kangkung. Sesekali, makanan datang dari tetangga atau keponakannya.
Selama ini, Siti juga mengandalkan bantuan pemerintah dan orang-orang di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Ibu saya dari desil 1 jadi 5, bagaimana nanti? Selama ini beliau menggantungkan hidup dari bantuan pemerintah dan bantuan orang sekitar," ujar Agus.
Agus sendiri masih menerima bantuan pangan non-tunai berupa sembako setiap tiga bulan. Ia khawatir perubahan desil membuat keluarganya tidak lagi masuk sebagai penerima bantuan, termasuk program lain yang menggunakan data kesejahteraan sebagai dasar penentuan sasaran.
Ia mengatakan keluarganya juga tidak memiliki aset lain selain rumah bantuan tersebut. Sepeda motor yang digunakan sehari-hari pun masih dicicil.
Ia berharap pembaruan data tidak hanya melihat angka dalam sistem, tetapi benar-benar menggambarkan kehidupan warga di lapangan.
"Kalau memang kita mampu, tidak masalah disebut desil tinggi. Tapi kondisi kami seperti ini. Saya berharap datanya sesuai dengan keadaan sebenarnya," katanya.
Agus mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada RT dan kelurahan. Ia mendapat penjelasan bahwa proses perbaikan data membutuhkan waktu.
Kini, ia hanya menunggu apakah pengajuan perubahan data keluarganya akan diterima.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Agus Srimanah bersama ibunya, Siti Masruhah, duduk di teras rumahnya di Kelurahan Waru. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Tangan Agus Srimanah (42) tampak gemetar ketika menunjukkan layar ponselnya. Suaranya ikut bergetar saat menceritakan perubahan data kesejahteraan keluarganya.
Desil 4 yang sebelumnya tercatat dalam datanya kini berubah menjadi desil 7.
Perubahan itu, kata Agus, tidak sejalan dengan kondisi hidup keluarganya yang masih serba terbatas. Ia tinggal di rumah sederhana yang dibangun pemerintah.
Penghasilan suaminya sebagai buruh lepas juga tak menentu. Ketika pekerjaan sedang tidak ada, tak ada pula pemasukan yang bisa diandalkan. Ditambah kondisi sang suami yang kerap sakit-sakitan, membuat Agus semakin bergantung pada bantuan untuk menopang kebutuhan sehari-hari.
Di rumah itu, air sumur yang digunakan sehari-hari pun terlihat keruh. Subsidi listrik menjadi salah satu keringanan yang disyukuri Agus di tengah kondisi ekonomi keluarganya.
Agus tinggal bersama keluarganya di RT 03 Kelurahan Waru, Kecamatan Waru. Saat ditemui, ia didampingi ibunya, Siti Masruhah (71), yang kebetulan berada di rumah. Bukan hanya Agus, data kesejahteraan Siti juga berubah. Desilnya bergeser dari 1 menjadi 5.
Perubahan itu pertama kali diketahui Agus setelah anaknya mengecek data pada awal Agustus. Ia kemudian mendatangi kelurahan untuk mempertanyakan perubahan tersebut.
"Saya bingung. Kehidupan kita begini-begini saja, bukan orang serba ada. Tapi desil berubah dari 4 menjadi 7," kata Agus kepada Seputarfakta.com, Rabu (5/8/2026).
Agus mengaku belum pernah didata langsung dalam sensus yang disebut berkaitan dengan pembaruan data tersebut. Pihak kelurahan, kata dia, juga tidak mengetahui secara pasti penyebab perubahan datanya.
Kondisi Siti membuat perubahan itu semakin sulit dipahami Agus. Di usia 71 tahun, ibunya tinggal seorang diri tanpa pekerjaan maupun penghasilan tetap.
Rumah Siti berada di RT 28. Bangunan kayu itu tampak sederhana dengan penerangan terbatas. Pohon mangga lebat tumbuh di bagian depan rumah.
Seorang tetangga menuturkan, Siti kerap datang ke rumah Agus karena takut sendirian saat malam. Dalam kesehariannya, Siti terkadang pergi melihat sawah atau mencari bahan makanan yang bisa diolah, seperti kangkung. Sesekali, makanan datang dari tetangga atau keponakannya.
Selama ini, Siti juga mengandalkan bantuan pemerintah dan orang-orang di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Ibu saya dari desil 1 jadi 5, bagaimana nanti? Selama ini beliau menggantungkan hidup dari bantuan pemerintah dan bantuan orang sekitar," ujar Agus.
Agus sendiri masih menerima bantuan pangan non-tunai berupa sembako setiap tiga bulan. Ia khawatir perubahan desil membuat keluarganya tidak lagi masuk sebagai penerima bantuan, termasuk program lain yang menggunakan data kesejahteraan sebagai dasar penentuan sasaran.
Ia mengatakan keluarganya juga tidak memiliki aset lain selain rumah bantuan tersebut. Sepeda motor yang digunakan sehari-hari pun masih dicicil.
Ia berharap pembaruan data tidak hanya melihat angka dalam sistem, tetapi benar-benar menggambarkan kehidupan warga di lapangan.
"Kalau memang kita mampu, tidak masalah disebut desil tinggi. Tapi kondisi kami seperti ini. Saya berharap datanya sesuai dengan keadaan sebenarnya," katanya.
Agus mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada RT dan kelurahan. Ia mendapat penjelasan bahwa proses perbaikan data membutuhkan waktu.
Kini, ia hanya menunggu apakah pengajuan perubahan data keluarganya akan diterima.
(Sf/Rs)