Seputar Kaltim

    Dekat Akhir Tahun, Harga TBS Sawit Kaltim Melonjak

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    16 Desember 2024 pukul 20:04 WITA

    Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Kalimantan Timur kembali naik. (Foto: HO-Dokumentasi Pribadi/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Kalimantan Timur kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada periode 1-15 Desember 2024. Kenaikan ini seiring dengan peningkatan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global.

    Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ence Achmad Rafiddin Rizal, menjelaskan bahwa kenaikan harga TBS ini merupakan dampak langsung dari tingginya permintaan CPO. "Kenaikan harga CPO dan kernel sawit turut mendongkrak harga TBS," ujar Rizal dalam rilis.

    Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Perkebunan Kaltim, harga CPO tertimbang mencapai Rp 14.416 per kilogram, sementara harga kernel sawit rata-rata tertimbang sebesar Rp 9.662 per kilogram dengan indeks K sebesar 89,46 persen.

    Kenaikan harga TBS ini tentu menjadi kabar gembira bagi para petani kelapa sawit di Kaltim. Dengan harga TBS yang terus meningkat, pendapatan petani pun ikut terdongkrak.

    Rizal merinci, untuk TBS yang dipanen dari pohon berusia 3 tahun, harga yang ditetapkan adalah Rp 2.865 per kilogram. Sementara itu, untuk pohon berusia 4 tahun, harga TBS mencapai Rp 3.057 per kilogram. Harga terus meningkat seiring bertambahnya usia pohon.

    "Harga TBS ini merupakan standar harga bagi petani yang telah bermitra dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit. Harapannya, dengan adanya kerjasama ini, kesejahteraan petani dapat terjamin," tambahnya. 

    Kerjasama antara kelompok tani dengan perusahaan produsen minyak sawit (PMS) dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas harga TBS. Dengan adanya kerjasama ini, petani tidak perlu lagi khawatir akan perlakuan tidak adil dari tengkulak.

    "Kami mendorong agar semakin banyak petani yang menjalin kerjasama dengan perusahaan. Dengan begitu, harga TBS dapat lebih transparan dan menguntungkan bagi petani," pungkas Rizal.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Dekat Akhir Tahun, Harga TBS Sawit Kaltim Melonjak

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    16 Desember 2024 pukul 20:04 WITA

    Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Kalimantan Timur kembali naik. (Foto: HO-Dokumentasi Pribadi/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Kalimantan Timur kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada periode 1-15 Desember 2024. Kenaikan ini seiring dengan peningkatan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global.

    Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ence Achmad Rafiddin Rizal, menjelaskan bahwa kenaikan harga TBS ini merupakan dampak langsung dari tingginya permintaan CPO. "Kenaikan harga CPO dan kernel sawit turut mendongkrak harga TBS," ujar Rizal dalam rilis.

    Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Perkebunan Kaltim, harga CPO tertimbang mencapai Rp 14.416 per kilogram, sementara harga kernel sawit rata-rata tertimbang sebesar Rp 9.662 per kilogram dengan indeks K sebesar 89,46 persen.

    Kenaikan harga TBS ini tentu menjadi kabar gembira bagi para petani kelapa sawit di Kaltim. Dengan harga TBS yang terus meningkat, pendapatan petani pun ikut terdongkrak.

    Rizal merinci, untuk TBS yang dipanen dari pohon berusia 3 tahun, harga yang ditetapkan adalah Rp 2.865 per kilogram. Sementara itu, untuk pohon berusia 4 tahun, harga TBS mencapai Rp 3.057 per kilogram. Harga terus meningkat seiring bertambahnya usia pohon.

    "Harga TBS ini merupakan standar harga bagi petani yang telah bermitra dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit. Harapannya, dengan adanya kerjasama ini, kesejahteraan petani dapat terjamin," tambahnya. 

    Kerjasama antara kelompok tani dengan perusahaan produsen minyak sawit (PMS) dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas harga TBS. Dengan adanya kerjasama ini, petani tidak perlu lagi khawatir akan perlakuan tidak adil dari tengkulak.

    "Kami mendorong agar semakin banyak petani yang menjalin kerjasama dengan perusahaan. Dengan begitu, harga TBS dapat lebih transparan dan menguntungkan bagi petani," pungkas Rizal.

    (Sf/Rs)