Seputar Kaltim

    Deep Learning Jadi Arah Baru, Sekolah di Bontang Dituntut Siap Berubah

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Rusdianto
    03 Mei 2026 pukul 12:20 WITA

    Penampilan murid SDN 006 dan 010 Bontang Selatan pada peringatan Hardiknas 2026 di Kota Bontang. (Foto: Prokompim Bontang)

    Bontang - Transformasi pendidikan berbasis deep learning mulai didorong hingga ke daerah. Kota Bontang menjadi salah satu yang bersiap mengadopsi pendekatan ini, seiring arahan pemerintah pusat pada momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

    Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi pendidikan nasional berbasis pembelajaran mendalam (deep learning). Hal ini disampaikan dalam upacara peringatan Hardiknas 2026 yang digelar di Halaman DPMPTSP, Sabtu (2/5/2026).

    Wali Kota Neni Moerniaeni yang bertindak sebagai inspektur upacara menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen dalam mewujudkan pendidikan berkualitas.

    Dalam kesempatan tersebut, ia membacakan amanat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang menempatkan deep learning sebagai pendekatan utama transformasi pendidikan nasional.

    Pendekatan ini tidak sekadar menekankan penguasaan materi, tetapi juga mendorong pemahaman mendalam, berpikir kritis, dan kemampuan problem solving siswa. Pemerintah pusat pun telah menyiapkan lima kebijakan strategis untuk menopang implementasinya.

    Di antaranya adalah digitalisasi pembelajaran melalui penggunaan papan interaktif, peningkatan kapasitas guru lewat beasiswa dan pelatihan kecerdasan artifisial serta coding, hingga penguatan literasi STEM.

    Namun, implementasi deep learning di daerah bukan tanpa tantangan. Kesiapan infrastruktur teknologi, kualitas sumber daya pengajar, serta pemerataan akses pendidikan menjadi faktor penentu keberhasilan.

    Di sisi lain, integrasi program pendukung seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang optimal. Asupan gizi dinilai berpengaruh langsung terhadap konsentrasi dan kemampuan belajar siswa.

    Pemerintah Kota Bontang juga menyoroti pentingnya memperluas akses pendidikan melalui penguatan program Wajib Belajar 19–21 tahun, sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

    “Jika hendak memajukan bangsa, perbaiki pendidikan. Jika hendak memperbaiki pendidikan, perbaikilah mulai dari dalam kelas,” ujar Neni mengutip pesan Mendikdasmen.

    Dengan dorongan kebijakan nasional ini, Bontang kini memasuki fase penting dalam transformasi pendidikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kesiapan sekolah dan tenaga pendidik agar konsep deep learning tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terimplementasi di ruang-ruang kelas.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Deep Learning Jadi Arah Baru, Sekolah di Bontang Dituntut Siap Berubah

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Rusdianto
    03 Mei 2026 pukul 12:20 WITA

    Penampilan murid SDN 006 dan 010 Bontang Selatan pada peringatan Hardiknas 2026 di Kota Bontang. (Foto: Prokompim Bontang)

    Bontang - Transformasi pendidikan berbasis deep learning mulai didorong hingga ke daerah. Kota Bontang menjadi salah satu yang bersiap mengadopsi pendekatan ini, seiring arahan pemerintah pusat pada momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

    Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi pendidikan nasional berbasis pembelajaran mendalam (deep learning). Hal ini disampaikan dalam upacara peringatan Hardiknas 2026 yang digelar di Halaman DPMPTSP, Sabtu (2/5/2026).

    Wali Kota Neni Moerniaeni yang bertindak sebagai inspektur upacara menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen dalam mewujudkan pendidikan berkualitas.

    Dalam kesempatan tersebut, ia membacakan amanat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang menempatkan deep learning sebagai pendekatan utama transformasi pendidikan nasional.

    Pendekatan ini tidak sekadar menekankan penguasaan materi, tetapi juga mendorong pemahaman mendalam, berpikir kritis, dan kemampuan problem solving siswa. Pemerintah pusat pun telah menyiapkan lima kebijakan strategis untuk menopang implementasinya.

    Di antaranya adalah digitalisasi pembelajaran melalui penggunaan papan interaktif, peningkatan kapasitas guru lewat beasiswa dan pelatihan kecerdasan artifisial serta coding, hingga penguatan literasi STEM.

    Namun, implementasi deep learning di daerah bukan tanpa tantangan. Kesiapan infrastruktur teknologi, kualitas sumber daya pengajar, serta pemerataan akses pendidikan menjadi faktor penentu keberhasilan.

    Di sisi lain, integrasi program pendukung seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang optimal. Asupan gizi dinilai berpengaruh langsung terhadap konsentrasi dan kemampuan belajar siswa.

    Pemerintah Kota Bontang juga menyoroti pentingnya memperluas akses pendidikan melalui penguatan program Wajib Belajar 19–21 tahun, sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

    “Jika hendak memajukan bangsa, perbaiki pendidikan. Jika hendak memperbaiki pendidikan, perbaikilah mulai dari dalam kelas,” ujar Neni mengutip pesan Mendikdasmen.

    Dengan dorongan kebijakan nasional ini, Bontang kini memasuki fase penting dalam transformasi pendidikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kesiapan sekolah dan tenaga pendidik agar konsep deep learning tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terimplementasi di ruang-ruang kelas.

    (Sf/Rs)