Cari disini...
Seputar Kaltim
Gambaran imajiner "Water Front & Riverside Road" Selili - Mahkota II. Sayangnya, gambar aslinya masih tersimpan rapi di laci Pemprov. (Ilustrasi/gemini AI)
Samarinda - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas'ud baru-baru ini melontarkan wacana besar terkait pembangunan Waterfront dan Riverside Road di Samarinda dan Balikpapan.
Proyek ini digadang-gadang sebagai solusi pamungkas untuk mengurai kemacetan kronis, khususnya di jalur Jembatan Mahkota II hingga Selili dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Dalam keterangannya usai HUT Ke-69 Kaltim, Rudy menyebut proyek ini membutuhkan anggaran fantastis.
"Prediksi kami untuk yang di Samarinda mungkin kita perlu sekitar Rp2 triliun. Untuk yang di Balikpapan sendiri mungkin kita prediksikan sekitar Rp5 triliun," ujar Rudy.
Realisasi fisik menunggu ketersediaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditargetkan mencapai Rp7 triliun. Namun di balik narasi menunggu anggaran tersebut, penelusuran seputarfakta.com pada laman LPSE Provinsi Kaltim menemukan fakta menarik. Tahap perencanaan atau Detail Engineering Design (DED) untuk proyek ini sejatinya sudah rampung dilelang pada 2025 lalu.
Berdasarkan data LPSE dengan kode lelang 10039844000, paket bernama DED PEMBANGUNAN WATER FRONT AND RIVERSIDE ROAD (SELILI - JEMBATAN MAHKOTA II) (PERGESERAN) telah selesai tender dengan pagu anggaran mencapai Rp2.551.351.705,50.
Tender ini tercatat dilaksanakan pada rentang Agustus-Oktober 2025 di bawah Satuan Kerja Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Kaltim.
Fakta ini memunculkan tanda tanya publik. Jika uang rakyat sebesar Rp2,5 miliar sudah dikucurkan untuk jasa konsultansi perencanaan, lantas di mana hasil gambar desainnya. Hingga kini, publik belum disuguhi transparansi visual mengenai seperti apa bentuk waterfront yang akan menelan biaya triliunan rupiah tersebut.
Karena dokumen DED resmi seharga Rp2,5 miliar tersebut belum dibuka ke publik, redaksi seputarfakta.com mencoba meminta bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk memvisualisasikan proyek tersebut.
Jika uang Rp2,5 miliar benar-benar digunakan untuk perencanaan yang matang, seharusnya hasilnya tidak jauh dari gambaran futuristik ini. sebuah jalan layang di tepian Sungai Mahakam yang tidak hanya memecah kemacetan dari Jembatan Mahkota II ke Selili, tetapi juga menjadi ruang publik yang estetik.
"Waterfront itu sebenarnya ada beberapa kegiatan kita, tetapi baru kita planningkan," ucap Rudy.
Pernyataan baru kita rencanakan ini terasa kontradiktif dengan status tender DED yang sudah selesai di LPSE. Apakah Rp2,5 miliar hanya menghasilkan tumpukan kertas di meja dinas tanpa pernah diketahui oleh warga yang setiap hari terjebak macet di Selili.
Masyarakat Kaltim tentu mendukung upaya penguraian kemacetan. Tapi transparansi hasil kerja konsultan terutama yang bernilai miliaran adalah hak publik.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Gambaran imajiner "Water Front & Riverside Road" Selili - Mahkota II. Sayangnya, gambar aslinya masih tersimpan rapi di laci Pemprov. (Ilustrasi/gemini AI)
Samarinda - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas'ud baru-baru ini melontarkan wacana besar terkait pembangunan Waterfront dan Riverside Road di Samarinda dan Balikpapan.
Proyek ini digadang-gadang sebagai solusi pamungkas untuk mengurai kemacetan kronis, khususnya di jalur Jembatan Mahkota II hingga Selili dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Dalam keterangannya usai HUT Ke-69 Kaltim, Rudy menyebut proyek ini membutuhkan anggaran fantastis.
"Prediksi kami untuk yang di Samarinda mungkin kita perlu sekitar Rp2 triliun. Untuk yang di Balikpapan sendiri mungkin kita prediksikan sekitar Rp5 triliun," ujar Rudy.
Realisasi fisik menunggu ketersediaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditargetkan mencapai Rp7 triliun. Namun di balik narasi menunggu anggaran tersebut, penelusuran seputarfakta.com pada laman LPSE Provinsi Kaltim menemukan fakta menarik. Tahap perencanaan atau Detail Engineering Design (DED) untuk proyek ini sejatinya sudah rampung dilelang pada 2025 lalu.
Berdasarkan data LPSE dengan kode lelang 10039844000, paket bernama DED PEMBANGUNAN WATER FRONT AND RIVERSIDE ROAD (SELILI - JEMBATAN MAHKOTA II) (PERGESERAN) telah selesai tender dengan pagu anggaran mencapai Rp2.551.351.705,50.
Tender ini tercatat dilaksanakan pada rentang Agustus-Oktober 2025 di bawah Satuan Kerja Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Kaltim.
Fakta ini memunculkan tanda tanya publik. Jika uang rakyat sebesar Rp2,5 miliar sudah dikucurkan untuk jasa konsultansi perencanaan, lantas di mana hasil gambar desainnya. Hingga kini, publik belum disuguhi transparansi visual mengenai seperti apa bentuk waterfront yang akan menelan biaya triliunan rupiah tersebut.
Karena dokumen DED resmi seharga Rp2,5 miliar tersebut belum dibuka ke publik, redaksi seputarfakta.com mencoba meminta bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk memvisualisasikan proyek tersebut.
Jika uang Rp2,5 miliar benar-benar digunakan untuk perencanaan yang matang, seharusnya hasilnya tidak jauh dari gambaran futuristik ini. sebuah jalan layang di tepian Sungai Mahakam yang tidak hanya memecah kemacetan dari Jembatan Mahkota II ke Selili, tetapi juga menjadi ruang publik yang estetik.
"Waterfront itu sebenarnya ada beberapa kegiatan kita, tetapi baru kita planningkan," ucap Rudy.
Pernyataan baru kita rencanakan ini terasa kontradiktif dengan status tender DED yang sudah selesai di LPSE. Apakah Rp2,5 miliar hanya menghasilkan tumpukan kertas di meja dinas tanpa pernah diketahui oleh warga yang setiap hari terjebak macet di Selili.
Masyarakat Kaltim tentu mendukung upaya penguraian kemacetan. Tapi transparansi hasil kerja konsultan terutama yang bernilai miliaran adalah hak publik.
(Sf/Lo)