Cari disini...
Seputar Kaltim
Air Sungai Mahakam yang mengalir di Kota Samarinda mulai menyusut. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Musim kemarau mulai terasa di Kalimantan Timur, imbasnya debit air di Sungai Mahakam dilaporkan mengalami penyusutan.
Meski begitu, warga Samarinda tak perlu panik soal pasokan air bersih.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda memastikan bahwa kondisi Sungai Mahakam masih dalam ambang batas aman untuk menyuplai kebutuhan air baku Perumdam Tirta Kencana Samarinda.
Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, menegaskan bahwa aktivitas penyedotan air baku oleh Perumdam hingga saat ini masih berjalan normal tanpa kendala berarti.
“Dalam beberapa waktu ini memang Sungai Mahakam mengalami penurunan debit, namun tidak perlu khawatir karena masih dalam kategori aman,” jelas Andri, Jumat (21/8/2026).
Andri menambahkan, pihaknya tidak tinggal diam. BWS terus memelototi pergerakan air di sungai sepanjang 930 kilometer tersebut melalui 38 pos duga air dan 44 pos curah hujan yang tersebar dari Mahakam Ulu hingga Samarinda.
Meski pasokan diklaim aman, BWS tetap membunyikan alarm kewaspadaan. Menurunnya debit air tawar membuat Sungai Mahakam rentan terhadap intrusi atau masuknya air asin dari laut, terutama saat pasang surut.
Kawasan hilir dan Delta Mahakam menjadi area yang paling rentan terdampak percampuran air tawar dan air laut ini.
Namun, untuk kawasan Delta Mahakam, kondisi air payau justru menjadi berkah tersendiri bagi warga yang memanfaatkannya untuk budidaya udang dan ikan bandeng.
Yang menjadi fokus perhatian adalah jika air laut mulai menyusup hingga ke titik-titik pengambilan air baku Perumdam.
“Untuk pengambilan air di wilayah hilir, khususnya yang dekat dengan laut, kita harus lebih waspada karena sebagian air asin sudah masuk ke area Sungai Mahakam,” peringatnya.
Lantas, bagaimana jika intrusi air asin benar-benar mencapai titik intake Perumdam. Menurut Andri, Perumdam Samarinda telah memiliki skenario antisipasi.
Jika kondisi ekstrem terjadi, diperkirakan hanya satu atau dua titik pengambilan yang akan terdampak.
Solusinya, Perumdam akan memaksimalkan sedotan air dari 16 lokasi pengambilan lain yang tidak tercemar air asin.
Selain itu, Samarinda juga memiliki senjata cadangan berupa pasokan air dari Bendungan Lempake.
Samarinda Butuh Sumur Dalam
Di sisi lain, kemarau ini membuka mata akan ketergantungan Samarinda yang terlalu tinggi pada air permukaan (sungai dan bendungan).
Berbeda dengan wilayah tetangga seperti Penajam Paser Utara (PPU), Balikpapan, Kutai Barat, dan Kutai Timur yang sudah memprioritaskan pembangunan sumur dalam (air tanah).
Sebagai solusi jangka panjang, BWS Kalimantan IV saat ini tengah berkolaborasi dengan Pemkot Samarinda untuk merancang usulan pembangunan sumur-sumur dalam sebagai sumber air alternatif.
“BWS hanya membantu memfasilitasi secara teknis, termasuk perhitungan biayanya. Mudah-mudahan usulan ini tembus ke pusat dan anggarannya turun, sehingga beberapa sumur dalam bisa segera dibangun di Samarinda,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Air Sungai Mahakam yang mengalir di Kota Samarinda mulai menyusut. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Musim kemarau mulai terasa di Kalimantan Timur, imbasnya debit air di Sungai Mahakam dilaporkan mengalami penyusutan.
Meski begitu, warga Samarinda tak perlu panik soal pasokan air bersih.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda memastikan bahwa kondisi Sungai Mahakam masih dalam ambang batas aman untuk menyuplai kebutuhan air baku Perumdam Tirta Kencana Samarinda.
Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, menegaskan bahwa aktivitas penyedotan air baku oleh Perumdam hingga saat ini masih berjalan normal tanpa kendala berarti.
“Dalam beberapa waktu ini memang Sungai Mahakam mengalami penurunan debit, namun tidak perlu khawatir karena masih dalam kategori aman,” jelas Andri, Jumat (21/8/2026).
Andri menambahkan, pihaknya tidak tinggal diam. BWS terus memelototi pergerakan air di sungai sepanjang 930 kilometer tersebut melalui 38 pos duga air dan 44 pos curah hujan yang tersebar dari Mahakam Ulu hingga Samarinda.
Meski pasokan diklaim aman, BWS tetap membunyikan alarm kewaspadaan. Menurunnya debit air tawar membuat Sungai Mahakam rentan terhadap intrusi atau masuknya air asin dari laut, terutama saat pasang surut.
Kawasan hilir dan Delta Mahakam menjadi area yang paling rentan terdampak percampuran air tawar dan air laut ini.
Namun, untuk kawasan Delta Mahakam, kondisi air payau justru menjadi berkah tersendiri bagi warga yang memanfaatkannya untuk budidaya udang dan ikan bandeng.
Yang menjadi fokus perhatian adalah jika air laut mulai menyusup hingga ke titik-titik pengambilan air baku Perumdam.
“Untuk pengambilan air di wilayah hilir, khususnya yang dekat dengan laut, kita harus lebih waspada karena sebagian air asin sudah masuk ke area Sungai Mahakam,” peringatnya.
Lantas, bagaimana jika intrusi air asin benar-benar mencapai titik intake Perumdam. Menurut Andri, Perumdam Samarinda telah memiliki skenario antisipasi.
Jika kondisi ekstrem terjadi, diperkirakan hanya satu atau dua titik pengambilan yang akan terdampak.
Solusinya, Perumdam akan memaksimalkan sedotan air dari 16 lokasi pengambilan lain yang tidak tercemar air asin.
Selain itu, Samarinda juga memiliki senjata cadangan berupa pasokan air dari Bendungan Lempake.
Samarinda Butuh Sumur Dalam
Di sisi lain, kemarau ini membuka mata akan ketergantungan Samarinda yang terlalu tinggi pada air permukaan (sungai dan bendungan).
Berbeda dengan wilayah tetangga seperti Penajam Paser Utara (PPU), Balikpapan, Kutai Barat, dan Kutai Timur yang sudah memprioritaskan pembangunan sumur dalam (air tanah).
Sebagai solusi jangka panjang, BWS Kalimantan IV saat ini tengah berkolaborasi dengan Pemkot Samarinda untuk merancang usulan pembangunan sumur-sumur dalam sebagai sumber air alternatif.
“BWS hanya membantu memfasilitasi secara teknis, termasuk perhitungan biayanya. Mudah-mudahan usulan ini tembus ke pusat dan anggarannya turun, sehingga beberapa sumur dalam bisa segera dibangun di Samarinda,” pungkasnya.
(Sf/Rs)