Cari disini...
Seputar Kaltim
Dua unit reservoir berkapasitas masing-masing 1.000 meter kubik di WTP Lawe-Lawe menampung air hasil pengolahan sebelum dialirkan ke jaringan distribusi pelanggan. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memastikan pasokan air baku masih dalam kondisi aman meski musim kemarau mulai berlangsung. Hujan yang masih turun di wilayah hulu membuat bendungan dan embung penampungan air tetap terisi penuh.
Direktur Perumda AMDT, Abdul Rasyid, mengatakan kondisi air baku di Bendungan Lawe-Lawe saat ini justru melimpah. Bahkan sebagian aliran air tidak tertampung karena kapasitas embung dan bendungan sudah penuh.
"Di Lawe-Lawe airnya cukup banyak. Di pabrik pengolahan juga penuh. Bahkan ada aliran yang terbuang karena embung dan bendungan kita terisi semua," kata Rasyid, Senin (8/6/2026).
Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan debit air baku. Saat ini debit di Lawe-Lawe mencapai sekitar 110 liter per detik, naik dibanding bulan sebelumnya yang berada di kisaran 80 liter per detik.
Menurut dia, keberadaan hujan di kawasan hulu menjadi faktor utama yang menjaga ketersediaan air baku. Karena itu, Perumda AMDT masih optimistis menghadapi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Oktober mendatang.
"Untuk sementara aman karena di hulu masih ada hujan. Mudah-mudahan pada periode puncak kemarau nanti tetap ada hujan," ujarnya.
Rasyid menyebut kondisi dapat berubah jika dalam satu hingga dua bulan tidak terjadi hujan sama sekali. Dalam situasi ini, debit air baku berpotensi turun hingga 50 persen.
Sebagai langkah antisipasi, Perumda AMDT menyiapkan skema interkoneksi jaringan distribusi dari Waru menuju Petung hingga Penajam apabila terjadi penurunan debit yang signifikan di sumber air tertentu.
"Kalau sampai terjadi kekeringan, ada daerah yang sumber airnya relatif tidak pernah habis. Itu bisa kita interkoneksikan dari Waru ke Petung sampai Penajam, meskipun membutuhkan dukungan pompa," jelasnya.
Rasyid mengatakan pengalaman kemarau panjang tahun 2019 menjadi pelajaran penting. Saat itu, wilayah Lawe-Lawe sempat mengalami penurunan debit hingga sekitar 10 liter per detik setelah delapan bulan tanpa hujan.
"Itu yang paling kecil pernah kami alami. Tahun 2019 kemarau sangat panjang, delapan bulan tidak ada hujan," katanya.
Ia menambahkan suhu panas yang terjadi saat ini juga memengaruhi kemampuan daerah tangkapan air menyimpan cadangan air. Menurutnya, ketika tanah terlalu kering, air hujan yang turun lebih cepat terserap sehingga tidak seluruhnya dapat tertampung sebagai cadangan.
"Kami masih berharap hujan tetap turun. Kondisi panas sekarang membuat tanah sangat cepat menyerap air, sehingga air hujan yang datang tidak semuanya bisa tertampung," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Dua unit reservoir berkapasitas masing-masing 1.000 meter kubik di WTP Lawe-Lawe menampung air hasil pengolahan sebelum dialirkan ke jaringan distribusi pelanggan. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memastikan pasokan air baku masih dalam kondisi aman meski musim kemarau mulai berlangsung. Hujan yang masih turun di wilayah hulu membuat bendungan dan embung penampungan air tetap terisi penuh.
Direktur Perumda AMDT, Abdul Rasyid, mengatakan kondisi air baku di Bendungan Lawe-Lawe saat ini justru melimpah. Bahkan sebagian aliran air tidak tertampung karena kapasitas embung dan bendungan sudah penuh.
"Di Lawe-Lawe airnya cukup banyak. Di pabrik pengolahan juga penuh. Bahkan ada aliran yang terbuang karena embung dan bendungan kita terisi semua," kata Rasyid, Senin (8/6/2026).
Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan debit air baku. Saat ini debit di Lawe-Lawe mencapai sekitar 110 liter per detik, naik dibanding bulan sebelumnya yang berada di kisaran 80 liter per detik.
Menurut dia, keberadaan hujan di kawasan hulu menjadi faktor utama yang menjaga ketersediaan air baku. Karena itu, Perumda AMDT masih optimistis menghadapi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Oktober mendatang.
"Untuk sementara aman karena di hulu masih ada hujan. Mudah-mudahan pada periode puncak kemarau nanti tetap ada hujan," ujarnya.
Rasyid menyebut kondisi dapat berubah jika dalam satu hingga dua bulan tidak terjadi hujan sama sekali. Dalam situasi ini, debit air baku berpotensi turun hingga 50 persen.
Sebagai langkah antisipasi, Perumda AMDT menyiapkan skema interkoneksi jaringan distribusi dari Waru menuju Petung hingga Penajam apabila terjadi penurunan debit yang signifikan di sumber air tertentu.
"Kalau sampai terjadi kekeringan, ada daerah yang sumber airnya relatif tidak pernah habis. Itu bisa kita interkoneksikan dari Waru ke Petung sampai Penajam, meskipun membutuhkan dukungan pompa," jelasnya.
Rasyid mengatakan pengalaman kemarau panjang tahun 2019 menjadi pelajaran penting. Saat itu, wilayah Lawe-Lawe sempat mengalami penurunan debit hingga sekitar 10 liter per detik setelah delapan bulan tanpa hujan.
"Itu yang paling kecil pernah kami alami. Tahun 2019 kemarau sangat panjang, delapan bulan tidak ada hujan," katanya.
Ia menambahkan suhu panas yang terjadi saat ini juga memengaruhi kemampuan daerah tangkapan air menyimpan cadangan air. Menurutnya, ketika tanah terlalu kering, air hujan yang turun lebih cepat terserap sehingga tidak seluruhnya dapat tertampung sebagai cadangan.
"Kami masih berharap hujan tetap turun. Kondisi panas sekarang membuat tanah sangat cepat menyerap air, sehingga air hujan yang datang tidak semuanya bisa tertampung," pungkasnya.
(Sf/Rs)