Seputar Kaltim

    DBD Masih Tinggi, Pemerintah Bakal Tambah Wilayah Penerapan Wolbachia dan Vaksin

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    20 Januari 2024 pukul 18:34 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Pada tahun 2023 mengalami lonjakan kasus DBD beberapa wilayah di Kaltim, seperti Kutai Kartanegara (Kukar) mencapai 1.118 kasus, Kutai Timur (Kutim) 784 kasus dan Kutai Barat (Kubar) 458 kasus. Bahkan, pada Januari 2024, seorang pasien DBD di Bontang meninggal dunia, sementara di daerah lain ada yang dirawat intensif.

    Untuk mengatasi kasus DBD, pemerintah melakukan proyek inovasi dengan menyebarkan nyamuk Wolbachia di lima kota, yaitu Bontang, Jakarta Barat, Bandung, Semarang dan Kupang. Diketahui, nyamuk Wolbachia adalah nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi bakteri Wolbachia, yang dapat mengurangi kemampuan nyamuk menularkan virus dengue.

    Selain itu, pemerintah juga memberikan vaksin gratis kepada anak usia 6-12 tahun, yang dapat memberi perlindungan terhadap empat jenis virus dengue yang ada di Indonesia.

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim dr. Jaya Mualimin mengatakan proyek inovasi tersebut membutuhkan waktu yang panjang dan masih dalam tahap uji coba. "Kami belum mendapatkan laporan tentang pasien DBD yang meninggal di Bontang. Saya akan segera menghubungi pihak terkait dan membuat kebijakan yang tepat," kata Jaya di Samarinda, Jum'at (19/1/2023).

    Ia menambahkan bahwa proyek Wolbachia baru mencakup beberapa kecamatan di Bontang, dan belum seluruh wilayah. Ia juga mengatakan bahwa kasus DBD dipengaruhi oleh faktor musim dan perilaku masyarakat.

    "Kami tetap mengimbau masyarakat untuk melakukan 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menyingkirkan atau mendaur ulang tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Selain itu, juga menaburkan bubuk larvasida, menggunakan obat nyamuk, dan menanam tanaman pengusir nyamuk," ujarnya.

    Ia berharap bahwa proyek Wolbachia dapat memberikan manfaat di masa depan, dengan mengurangi penularan virus dengue melalui nyamuk.

    "Prosesnya memang tidak instan, karena nyamuk Wolbachia harus berkembang biak dengan nyamuk liar agar menghasilkan nyamuk Wolbachia juga. Namun kami optimistis bahwa proyek ini akan berhasil," ujarnya.

    Ia juga menyampaikan bahwa rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kaltim menjadi salah satu alasan pemerintah melakukan proyek inovasi tersebut. Ia mengatakan bahwa vaksinasi DBD telah dimulai sejak 5 Desember 2023 di Kota Balikpapan, dan hingga Januari 2024 telah mencapai 59 persen.

    "Vaksinasi ini merupakan inisiatif dari gubernur dan wakil gubernur sebelumnya, yang ingin menangani DBD secara serius. Vaksin ini sebenarnya berharga Rp300 ribu per suntikan, tapi sekarang diberikan gratis kepada anak usia 6-12 tahun, khususnya siswa SD. Vaksin ini harus disuntik dua kali, dan akan kami lakukan juga di daerah lain," tuturnya.

    Ia mengklaim bahwa upaya pemerintah dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD tidak sia-sia. Ia mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong seluruh kabupaten/kota di Kaltim untuk melakukan vaksinasi, sebelum nantinya juga akan menyebarkan nyamuk Wolbachia secara menyeluruh.

    "Kami berharap dengan dua proyek inovasi ini, kasus DBD di Kaltim dapat menurun secara signifikan, dan masyarakat dapat hidup sehat dan sejahtera," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    DBD Masih Tinggi, Pemerintah Bakal Tambah Wilayah Penerapan Wolbachia dan Vaksin

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    20 Januari 2024 pukul 18:34 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Pada tahun 2023 mengalami lonjakan kasus DBD beberapa wilayah di Kaltim, seperti Kutai Kartanegara (Kukar) mencapai 1.118 kasus, Kutai Timur (Kutim) 784 kasus dan Kutai Barat (Kubar) 458 kasus. Bahkan, pada Januari 2024, seorang pasien DBD di Bontang meninggal dunia, sementara di daerah lain ada yang dirawat intensif.

    Untuk mengatasi kasus DBD, pemerintah melakukan proyek inovasi dengan menyebarkan nyamuk Wolbachia di lima kota, yaitu Bontang, Jakarta Barat, Bandung, Semarang dan Kupang. Diketahui, nyamuk Wolbachia adalah nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi bakteri Wolbachia, yang dapat mengurangi kemampuan nyamuk menularkan virus dengue.

    Selain itu, pemerintah juga memberikan vaksin gratis kepada anak usia 6-12 tahun, yang dapat memberi perlindungan terhadap empat jenis virus dengue yang ada di Indonesia.

    Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim dr. Jaya Mualimin mengatakan proyek inovasi tersebut membutuhkan waktu yang panjang dan masih dalam tahap uji coba. "Kami belum mendapatkan laporan tentang pasien DBD yang meninggal di Bontang. Saya akan segera menghubungi pihak terkait dan membuat kebijakan yang tepat," kata Jaya di Samarinda, Jum'at (19/1/2023).

    Ia menambahkan bahwa proyek Wolbachia baru mencakup beberapa kecamatan di Bontang, dan belum seluruh wilayah. Ia juga mengatakan bahwa kasus DBD dipengaruhi oleh faktor musim dan perilaku masyarakat.

    "Kami tetap mengimbau masyarakat untuk melakukan 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menyingkirkan atau mendaur ulang tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Selain itu, juga menaburkan bubuk larvasida, menggunakan obat nyamuk, dan menanam tanaman pengusir nyamuk," ujarnya.

    Ia berharap bahwa proyek Wolbachia dapat memberikan manfaat di masa depan, dengan mengurangi penularan virus dengue melalui nyamuk.

    "Prosesnya memang tidak instan, karena nyamuk Wolbachia harus berkembang biak dengan nyamuk liar agar menghasilkan nyamuk Wolbachia juga. Namun kami optimistis bahwa proyek ini akan berhasil," ujarnya.

    Ia juga menyampaikan bahwa rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kaltim menjadi salah satu alasan pemerintah melakukan proyek inovasi tersebut. Ia mengatakan bahwa vaksinasi DBD telah dimulai sejak 5 Desember 2023 di Kota Balikpapan, dan hingga Januari 2024 telah mencapai 59 persen.

    "Vaksinasi ini merupakan inisiatif dari gubernur dan wakil gubernur sebelumnya, yang ingin menangani DBD secara serius. Vaksin ini sebenarnya berharga Rp300 ribu per suntikan, tapi sekarang diberikan gratis kepada anak usia 6-12 tahun, khususnya siswa SD. Vaksin ini harus disuntik dua kali, dan akan kami lakukan juga di daerah lain," tuturnya.

    Ia mengklaim bahwa upaya pemerintah dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD tidak sia-sia. Ia mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong seluruh kabupaten/kota di Kaltim untuk melakukan vaksinasi, sebelum nantinya juga akan menyebarkan nyamuk Wolbachia secara menyeluruh.

    "Kami berharap dengan dua proyek inovasi ini, kasus DBD di Kaltim dapat menurun secara signifikan, dan masyarakat dapat hidup sehat dan sejahtera," pungkasnya.

    (Sf/Rs)