Seputar Kaltim
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengingatkan masyarakat mengantisipasi peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) saat musim hujan tiba. Setelah periode kekeringan yang cukup panjang, kasus DBD diperkirakan mulai meningkat pada Januari 2027.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan perubahan kondisi iklim perlu diwaspadai karena berpengaruh terhadap risiko penyakit di masyarakat. Saat ini, ISPA dan diare menjadi dua penyakit yang perlu mendapat perhatian di tengah kondisi kering berkepanjangan.
“Ini namanya periode sensitif iklim. Kita harus waspada tidak hanya masalah ISPA. Karena ini kering, kekeringan agak lama. Pertama ISPA, yang kedua diare. Diare ini juga kasus meningkat,” ujar dr Yuwana.
Ia mengingatkan, antisipasi DBD perlu dilakukan sebelum memasuki musim hujan. Masyarakat diminta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab demam berdarah.
Ia mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air.
“Supaya nanti kalau memang sudah musim hujan tidak ada nyamuk-nyamuk demam berdarah, tidak terjangkit begitu,” katanya.
Menurut dr Yuwana, upaya pencegahan tersebut perlu dimulai sejak sekarang, tidak menunggu sampai musim hujan tiba. Kebersihan lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk menjadi langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk menekan risiko penularan DBD.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengingatkan masyarakat mengantisipasi peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) saat musim hujan tiba. Setelah periode kekeringan yang cukup panjang, kasus DBD diperkirakan mulai meningkat pada Januari 2027.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan perubahan kondisi iklim perlu diwaspadai karena berpengaruh terhadap risiko penyakit di masyarakat. Saat ini, ISPA dan diare menjadi dua penyakit yang perlu mendapat perhatian di tengah kondisi kering berkepanjangan.
“Ini namanya periode sensitif iklim. Kita harus waspada tidak hanya masalah ISPA. Karena ini kering, kekeringan agak lama. Pertama ISPA, yang kedua diare. Diare ini juga kasus meningkat,” ujar dr Yuwana.
Ia mengingatkan, antisipasi DBD perlu dilakukan sebelum memasuki musim hujan. Masyarakat diminta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab demam berdarah.
Ia mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air.
“Supaya nanti kalau memang sudah musim hujan tidak ada nyamuk-nyamuk demam berdarah, tidak terjangkit begitu,” katanya.
Menurut dr Yuwana, upaya pencegahan tersebut perlu dimulai sejak sekarang, tidak menunggu sampai musim hujan tiba. Kebersihan lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk menjadi langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk menekan risiko penularan DBD.
(Sf/Lo)