Seputar Kaltim

    Daya Beli Petani Kaltim Turun di Tengah Kenaikan Biaya Hidup

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    01 April 2026 pukul 19:44 WITA

    Potret perjuangan petani di sawah, disaat biaya hidup di perdesaan melonjak 0,88 persen. (Foto: Freepik.com)

    Samarinda - Kabar kurang sedap datang dari sektor pertanian di Kalimantan Timur (Kaltim). Di saat provinsi tetangga di Pulau Kalimantan mencatatkan tren positif, daya beli petani di Benua Etam justru mengalami penurunan pada periode Maret 2026.

    Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim, Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2026 tercatat sebesar 148,00 atau turun 0,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

    Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai mengungkap penurunan ini dipicu oleh ketimpangan antara pendapatan hasil panen dengan biaya hidup yang harus dikeluarkan oleh para petani.

    "Penurunan NTP ini disebabkan karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) hampir tidak bergerak, hanya naik tipis 0,01 persen. Sementara di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru melonjak cukup signifikan sebesar 0,74 persen," ujar Mas'ud dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).

    Mas'ud menjelaskan lebih rinci kenaikan beban petani dipengaruhi oleh meningkatnya biaya konsumsi rumah tangga di perdesaan serta biaya produksi.

    Kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga di Kaltim mencapai 0,88 persen yang didorong oleh naiknya harga di seluruh kelompok pengeluaran.

    Menariknya, posisi Kaltim di tingkat regional, sebab dari lima provinsi di Pulau Kalimantan, hanya Kaltim yang mengalami penurunan NTP.

    "Kalimantan Selatan mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,43 persen, disusul Kalimantan Barat 1,08 persen, Kalimantan Tengah 1,04 persen dan Kalimantan Utara 0,03 persen. Kaltim menjadi satu-satunya yang terkoreksi negatif sebesar 0,72 persen," tambahnya.

    Melihat lebih dalam ke subsektor, penurunan terdalam terjadi pada Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) yang merosot 1,85 persen.

    Hal ini cukup ironis mengingat subsektor ini biasanya menjadi penopang utama ekonomi petani di Kaltim. Namun tidak semua sektor lesu. Mas'ud menyebut subsektor Hortikultura dan Peternakan justru menunjukkan performa yang menggembirakan.

    "NTP Hortikultura naik 2,81 persen berkat kenaikan harga buah dan sayur. Begitu juga dengan subsektor peternakan yang naik 1,64 persen, didorong oleh kenaikan harga kelompok unggas dan ternak besar," tutupnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Daya Beli Petani Kaltim Turun di Tengah Kenaikan Biaya Hidup

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    01 April 2026 pukul 19:44 WITA

    Potret perjuangan petani di sawah, disaat biaya hidup di perdesaan melonjak 0,88 persen. (Foto: Freepik.com)

    Samarinda - Kabar kurang sedap datang dari sektor pertanian di Kalimantan Timur (Kaltim). Di saat provinsi tetangga di Pulau Kalimantan mencatatkan tren positif, daya beli petani di Benua Etam justru mengalami penurunan pada periode Maret 2026.

    Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim, Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2026 tercatat sebesar 148,00 atau turun 0,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

    Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai mengungkap penurunan ini dipicu oleh ketimpangan antara pendapatan hasil panen dengan biaya hidup yang harus dikeluarkan oleh para petani.

    "Penurunan NTP ini disebabkan karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) hampir tidak bergerak, hanya naik tipis 0,01 persen. Sementara di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru melonjak cukup signifikan sebesar 0,74 persen," ujar Mas'ud dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).

    Mas'ud menjelaskan lebih rinci kenaikan beban petani dipengaruhi oleh meningkatnya biaya konsumsi rumah tangga di perdesaan serta biaya produksi.

    Kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga di Kaltim mencapai 0,88 persen yang didorong oleh naiknya harga di seluruh kelompok pengeluaran.

    Menariknya, posisi Kaltim di tingkat regional, sebab dari lima provinsi di Pulau Kalimantan, hanya Kaltim yang mengalami penurunan NTP.

    "Kalimantan Selatan mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,43 persen, disusul Kalimantan Barat 1,08 persen, Kalimantan Tengah 1,04 persen dan Kalimantan Utara 0,03 persen. Kaltim menjadi satu-satunya yang terkoreksi negatif sebesar 0,72 persen," tambahnya.

    Melihat lebih dalam ke subsektor, penurunan terdalam terjadi pada Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) yang merosot 1,85 persen.

    Hal ini cukup ironis mengingat subsektor ini biasanya menjadi penopang utama ekonomi petani di Kaltim. Namun tidak semua sektor lesu. Mas'ud menyebut subsektor Hortikultura dan Peternakan justru menunjukkan performa yang menggembirakan.

    "NTP Hortikultura naik 2,81 persen berkat kenaikan harga buah dan sayur. Begitu juga dengan subsektor peternakan yang naik 1,64 persen, didorong oleh kenaikan harga kelompok unggas dan ternak besar," tutupnya.

    (Sf/Lo)