Cari disini...
Seputar Kaltim
Pengamat Ekonomi dari UINSI Samarinda, Ahmad Syarif. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Para pedagang kaki lima dan pemilik usaha makanan alias FnB, mengeluhkan adanya penurunan omzet. Keadaan ini disinyalir saat memasuki tahun 2025.
Menurut pandangan pengamat ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Ahmad Syarif bahwa kondisi ekonomi yang dialam kini karena adanya deflasi semu
Pengertian dari deflasi, yakni kondisi di mana harga-harga barang dan jasa turun. Namun, di Kaltim, penurunan harga ini tidak sepenuhnya pertanda baik.
Deflasi, kata dia, yang terjadi di Kaltim lebih disebabkan oleh masyarakat yang menahan diri untuk berbelanja, bukan karena ekonomi yang kuat.
Lebih mengkhawatirkan lagi masyarakat yang lebih memilih menyimpan uangnya daripada membelanjakannya.
"Ini menunjukkan sinyal bahwa daya beli masyarakat sedang menurun," kata Syarif.
Penurunan daya beli ini bisa berdampak buruk. Jika masyarakat terus menahan uangnya, perusahaan dan UMKM akan kesulitan.
Perusahaan atau UMKM mungkin harus mengurangi biaya produksi, yang bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja dan peningkatan pengangguran.
Syarif menekankan bahwa pemerintah perlu segera mengambil tindakan. Salah satunya adalah memberikan bantuan kepada industri dan UMKM agar mereka bisa bertahan dan berkembang.
Selain itu, pemerintah juga perlu mengedukasi masyarakat agar tidak terlalu takut dan menahan konsumsi secara berlebihan.
"Deflasi semu ini sebenarnya sinyal nyata penurunan daya beli. Kita tidak boleh senang begitu saja dengan deflasi, karena ini bisa membuat UMKM terpuruk,” tukasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pengamat Ekonomi dari UINSI Samarinda, Ahmad Syarif. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Para pedagang kaki lima dan pemilik usaha makanan alias FnB, mengeluhkan adanya penurunan omzet. Keadaan ini disinyalir saat memasuki tahun 2025.
Menurut pandangan pengamat ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Ahmad Syarif bahwa kondisi ekonomi yang dialam kini karena adanya deflasi semu
Pengertian dari deflasi, yakni kondisi di mana harga-harga barang dan jasa turun. Namun, di Kaltim, penurunan harga ini tidak sepenuhnya pertanda baik.
Deflasi, kata dia, yang terjadi di Kaltim lebih disebabkan oleh masyarakat yang menahan diri untuk berbelanja, bukan karena ekonomi yang kuat.
Lebih mengkhawatirkan lagi masyarakat yang lebih memilih menyimpan uangnya daripada membelanjakannya.
"Ini menunjukkan sinyal bahwa daya beli masyarakat sedang menurun," kata Syarif.
Penurunan daya beli ini bisa berdampak buruk. Jika masyarakat terus menahan uangnya, perusahaan dan UMKM akan kesulitan.
Perusahaan atau UMKM mungkin harus mengurangi biaya produksi, yang bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja dan peningkatan pengangguran.
Syarif menekankan bahwa pemerintah perlu segera mengambil tindakan. Salah satunya adalah memberikan bantuan kepada industri dan UMKM agar mereka bisa bertahan dan berkembang.
Selain itu, pemerintah juga perlu mengedukasi masyarakat agar tidak terlalu takut dan menahan konsumsi secara berlebihan.
"Deflasi semu ini sebenarnya sinyal nyata penurunan daya beli. Kita tidak boleh senang begitu saja dengan deflasi, karena ini bisa membuat UMKM terpuruk,” tukasnya.
(Sf/By)