Cari disini...
Seputar Kaltim
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, menyoroti data produktivitas komoditas kakao (cokelat) di daerahnya yang dinilai perlu dievaluasi.
Ia menyebut produktivitas kakao meningkat dari 0,25 ton per hektare pada 2024 menjadi 0,41 ton per hektare pada 2025. Meski mengalami kenaikan, angka tersebut dinilai belum mencerminkan potensi riil di lapangan.
“Untuk cokelat saya minta Dinas Perkebunan (Disbun) coba dicek kembali. Karena di catatan provinsi, Kutim memiliki kebun cokelat terbesar di Kalimantan Timur,” ujar Ardiansyah.
Ia mempertanyakan apakah angka tersebut merupakan rata-rata dari seluruh wilayah, mengingat ada beberapa kecamatan yang memiliki produktivitas jauh lebih tinggi.
Menurutnya, terdapat sekitar tiga hingga empat kecamatan yang mengembangkan kakao, dengan wilayah yang masih aktif di antaranya Kecamatan Karangan dan Kaubun.
Sementara itu, di Kecamatan Busang dan Teluk Pandan, kondisi tanaman kakao dinilai sudah perlu dilakukan peremajaan atau replanting agar produktivitasnya dapat kembali meningkat.
“Di Busang cokelatnya harus replanting, di Teluk Pandan mungkin juga perlu. Ini harus dicek kembali,” tegasnya.
Ardiansyah menyebut kakao sebagai komoditas unggulan Kutim yang punya potensi besar, sehingga perlu data yang akurat sebagai dasar kebijakan.
Ia juga menyebut perkebunan Kutim masih didominasi kelapa sawit, dengan produksi 5,9 juta ton dan produktivitas 12,57 ton per hektare.
Selain kakao, produktivitas perkebunan rakyat juga naik, seperti kelapa dari 0,78 menjadi 0,84 ton per hektare, dan kemiri dari 0,51 menjadi 0,52 ton per hektare.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, menyoroti data produktivitas komoditas kakao (cokelat) di daerahnya yang dinilai perlu dievaluasi.
Ia menyebut produktivitas kakao meningkat dari 0,25 ton per hektare pada 2024 menjadi 0,41 ton per hektare pada 2025. Meski mengalami kenaikan, angka tersebut dinilai belum mencerminkan potensi riil di lapangan.
“Untuk cokelat saya minta Dinas Perkebunan (Disbun) coba dicek kembali. Karena di catatan provinsi, Kutim memiliki kebun cokelat terbesar di Kalimantan Timur,” ujar Ardiansyah.
Ia mempertanyakan apakah angka tersebut merupakan rata-rata dari seluruh wilayah, mengingat ada beberapa kecamatan yang memiliki produktivitas jauh lebih tinggi.
Menurutnya, terdapat sekitar tiga hingga empat kecamatan yang mengembangkan kakao, dengan wilayah yang masih aktif di antaranya Kecamatan Karangan dan Kaubun.
Sementara itu, di Kecamatan Busang dan Teluk Pandan, kondisi tanaman kakao dinilai sudah perlu dilakukan peremajaan atau replanting agar produktivitasnya dapat kembali meningkat.
“Di Busang cokelatnya harus replanting, di Teluk Pandan mungkin juga perlu. Ini harus dicek kembali,” tegasnya.
Ardiansyah menyebut kakao sebagai komoditas unggulan Kutim yang punya potensi besar, sehingga perlu data yang akurat sebagai dasar kebijakan.
Ia juga menyebut perkebunan Kutim masih didominasi kelapa sawit, dengan produksi 5,9 juta ton dan produktivitas 12,57 ton per hektare.
Selain kakao, produktivitas perkebunan rakyat juga naik, seperti kelapa dari 0,78 menjadi 0,84 ton per hektare, dan kemiri dari 0,51 menjadi 0,52 ton per hektare.
(Sf/Rs)