Data BPS 2025: Pengangguran SMK di Kaltim Turun Drastis, SMA Justru Melonjak

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Seputar Kaltim

    16 Februari 2026 05:44 WIB

    Sepanjang 2025, tren pengangguran menunjukkan dinamika berbeda antara pendidikan umum dan vokasi. (Foto: ChatGPT/AI)

    Samarinda - Fenomena menarik terjadi dalam peta ketenagakerjaan Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2025.

    Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan pergeseran tren yang signifikan, yakni lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kini lebih cepat terserap dunia kerja dibandingkan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).

    Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai, mengungkapkan data mengejutkan per November 2025. Tingkat pengangguran lulusan SMA melonjak tajam menjadi 30,57 persen.

    Padahal, pada Februari 2025 angkanya masih di level 28 persen dan sempat turun ke 27 persen pada Agustus.

    Kondisi ini berbanding terbalik dengan lulusan SMK. Sempat berada di angka 17,25 persen pada Agustus, pengangguran lulusan SMK justru sukses ditekan turun menjadi 15,2 persen di bulan November 2025.

    "Kalau kita bicara kecenderungan, memang yang SMA ini ada tren peningkatan (pengangguran), sedangkan SMK dan Diploma ada kecenderungan turun," ujar Mas'ud Rifai.

    Mas'ud menganalisis, perbaikan serapan tenaga kerja lulusan SMK tidak lepas dari keberhasilan program link and match (keterhubungan dan kesepadanan) antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri.

    "Ketika banyak yang tidak match dengan industri, waktu tunggu mencari kerjanya lama. Tapi (data ini menunjukkan) proporsi pengangguran SMK mengecil, artinya link and match-nya mulai jalan," tambahnya.

    Hal ini sejalan dengan gencarnya program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim sepanjang tahun 2024-2025. Kabid Pembinaan SMK Disdikbud Kaltim, Surasa, dalam berbagai kesempatan menekankan fokus pemerintah pada transformasi tata kelola SMK dan penyelarasan kurikulum berbasis industri.

    Langkah konkret seperti sertifikasi profesi (LSP-P1), magang industri yang diperketat, hingga pembukaan jurusan baru yang relevan dengan IKN dan alat berat, tampaknya mulai membuahkan hasil nyata di data statistik akhir tahun ini.

    Sebaliknya, tingginya angka pengangguran SMA menjadi lampu kuning. Lulusan SMA yang secara kurikulum dipersiapkan untuk lanjut kuliah, seringkali kalah bersaing secara skill teknis ketika memutuskan langsung terjun ke pasar kerja.

    "Ini menjadi peringatan. Lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi berisiko terjebak menjadi pengangguran karena minimnya bekal keterampilan kerja dibandingkan rekan-rekan mereka di SMK," tambah analisis dari data tersebut.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Data BPS 2025: Pengangguran SMK di Kaltim Turun Drastis, SMA Justru Melonjak

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Seputar Kaltim

    16 Februari 2026 05:44 WIB

    Sepanjang 2025, tren pengangguran menunjukkan dinamika berbeda antara pendidikan umum dan vokasi. (Foto: ChatGPT/AI)

    Samarinda - Fenomena menarik terjadi dalam peta ketenagakerjaan Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2025.

    Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan pergeseran tren yang signifikan, yakni lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kini lebih cepat terserap dunia kerja dibandingkan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).

    Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai, mengungkapkan data mengejutkan per November 2025. Tingkat pengangguran lulusan SMA melonjak tajam menjadi 30,57 persen.

    Padahal, pada Februari 2025 angkanya masih di level 28 persen dan sempat turun ke 27 persen pada Agustus.

    Kondisi ini berbanding terbalik dengan lulusan SMK. Sempat berada di angka 17,25 persen pada Agustus, pengangguran lulusan SMK justru sukses ditekan turun menjadi 15,2 persen di bulan November 2025.

    "Kalau kita bicara kecenderungan, memang yang SMA ini ada tren peningkatan (pengangguran), sedangkan SMK dan Diploma ada kecenderungan turun," ujar Mas'ud Rifai.

    Mas'ud menganalisis, perbaikan serapan tenaga kerja lulusan SMK tidak lepas dari keberhasilan program link and match (keterhubungan dan kesepadanan) antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri.

    "Ketika banyak yang tidak match dengan industri, waktu tunggu mencari kerjanya lama. Tapi (data ini menunjukkan) proporsi pengangguran SMK mengecil, artinya link and match-nya mulai jalan," tambahnya.

    Hal ini sejalan dengan gencarnya program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim sepanjang tahun 2024-2025. Kabid Pembinaan SMK Disdikbud Kaltim, Surasa, dalam berbagai kesempatan menekankan fokus pemerintah pada transformasi tata kelola SMK dan penyelarasan kurikulum berbasis industri.

    Langkah konkret seperti sertifikasi profesi (LSP-P1), magang industri yang diperketat, hingga pembukaan jurusan baru yang relevan dengan IKN dan alat berat, tampaknya mulai membuahkan hasil nyata di data statistik akhir tahun ini.

    Sebaliknya, tingginya angka pengangguran SMA menjadi lampu kuning. Lulusan SMA yang secara kurikulum dipersiapkan untuk lanjut kuliah, seringkali kalah bersaing secara skill teknis ketika memutuskan langsung terjun ke pasar kerja.

    "Ini menjadi peringatan. Lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi berisiko terjebak menjadi pengangguran karena minimnya bekal keterampilan kerja dibandingkan rekan-rekan mereka di SMK," tambah analisis dari data tersebut.

    (Sf/Rs)