Dari Syair Kerajaan ke Panggung Erau, Fakta Menarik Tarsul Kutai

    Seputarfakta.com - Muhammad Anshori -

    Seputar Kaltim

    23 September 2025 10:19 WIB

    Tarsul yang dibuat oleh Saiful Anwar pada 2016 lalu. (Foto:M.anshori/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Banyak penampilan kesenian yang disuguhkan dalam acara Erau Adat Kutai 2025, salah satunya Tarsul. 

    Tarsul adalah kesenian lisan berupa nyanyian tradisional dari masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar). Tradisi lisan ini berkembang seiring berjalannya waktu dari wilayah hulu Kukar, bahkan peran pemuda di Kukar terhadap kesenian ini sangat diperlukan sebagai agen pelestarian budaya. 

    Kesenian ini berbentuk nyanyian dengan lirik seperti pantun, memuat pesan-pesan yang berisi ungkapan perasaan, permintaan, nasihat dan sopan santun. 

    Maestro Tarsul, Saiful Anwar menjelaskan tarsul merupakan syair yang diucapkan atau dilagukan mirip dengan pantun karena bersifat saling berbalasan. Setiap baitnya terdiri dari beberapa baris dengan pola rima tertentu.

    Isi tarsul mengandung nasihat kehidupan, terutama berkaitan dengan agama Islam dan kehidupan sosial budaya masyarakat Kutai.

    Tarsul juga sering digunakan dalam upacara keagamaan seperti perkawinan. Dua penarsul mewakili calon mempelai laki-laki dan perempuan untuk saling memberi nasihat sebagai bentuk bekal memasuki kehidupan baru. 

    Busu Syaiful juga menceritakan tentang sejarah tarsul, kesenian ini berawal dari syair yang diucapkan begitu saja di masa Kerajaan Kutai. Seiring perkembangan zaman, tarsul mulai dilantunkan dengan melodi khas, sering kali diiringi musik religius seperti gambus, ketipung, kendang dan biola. 

    Kata dia, penyebaran dan pelestarian tarsul kini terus berkembang pesat di kalangan masyarakat, khususnya para pemuda Kutai. Kini, kesenian ini terus dilestarikan melalui penampilan seniman dan dalam berbagai acara budaya seperti Erau. Tarsul dapat juga dipertandingkan. 

    Tarsul merupakan sebuah kesenian tradisional yang dulu dimainkan oleh sekelompok orang tua, kini telah berkembang menjadi kesenian yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian daerah dapat beradaptasi dengan zaman sambil tetap mempertahankan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

    Kesenian ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia melalui Surat Keputusan (SK) Kemendikbudristek Nomor 414/P/2022 tanggal 21 Oktober 2022.

    Ia berharap kepekaan dan peran pemuda dalam melestarikan kesenian daerah tetap terjaga. Pemuda harus menjadi pelindung sekaligus pewaris budaya lokal yang kian tergerus arus globalisasi. 

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Dari Syair Kerajaan ke Panggung Erau, Fakta Menarik Tarsul Kutai

    Seputarfakta.com - Muhammad Anshori -

    Seputar Kaltim

    23 September 2025 10:19 WIB

    Tarsul yang dibuat oleh Saiful Anwar pada 2016 lalu. (Foto:M.anshori/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Banyak penampilan kesenian yang disuguhkan dalam acara Erau Adat Kutai 2025, salah satunya Tarsul. 

    Tarsul adalah kesenian lisan berupa nyanyian tradisional dari masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar). Tradisi lisan ini berkembang seiring berjalannya waktu dari wilayah hulu Kukar, bahkan peran pemuda di Kukar terhadap kesenian ini sangat diperlukan sebagai agen pelestarian budaya. 

    Kesenian ini berbentuk nyanyian dengan lirik seperti pantun, memuat pesan-pesan yang berisi ungkapan perasaan, permintaan, nasihat dan sopan santun. 

    Maestro Tarsul, Saiful Anwar menjelaskan tarsul merupakan syair yang diucapkan atau dilagukan mirip dengan pantun karena bersifat saling berbalasan. Setiap baitnya terdiri dari beberapa baris dengan pola rima tertentu.

    Isi tarsul mengandung nasihat kehidupan, terutama berkaitan dengan agama Islam dan kehidupan sosial budaya masyarakat Kutai.

    Tarsul juga sering digunakan dalam upacara keagamaan seperti perkawinan. Dua penarsul mewakili calon mempelai laki-laki dan perempuan untuk saling memberi nasihat sebagai bentuk bekal memasuki kehidupan baru. 

    Busu Syaiful juga menceritakan tentang sejarah tarsul, kesenian ini berawal dari syair yang diucapkan begitu saja di masa Kerajaan Kutai. Seiring perkembangan zaman, tarsul mulai dilantunkan dengan melodi khas, sering kali diiringi musik religius seperti gambus, ketipung, kendang dan biola. 

    Kata dia, penyebaran dan pelestarian tarsul kini terus berkembang pesat di kalangan masyarakat, khususnya para pemuda Kutai. Kini, kesenian ini terus dilestarikan melalui penampilan seniman dan dalam berbagai acara budaya seperti Erau. Tarsul dapat juga dipertandingkan. 

    Tarsul merupakan sebuah kesenian tradisional yang dulu dimainkan oleh sekelompok orang tua, kini telah berkembang menjadi kesenian yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian daerah dapat beradaptasi dengan zaman sambil tetap mempertahankan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

    Kesenian ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia melalui Surat Keputusan (SK) Kemendikbudristek Nomor 414/P/2022 tanggal 21 Oktober 2022.

    Ia berharap kepekaan dan peran pemuda dalam melestarikan kesenian daerah tetap terjaga. Pemuda harus menjadi pelindung sekaligus pewaris budaya lokal yang kian tergerus arus globalisasi. 

    (Sf/Lo)