Seputar Kaltim

    Dari Sawit ke Energi Hijau, Kaltim Manfaatkan Enam Kilang Dorong Transisi Berkelanjutan

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    20 Oktober 2025 pukul 13:42 WITA

    Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur terus memantapkan diri sebagai motor penggerak energi hijau nasional. Dengan enam kilang (refinery) aktif dan potensi besar dari sektor pertanian, khususnya kelapa sawit, Kaltim dinilai siap memimpin transisi menuju energi baru terbarukan (EBT) yang berkelanjutan.

    Pemerintah Provinsi menargetkan bauran EBT mencapai 79 persen pada tahun 2045, melampaui target nasional yang berada di angka 70 persen. Target ambisius ini menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045, yang memprioritaskan pengembangan industri rendah emisi dan ramah lingkungan.

    Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, mengatakan transformasi energi merupakan langkah penting agar daerah penghasil sumber daya alam ini tidak terus bergantung pada batu bara dan gas alam.

    “Apakah 79 persen ini realistis? Kita harus optimis. Masalahnya bukan di kemampuan, tapi di kebijakan. Pajak karbon belum diterapkan, insentif EBT masih lemah. Ini yang harus kita benahi,” ujarnya.

    Sebagai tindak lanjut, Pemprov Kaltim telah menyiapkan 15 kegiatan ekonomi baru untuk menggantikan sektor pertambangan. Kegiatannya mencakup pengembangan industri Crude Palm Oil (CPO), bioenergi, listrik berbasis EBT, pangan, hingga industri kimia hijau.

    Bambang menjelaskan, enam kilang yang dimiliki Kaltim kini berperan penting dalam memperkuat bauran energi daerah. Selain itu, program B40 — pencampuran minyak sawit dengan bahan bakar fosil — tengah digencarkan untuk mempercepat transisi energi di sektor transportasi.

    “Program B40 ini momentum penting bagi Kaltim yang punya potensi sawit besar. Energi terbarukan bisa diintegrasikan dengan sektor pertanian dan industri lokal,” tambahnya.

    Ia berharap Kaltim mampu keluar dari ketergantungan pada sumber energi fosil dan menuju masa depan ekonomi hijau yang berdaya saing serta berkelanjutan.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Dari Sawit ke Energi Hijau, Kaltim Manfaatkan Enam Kilang Dorong Transisi Berkelanjutan

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    20 Oktober 2025 pukul 13:42 WITA

    Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur terus memantapkan diri sebagai motor penggerak energi hijau nasional. Dengan enam kilang (refinery) aktif dan potensi besar dari sektor pertanian, khususnya kelapa sawit, Kaltim dinilai siap memimpin transisi menuju energi baru terbarukan (EBT) yang berkelanjutan.

    Pemerintah Provinsi menargetkan bauran EBT mencapai 79 persen pada tahun 2045, melampaui target nasional yang berada di angka 70 persen. Target ambisius ini menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045, yang memprioritaskan pengembangan industri rendah emisi dan ramah lingkungan.

    Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, mengatakan transformasi energi merupakan langkah penting agar daerah penghasil sumber daya alam ini tidak terus bergantung pada batu bara dan gas alam.

    “Apakah 79 persen ini realistis? Kita harus optimis. Masalahnya bukan di kemampuan, tapi di kebijakan. Pajak karbon belum diterapkan, insentif EBT masih lemah. Ini yang harus kita benahi,” ujarnya.

    Sebagai tindak lanjut, Pemprov Kaltim telah menyiapkan 15 kegiatan ekonomi baru untuk menggantikan sektor pertambangan. Kegiatannya mencakup pengembangan industri Crude Palm Oil (CPO), bioenergi, listrik berbasis EBT, pangan, hingga industri kimia hijau.

    Bambang menjelaskan, enam kilang yang dimiliki Kaltim kini berperan penting dalam memperkuat bauran energi daerah. Selain itu, program B40 — pencampuran minyak sawit dengan bahan bakar fosil — tengah digencarkan untuk mempercepat transisi energi di sektor transportasi.

    “Program B40 ini momentum penting bagi Kaltim yang punya potensi sawit besar. Energi terbarukan bisa diintegrasikan dengan sektor pertanian dan industri lokal,” tambahnya.

    Ia berharap Kaltim mampu keluar dari ketergantungan pada sumber energi fosil dan menuju masa depan ekonomi hijau yang berdaya saing serta berkelanjutan.

    (Sf/Rs)