Cari disini...
Seputar Kaltim
Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo saat ditemui dalam aksi bersih-bersih sampah. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menilai kebiasaan memilah sampah dari rumah, menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi volume sampah yang selama ini menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Jika dilakukan secara konsisten oleh masyarakat, volume sampah yang masuk ke TPA diperkirakan dapat berkurang hingga 50 persen.
Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo menyampaikan, persoalan sampah tidak bisa lagi sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.
“Keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,”
ucap Bagus kepada media, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, Balikpapan telah memiliki berbagai regulasi yang mengatur pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan sampah hingga pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Namun, aturan tersebut tidak akan berjalan optimal tanpa perubahan perilaku masyarakat.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Kalau pemilahan sampah dilakukan sejak dari rumah, maka jumlah sampah yang dibuang ke TPA dapat berkurang secara signifikan,” jelasnya.
Ia menuturkan, sampah organik seperti sisa makanan dan daun dapat diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan untuk budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Sementara sampah anorganik dapat dipilah untuk didaur ulang, sehingga memiliki nilai ekonomi.
Langkah tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan pola lama yang hanya mengandalkan TPA sebagai tempat pembuangan akhir.
“Di tengah pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas ekonomi, kapasitas pengelolaan sampah perlu didukung dengan pengurangan sampah langsung dari sumbernya,” lanjutnya.
Tantangan itu semakin besar karena Balikpapan kini berperan sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara. Pertambahan jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan berpotensi meningkatkan produksi sampah setiap tahun.
Karena itu, Pemkot Balikpapan mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari rumah tangga, sekolah, komunitas hingga dunia usaha untuk membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah.
“Selain pengurangan sampah dari sumbernya, pemerintah juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik yang akan melayani kawasan Balikpapan Raya,” terangnya.
Wawali berharap proyek tersebut dapat membantu mengatasi persoalan sampah, sekaligus menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami ingin pengelolaan sampah tidak hanya selesai di tempat pembuangan, tetapi juga memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan energi,” tuturnya.
Pemkot Balikpapan juga telah menerbitkan surat edaran yang mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan memperkuat budaya gotong royong. Upaya itu dilakukan agar citra Balikpapan sebagai kota bersih dapat terus dipertahankan di tengah perkembangan kota yang semakin pesat.
Bagi pemerintah, menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar mempertahankan penghargaan, tetapi menjadi investasi jangka panjang untuk kualitas hidup generasi mendatang.
“Dengan perubahan kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dari rumah, target pengurangan sampah hingga 50 persen dinilai bukan hal yang mustahil untuk dicapai,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo saat ditemui dalam aksi bersih-bersih sampah. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menilai kebiasaan memilah sampah dari rumah, menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi volume sampah yang selama ini menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Jika dilakukan secara konsisten oleh masyarakat, volume sampah yang masuk ke TPA diperkirakan dapat berkurang hingga 50 persen.
Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo menyampaikan, persoalan sampah tidak bisa lagi sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.
“Keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,”
ucap Bagus kepada media, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, Balikpapan telah memiliki berbagai regulasi yang mengatur pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan sampah hingga pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Namun, aturan tersebut tidak akan berjalan optimal tanpa perubahan perilaku masyarakat.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Kalau pemilahan sampah dilakukan sejak dari rumah, maka jumlah sampah yang dibuang ke TPA dapat berkurang secara signifikan,” jelasnya.
Ia menuturkan, sampah organik seperti sisa makanan dan daun dapat diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan untuk budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Sementara sampah anorganik dapat dipilah untuk didaur ulang, sehingga memiliki nilai ekonomi.
Langkah tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan pola lama yang hanya mengandalkan TPA sebagai tempat pembuangan akhir.
“Di tengah pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas ekonomi, kapasitas pengelolaan sampah perlu didukung dengan pengurangan sampah langsung dari sumbernya,” lanjutnya.
Tantangan itu semakin besar karena Balikpapan kini berperan sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara. Pertambahan jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan berpotensi meningkatkan produksi sampah setiap tahun.
Karena itu, Pemkot Balikpapan mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari rumah tangga, sekolah, komunitas hingga dunia usaha untuk membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah.
“Selain pengurangan sampah dari sumbernya, pemerintah juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik yang akan melayani kawasan Balikpapan Raya,” terangnya.
Wawali berharap proyek tersebut dapat membantu mengatasi persoalan sampah, sekaligus menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami ingin pengelolaan sampah tidak hanya selesai di tempat pembuangan, tetapi juga memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan energi,” tuturnya.
Pemkot Balikpapan juga telah menerbitkan surat edaran yang mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan memperkuat budaya gotong royong. Upaya itu dilakukan agar citra Balikpapan sebagai kota bersih dapat terus dipertahankan di tengah perkembangan kota yang semakin pesat.
Bagi pemerintah, menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar mempertahankan penghargaan, tetapi menjadi investasi jangka panjang untuk kualitas hidup generasi mendatang.
“Dengan perubahan kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dari rumah, target pengurangan sampah hingga 50 persen dinilai bukan hal yang mustahil untuk dicapai,” pungkasnya.
(Sf/Rs)