Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan - Pola penyakit masyarakat di Kota Balikpapan kini mengalami perubahan. Jika sebelumnya Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) menjadi kasus terbanyak, kini penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes justru menduduki peringkat tertinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati mengatakan ISPA masih ditemukan, terutama pada masyarakat yang sensitif terhadap suhu dingin. Konsumsi minuman es pada individu dengan alergi dingin, misalnya dapat memicu reaksi tubuh, sehingga keluhan pernapasan lebih mudah muncul. Namun dalam beberapa waktu terakhir, tren tersebut mulai bergeser.
“Kasus ISPA memang masih ada dan sempat mendominasi. Namun belakangan terlihat tren mulai berubah. Penyakit seperti hipertensi dan diabetes justru meningkat dan masuk kategori tertinggi,” ucap Alwiati, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, peningkatan kasus penyakit tidak menular erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Pola makan tinggi gula, garam dan lemak menjadi faktor utama.
Selain itu, kebiasaan makan berlebihan setelah berpuasa juga dinilai memicu lonjakan kadar gula darah, khususnya bagi penderita diabetes yang tidak disiplin menjaga pola makan sesuai anjuran medis. Minimnya aktivitas fisik dan meningkatnya konsumsi makanan instan turut memperbesar risiko munculnya penyakit kronis.
“Jika kondisi ini tidak dikendalikan, beban layanan kesehatan dikhawatirkan akan semakin berat dalam jangka panjang,” lanjutnya.
Untuk menekan angka kasus, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui DKK menggencarkan edukasi pencegahan penyakit tidak menular.
Upaya tersebut meliputi kampanye pola makan sehat, pemeriksaan tekanan darah gratis di fasilitas kesehatan, hingga penyuluhan pengendalian gula darah. Alwiati menegaskan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama.
“Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Mulailah dari langkah sederhana, seperti mengurangi konsumsi gula berlebih, menjaga pola makan, rutin berolahraga dan memeriksakan kesehatan secara berkala,” tegasnya.
Perubahan perilaku dan disiplin menerapkan pola hidup sehat, diharapkan tren peningkatan hipertensi dan diabetes di Balikpapan dapat ditekan, sehingga masyarakat tetap produktif dan berkualitas.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan - Pola penyakit masyarakat di Kota Balikpapan kini mengalami perubahan. Jika sebelumnya Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) menjadi kasus terbanyak, kini penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes justru menduduki peringkat tertinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati mengatakan ISPA masih ditemukan, terutama pada masyarakat yang sensitif terhadap suhu dingin. Konsumsi minuman es pada individu dengan alergi dingin, misalnya dapat memicu reaksi tubuh, sehingga keluhan pernapasan lebih mudah muncul. Namun dalam beberapa waktu terakhir, tren tersebut mulai bergeser.
“Kasus ISPA memang masih ada dan sempat mendominasi. Namun belakangan terlihat tren mulai berubah. Penyakit seperti hipertensi dan diabetes justru meningkat dan masuk kategori tertinggi,” ucap Alwiati, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, peningkatan kasus penyakit tidak menular erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Pola makan tinggi gula, garam dan lemak menjadi faktor utama.
Selain itu, kebiasaan makan berlebihan setelah berpuasa juga dinilai memicu lonjakan kadar gula darah, khususnya bagi penderita diabetes yang tidak disiplin menjaga pola makan sesuai anjuran medis. Minimnya aktivitas fisik dan meningkatnya konsumsi makanan instan turut memperbesar risiko munculnya penyakit kronis.
“Jika kondisi ini tidak dikendalikan, beban layanan kesehatan dikhawatirkan akan semakin berat dalam jangka panjang,” lanjutnya.
Untuk menekan angka kasus, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui DKK menggencarkan edukasi pencegahan penyakit tidak menular.
Upaya tersebut meliputi kampanye pola makan sehat, pemeriksaan tekanan darah gratis di fasilitas kesehatan, hingga penyuluhan pengendalian gula darah. Alwiati menegaskan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama.
“Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Mulailah dari langkah sederhana, seperti mengurangi konsumsi gula berlebih, menjaga pola makan, rutin berolahraga dan memeriksakan kesehatan secara berkala,” tegasnya.
Perubahan perilaku dan disiplin menerapkan pola hidup sehat, diharapkan tren peningkatan hipertensi dan diabetes di Balikpapan dapat ditekan, sehingga masyarakat tetap produktif dan berkualitas.
(Sf/Lo)