Seputar Kaltim

    Dari Desa Libur Dinding ke Barisan Paskibraka Paser, Kisah Novi Anak Petani

    Penulis:Padliannor|Redaktur:Lodya A
    17 Agustus 2026 pukul 14:24 WITA

    Anggota Paskibraka Kabupaten Paser, Novi Anggraini. (Foto: Dok. Novi Angraeni)

    Tana Paser - Upacara pengibaran bendera Merah Putih di setiap daerah selalu memiliki cerita perjuangan tersendiri dari Anggota Pasukan Pengibar Bendera Merah Putih (Paskibraka) dalam menembus barisan terdepan pengibar bendera pusaka.

    Cerita yang mencuri perhatian salah satunya datang dari seorang remaja putri asal Desa Libur Dinding, Kecamatan Muara Samu, Kabupaten Paser yang mampu menjadi salah satu Anggota Paskibraka Kabupaten Paser.

    Ia adalah Novi Angraeini. Remaja yang lahir di sebuah desa berjarak sekitar 90 menit dari ibu kota Kabupaten Paser itu, kini berusia 16 tahun dan sedang duduk di kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Muara Samu.

    Meskipun tumbuh dalam keterbatasan geografis, tekad dan semangatnya tidak pernah surut untuk dapat berdiri tegak mengibarkan Sang Saka Merah Putih di tingkat kabupaten.

    Novi tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang sederhana. Ayahnya, Johansyah merupakan seorang petani dan ibunya, Nor Yati berperan sebagai ibu rumah tangga yang sesekali membantu perekonomian keluarga dari hasil berkebun.

    Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, Novi dididik untuk terus selalu disiplin, bekerja keras dan pantang menyerah dalam mengejar apa yang ia cita-citakan.

    Ketertarikannya terhadap dunia paskibraka diawali dari rasa penasaran dan mengikuti jejak beberapa temannya, hingga akhirnya membuatnya terjun ke ekstrakurikuler Pramuka dan Latihan Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB) di sekolah.

    Berkat postur tubuh yang tegap, kedisiplinan dan tekad yang tinggi membuat pelatih ekstrakurikuler kala itu melihat potensi yang besar dalam diri Novi. Hal itu menjadi salah alasan dipilihnya ia menjadi Anggota Paskibraka Kecamatan Muara Samu sebagai pembawa baki di 2025.

    Hal tersebut juga membuka jalan bagi Novi untuk bisa tembus dalam seleksi Paskibraka Kabupaten Paser 2026.

    "Awalnya saya cuma ikut-ikutan teman di ekstrakurikuler Pramuka dan LKBB. Kemudian, 2025 saya ikut seleksi paskibraka tingkat kecamatan dan dipercaya membawa baki. Alhamdulillah tahun ini menjadi paskibraka Kabupaten Paser," kata Novi Angraeini, Senin (17/8/2026).

    Kabar lolosnya Novi sebagai Anggota Paskibraka Kabupaten Paser sontak saja menghebohkan keluarga besar SMA 1 Muara Samu dan warga Libur Dinding. 

    Keberhasilannya membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas dan letak geografis bukan menjadi alasan yang membatasi remaja di pelosok desa untuk meraih prestasi setinggi-tingginya.

    Novi mendedikasikan momen pengibaran bendera Merah Putih di Halaman Kantor Bupati Paser. Prestasi ini ia persembahkan untuk kedua orang tuanya, serta para guru yang selalu mendukung dan mendoakannya.

    "Saya ingin buktikan anak desa juga dapat berdiri di barisan depan untuk negara," ucapnya dengan raut wajah menahan air mata.

    Semangat dan tekad yang ditunjukkan Novi menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah halangan bagi anak desa untuk terlibat aktif dalam peran kenegaraan. Dengan semangat, kedisiplinan, dan tekad yang kuat, ia mampu menunjukkan bahwa siapa pun memiliki kesempatan untuk berkontribusi bagi bangsa.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Dari Desa Libur Dinding ke Barisan Paskibraka Paser, Kisah Novi Anak Petani

    Penulis:Padliannor|Redaktur:Lodya A
    17 Agustus 2026 pukul 14:24 WITA

    Anggota Paskibraka Kabupaten Paser, Novi Anggraini. (Foto: Dok. Novi Angraeni)

    Tana Paser - Upacara pengibaran bendera Merah Putih di setiap daerah selalu memiliki cerita perjuangan tersendiri dari Anggota Pasukan Pengibar Bendera Merah Putih (Paskibraka) dalam menembus barisan terdepan pengibar bendera pusaka.

    Cerita yang mencuri perhatian salah satunya datang dari seorang remaja putri asal Desa Libur Dinding, Kecamatan Muara Samu, Kabupaten Paser yang mampu menjadi salah satu Anggota Paskibraka Kabupaten Paser.

    Ia adalah Novi Angraeini. Remaja yang lahir di sebuah desa berjarak sekitar 90 menit dari ibu kota Kabupaten Paser itu, kini berusia 16 tahun dan sedang duduk di kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Muara Samu.

    Meskipun tumbuh dalam keterbatasan geografis, tekad dan semangatnya tidak pernah surut untuk dapat berdiri tegak mengibarkan Sang Saka Merah Putih di tingkat kabupaten.

    Novi tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang sederhana. Ayahnya, Johansyah merupakan seorang petani dan ibunya, Nor Yati berperan sebagai ibu rumah tangga yang sesekali membantu perekonomian keluarga dari hasil berkebun.

    Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, Novi dididik untuk terus selalu disiplin, bekerja keras dan pantang menyerah dalam mengejar apa yang ia cita-citakan.

    Ketertarikannya terhadap dunia paskibraka diawali dari rasa penasaran dan mengikuti jejak beberapa temannya, hingga akhirnya membuatnya terjun ke ekstrakurikuler Pramuka dan Latihan Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB) di sekolah.

    Berkat postur tubuh yang tegap, kedisiplinan dan tekad yang tinggi membuat pelatih ekstrakurikuler kala itu melihat potensi yang besar dalam diri Novi. Hal itu menjadi salah alasan dipilihnya ia menjadi Anggota Paskibraka Kecamatan Muara Samu sebagai pembawa baki di 2025.

    Hal tersebut juga membuka jalan bagi Novi untuk bisa tembus dalam seleksi Paskibraka Kabupaten Paser 2026.

    "Awalnya saya cuma ikut-ikutan teman di ekstrakurikuler Pramuka dan LKBB. Kemudian, 2025 saya ikut seleksi paskibraka tingkat kecamatan dan dipercaya membawa baki. Alhamdulillah tahun ini menjadi paskibraka Kabupaten Paser," kata Novi Angraeini, Senin (17/8/2026).

    Kabar lolosnya Novi sebagai Anggota Paskibraka Kabupaten Paser sontak saja menghebohkan keluarga besar SMA 1 Muara Samu dan warga Libur Dinding. 

    Keberhasilannya membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas dan letak geografis bukan menjadi alasan yang membatasi remaja di pelosok desa untuk meraih prestasi setinggi-tingginya.

    Novi mendedikasikan momen pengibaran bendera Merah Putih di Halaman Kantor Bupati Paser. Prestasi ini ia persembahkan untuk kedua orang tuanya, serta para guru yang selalu mendukung dan mendoakannya.

    "Saya ingin buktikan anak desa juga dapat berdiri di barisan depan untuk negara," ucapnya dengan raut wajah menahan air mata.

    Semangat dan tekad yang ditunjukkan Novi menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah halangan bagi anak desa untuk terlibat aktif dalam peran kenegaraan. Dengan semangat, kedisiplinan, dan tekad yang kuat, ia mampu menunjukkan bahwa siapa pun memiliki kesempatan untuk berkontribusi bagi bangsa.

    (Sf/Lo)