Seputar Kaltim

    Dari 57 Jadi 49 Titik, Hotspot Kutim Menurun, 30 Personel Yonif Tetap Siaga

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    10 September 2026 pukul 11:15 WITA

    Kepala BPBD Kutai Timur (Kutim), Sulastin, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali berkurang. Dari sekitar 57 titik yang sebelumnya terpantau, kini tersisa 49 titik berdasarkan pengecekan terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim.

    Kepala BPBD Kutim, Sulastin, mengatakan penurunan tersebut terlihat dari hasil pemantauan yang dilakukan pihaknya pada malam sebelumnya.

    “Kurang dari 57, tadi malam saya cek menjadi 49. Biasanya kan setiap titik itu dua sampai tiga, sekarang sisa satu,” ujar Sulastin.

    Meski jumlah hotspot menurun, ia menjelaskan BPBD masih melakukan pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran. Kejadian terbaru dilaporkan terjadi di Kecamatan Sangatta Selatan.

    Sementara itu, terdapat pula titik kejadian di kawasan Muara Ancalong. Namun, Sulastin menyebut kondisinya tidak terlalu signifikan.

    Sangatta Utara dan Sangatta Selatan masih menjadi wilayah dengan titik hotspot yang cukup banyak. Menurut Sulastin, kondisi tersebut berkaitan dengan karakter wilayah yang memiliki aktivitas pertambangan.

    “Yang paling banyak di Kecamatan Sangatta Utara, Sangatta Selatan. Di sini kan daerah tambang. Jadi titik hotspot itu walaupun belum ada El Nino sudah ada memang. Ditambah El Nino semakin banyak,” Katanya.

    Untuk mengantisipasi munculnya titik api baru, sebanyak 30 personel Batalyon Infanteri (Yonif) masih disiagakan di Kutim.

    Personel tersebut akan bertugas hingga penanganan selesai. Selain membantu penanganan ketika terjadi kebakaran, mereka juga melakukan patroli untuk memantau potensi titik api.

    “Jadi ada 30 personel itu kita pokoknya 24 jam. Setiap ada kejadian, kalau tidak mereka patroli,” katanya.

    Sulastin menilai penanganan kebakaran sejauh ini dapat dilakukan dengan cepat karena adanya kolaborasi lintas pihak.

    Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah kebakaran, termasuk dengan segera melaporkan apabila menemukan titik api.

    “Kita saling kolaborasi, termasuk media sering diinformasikan supaya masyarakat bisa bekerja sama dengan baik dengan kita semua,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Dari 57 Jadi 49 Titik, Hotspot Kutim Menurun, 30 Personel Yonif Tetap Siaga

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    10 September 2026 pukul 11:15 WITA

    Kepala BPBD Kutai Timur (Kutim), Sulastin, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali berkurang. Dari sekitar 57 titik yang sebelumnya terpantau, kini tersisa 49 titik berdasarkan pengecekan terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim.

    Kepala BPBD Kutim, Sulastin, mengatakan penurunan tersebut terlihat dari hasil pemantauan yang dilakukan pihaknya pada malam sebelumnya.

    “Kurang dari 57, tadi malam saya cek menjadi 49. Biasanya kan setiap titik itu dua sampai tiga, sekarang sisa satu,” ujar Sulastin.

    Meski jumlah hotspot menurun, ia menjelaskan BPBD masih melakukan pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran. Kejadian terbaru dilaporkan terjadi di Kecamatan Sangatta Selatan.

    Sementara itu, terdapat pula titik kejadian di kawasan Muara Ancalong. Namun, Sulastin menyebut kondisinya tidak terlalu signifikan.

    Sangatta Utara dan Sangatta Selatan masih menjadi wilayah dengan titik hotspot yang cukup banyak. Menurut Sulastin, kondisi tersebut berkaitan dengan karakter wilayah yang memiliki aktivitas pertambangan.

    “Yang paling banyak di Kecamatan Sangatta Utara, Sangatta Selatan. Di sini kan daerah tambang. Jadi titik hotspot itu walaupun belum ada El Nino sudah ada memang. Ditambah El Nino semakin banyak,” Katanya.

    Untuk mengantisipasi munculnya titik api baru, sebanyak 30 personel Batalyon Infanteri (Yonif) masih disiagakan di Kutim.

    Personel tersebut akan bertugas hingga penanganan selesai. Selain membantu penanganan ketika terjadi kebakaran, mereka juga melakukan patroli untuk memantau potensi titik api.

    “Jadi ada 30 personel itu kita pokoknya 24 jam. Setiap ada kejadian, kalau tidak mereka patroli,” katanya.

    Sulastin menilai penanganan kebakaran sejauh ini dapat dilakukan dengan cepat karena adanya kolaborasi lintas pihak.

    Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah kebakaran, termasuk dengan segera melaporkan apabila menemukan titik api.

    “Kita saling kolaborasi, termasuk media sering diinformasikan supaya masyarakat bisa bekerja sama dengan baik dengan kita semua,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)